
"Akhirnya aku sudah bisa pulang." Agna membentangkan kedua tangannya tepat di depan rumah utama.
"Ayo kita masuk, Papi sudah menunggu kita di dalam." Darren mengajak Agna masuk. Laki-laki itu juga terlihat menggendong Nawa juga membawa tas yang berisi pakaian Agna dan pakaian sang putra. "Ingat pesan Dokter kalau kamu harus istirahat yang cukup, biar ART saja yang mengerjakan semuanya."
"ART?" Agna bingung pada saat Darren menyebut ART padahal selama ini keduanya sudah sepakat kalau mereka tidak akan menyewa ART. Tapi sekarang Darren sendiri yang menyebut ART yang akan mengerjakan semua pekerjaan rumah.
"Atas permintaan Papi, katanya dia kasihan sama kamu yang harus mengerjakan pekerjaan rumah sendirian, disaat kamu juga harus mengurus Nawa sambil kuliah. Begitu juga harus mengurus aku dan Papi." Darren berusaha memberikan pengertian pada sang istri supaya tidak salah paham. "Tidak apa-apa ya, aku mempekerjakan ART? Maaf juga aku memberitahumu disaat ART itu bekerja sudah lima hari di rumah ini."
"Dimana ART itu sekarang?" tanya Agna.
"Ada di dalam, mungkin dia sekarang sedang menyiapkan makan siang untuk Papi. Ayo kita masuk, aku akan perkenalkan kamu dengannya. Dia itu sangat baik, ramah juga. Makanya aku memilihnya untuk menjadi ART meski banyak sekali yang mendaftar." Darren terlihat sangat antusias sekali menceritakan sosok ART itu. "Aku menerimanya juga karena dia memiliki bayi, kira-kira usianya sama seperti Nawa."
"Lalu kenapa Om suami menerimanya? Jika dia memiliki bayi. Pasti dia sangat lelah sekali jika harus bekerja sambil menjaga bayinya. Kasihan sekali." Agna mulai merasa penasaran dengan ART yang Darren ceritakan padanya.
"Justru dia bekerja demi bayinya, demi bisa membeli sufor karena dia tidak memiliki banyak asi sepertimu, Sayang. Dia wanita yang pekerja keras. Apapun akan dia lakukan demi bayinya." Entah Darren tahu dari mana sehingga ia bisa menceritakan semuanya pada Agna sedetail mungkin seperti saat ini.
"Apa dia memiliki suami?" Agna penasaran sehingga ia menanyakan tentang suami ART itu.
"Biar lebih jelas, Bi Maria yang akan menceritakan semuanya kepadamu. Supaya kamu tahu semuanya. Nawa juga terlelap di dalam gendonganku, aku harus cepat membawanya ke kamar kita." Darren lalu terlihat masuk mendahului Agna yang masih saja betah berdiri sambil mencerna apa yang dari tadi Darren katakan.
"Oh, namanya Bi Maria," gumam Agna sambil mengikuti sang suami dari belakang. "Aku ingin bertemu dengannya, sepertinya dia orangnya baik sehingga Om Suami antusias seperti itu pada saat ia menceritakannya."
***
__ADS_1
"Bi kenalkan ini istri saya." Darren terdengar memperkenalkan Agna pada asisten rumah tangga yang baru saja bekerja lima hari di rumah utama itu. Namanya Maria.
"Siang menjelang sore Nyonya, kenalkan nama saya Maria. Nyonya bisa panggil saya Mar atau Ria." Maria terlihat tertunduk tanda menghormati Agna yang saat ini sedang duduk di sofa sambil memberikan Nawa asi.
"Bi Mar saja, dan kenalkan saya Agna." Agna mengulurkan tangannya.
"Maaf Nyonya tangan saya kotor tadi habis bersih-bersih di taman belakang atas permintaan Tuan besar." Maria terlihat menunjukkan kedua telapak tangannya yang memang benar sangatlah kotor. Asisten rumah tangga itu juga tahu bahwa pasti Agna begitu sangat menjaga kebersihan. Sehingga ia tidak berani sembarangan berjabat tangan dengan Agna. Mengingat Darren juga adalah dokter yang begitu menjunjung tinggi kebersihan.
"Ah baiklah, Bibi mandi saja dulu. Baru kita akan ngobrol-ngobrol lagi." Senyum di bibir Agna tidak pernah pudar karena ia melihat bahwa Maria adalah wanita yang benar-benar tulus. Agna juga baru kali ini merasa kasihan dengan seorang ART.
"Benar Bibi pergi mandi saja dulu, supaya Bibi juga bisa gendong Nawa. Hitung-hitung biar Bibi terbiasa menggendong Nawa karena bayi enam bulan ini sangat sulit sekali bisa digendong oleh orang yang baru dia lihat." Darren ikut membuka suara.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi." Maria mundur beberapa langkah setelah itu ia berbalik lalu pergi dari sana.
"Perasaanmu saja Sayang, ya udah kalau begitu aku berangkat ke rumah sakit dulu. Kamu sama Nawa jangan kemana-mana ya, tanpa seizinku." Darren mencium kening Agna, hal yang selalu saja laki-laki itu lakukan pada saat ia akan berangkat kerja.
"Nggak Om suami, sepertinya aku benar-benar sudah melihat dua bola mata milik Bi Mar. Pada seseorang yang sudah sempat singgah di hati ini." Tiba-tiba saja Agna menjadi mengingat Dave. Laki-laki yang dulu sempat ia suka.
"Sudahlah, jangan mengingat masa lalu. Aku tidak suka mendengarnya. Kamu cuma cukup mengingat aku dan Nawa, selain itu lupakan serta hilangkan dari ingatanmu. Apa kamu paham Sayang?"
Agna mengangguk untuk meyakinkan Darren. Meski saat ini ia masih saja memikirkan tentang Dave gara-gara ia terlalu memperhatikan bola mata milik asisten rumah tangganya itu.
"Sana pergilah, anggap saja yang tadi aku salah lihat saja. Jangan berpikir kalau aku mengingat masa lalu. Padahal masa lalu itu untuk dilupakan bukan malah untuk dikenang.".
__ADS_1
"Ya … ya … ya, kau benar sekali Sayang. Malam ini jangan lupa pakai baju dinasnya. Supaya nanti malam aku semangat untuk pulang."
"Ih me sum." Agna melempari Darren dengan bantal sofa. Dengan pipi yang sudah merah seperti kepiting yang sudah direbus.
***
Tepat pu kul 02.30 WIB. Darren dan Agna baru saja selesai menyelesaikan ritual yang sempat tertunda gara-gara masalah yang datang bertubi-tubi.
"Terima kasih Sayang." Darren mencium Agna beberapa kali karena malam ini adalah malam pertama bagi kedua insan itu setelah sekian lamanya Darren sakit. "Sungguh kenikmatan dunia yang tiada duanya. Sekali lagi terima kasih Sayang, terima kasih cintaku."
"Aku ngantuk, Om suami jangan nambah lagi. Sudah cukup untuk malam ini." Agna terdengar merengek karena ia pikir Darren akan mau nambah lagi.
"Aku tidak mau nambah lagi sayang, sudah sangat cukup untuk malam ini karena masih ada malam-malam lainnya." Darren lalu memeluk tubuh Agna yang kini sedang berbaring menghadap dirinya. "Kita lakukan ini setiap malam supaya adeknya Nawa cepat jadi. Gimana apa Sayang setuju?"
"Terserah Om suami saja karena mataku ini benar-benar terasa sangat berat sekali. Aku juga takut nanti Nawa keburu bangun sebelum aku sempat memejamkan mata."
"Putra kita sudah kenyang, dia tidak akan mungkin bangun. Sekarang pejamkanlah matamu. Seandainya nanti kalau Nawa bangun aku sendiri yang akan menggendongnya kamu tenang saja." Darren semakin erat memeluk tubuh sang istri. "Besok pagi kalau kita sarapan jangan lupa tutupi lehermu karena tadi aku tidak tahan saat melihatnya."
"Itu hal yang sudah biasa. Jadi, untuk apa Om suami harus malu?" Meski ia merasa sangat ngantuk Agna masih sempat-sempatnya menimpali sang suami.
"Sayang, kita sekarang tinggal di rumah utama. Beda halnya dengan yang dulu. Kita tinggal berdua tidak ada yang melihatnya. Kalau sekarang bisa-bisa Papi melihatnya, terus mau di taruh di mana mukaku ini?"
Bukannya membalas sekarang suara dengkuran halus mulai terdengar menandakan bahwa Agna sudah terlelap.
__ADS_1
"Dia sudah tidur. Ah sudahlah ... selamat beristirahat istriku semoga mimpi yang indah." Darren meraih selimut, kemudian ia menutup tubuh Agna dan tubuhnya yang sama-sama polos.