
Terlihat Agna dan Darren sedang menemani buah hati mereka yang akan meniup lilin ulang tahun.
"Jangan lupa doa yang baik-baik untuk Nawa sebelum meniup lilinnya." Ranum yang berdiri di sebelah Agna mengingatkan sang putri. "Kamu juga Ren." Ranum beralih menatap menantunya.
"Iya Bun." Agna dan Darren serempak menimpali Ranum.
Tidak berselang lama terdengar suara semua orang yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Nawa. Balita satu tahun yang tampak riang ketika melihat kue yang di tengah-tengahnya ada lilin.
Nawa juga terlihat ikut bertepuk tangan membuat semua orang menjadi gemas sendiri melihat balita yang sangat gemoy itu.
Beberapa detik setelah lagu selamat ulang tahun sudah selesai dinyanyikan. Kini Agna menyuruh putranya untuk meniup lilinnya.
"Ayo, tiup lilinnya Nawa." Senyum wanita yang saat ini tengah hamil itu terlihat begitu sangat menawan. "Tiup lilinnya sayang sekarang juga." Meski rasa mual melandanya Agna tetap berusaha terlihat tenang karena ia tidak mungkin menghancurkan momen bahagia ini gara-gara dirinya yang tiba-tiba saja merasa mual lagi.
"Sayang, kamu kenapa? Apa kamu merasa mual lagi?" Darren bertanya pada sang istri dengan cara sedikit berbisik supaya tidak ada orang lain yang mendengarnya.
"Iya Om suami, tapi tidak apa-apa. Kita lanjutkan saja acaranya. Kasihan teman-teman Nawa serta orang tua mereka yang sudah hadir, aku takut mereka nanti malah akan menjadi kecewa gara-gara aku ini." Agna rupanya masih sempat-sempatnya memikirkan orang lain disaat dirinya dalam keadaan seperti ini. "Jangan bahas ini lagi, lebih baik kita lanjutkan acara ini supaya cepat selesai jangan sampai para tamu undangan nanti pulangnya agak kemalaman."
"Tapi kamu yakin 'kan, Sayang kalau kamu baik-baik saja. Nanti tidak akan terjadi masalah." Darren memastikan pada saat ia melihat keringat mulai bercucuran di pelipis Agna.
"Aku oke Om suami, jangan khawatir." Agna meyakinkan Darren.
"Bagaimana kalau kamu istirahat saja, Nawa biar sama Bunda. Apa kamu setuju?" Darren saat ini merasa khawatir takut jika saja Agna nanti malah akan pingsan di tengah-tengah acara karena ibunya Nawa itu mungkin saja kecapekan.
__ADS_1
"Kita lanjut, aku oke. Jangan rusak acara putra kita. Om suami tolong mengerti."
"Apa yang kalian obrolkan? Di saat Nawa akan mulai memotong kuenya setelah tadi lilinnya ditiup." Ranum yang dari tadi memperhatikan anak serta menantunya mulai merasa kepo dengan apa yang di bicarakan dari tadi. "Na, Ren. Apa ada masalah?"
"Bun, Agna merasa mual. Aku takut nanti di–" Kalimat Darren terputus karena Agna memotongnya.
"Ini hal yang biasa Bun, jangan pikirkan itu lagi lebih baik kita lanjut." Agna kemudian menuntun tangan putranya untuk memotong kue sesaat setelah ia mengatakan itu.
"Na, kalau mual di sertai rasa pusing kasih tahu Bunda secepatnya," kata Ranum sambil mengelus lengan putrinya. Ia berusaha untuk memeberikan sedikit kekuatan untuk Agna. Supaya tidak ada kejadian yang tidak di inginkan terjadi pada wanita yang sedang hamil anak ke tiga itu.
"Pasti Bun, maka dari itu Bunda jangan jauh-jauh dari putri Bunda yang masih sangat manja ini. Meskipun sudah akan memiliki tiga anak." Agna nyengir sehingga deretan giginya yang putih dan rapi terlihat sangat jelas.
"Kamu tetap putri kecil Bunda sampai kapanpun itu. Tidak peduli mau cucu Bunda 3 bahkan 5." Ranum tertawa renyah pada saat ia mengatakan itu.
"Akhirnya acaranya sudah selesai dan berjalan dengan sangat lancar." Ranum mengatakan itu pada saat ia dan Agna sedang duduk berdua.
"Iya Bun, aku juga bisa bernafas lega karena hal yang tidak diinginkan tidak terjadi padaku." Satu gelas jahe hangat Agna minum, menemani dirinya yang sedang berbincang santai dengan sang ibunda.
"Ngomong-ngomong kok Bunda dari tadi tidak melihat keberadaan Saras, apa anak itu tidak jadi datang? Padahal kedua orang tuanya juga datang sebelum acaranya tadi belum dimulai." Ranum celingak-celinguk mencari keberadaan anak sahabatnya itu. "Apa jangan-jangan kamu tidak memberitahunya?"
"Sebenarnya ada masalah Bun, mungkin itu yang membuat Saras tidak datang." Agna sebenarnya tidak memiliki niat untuk membahas masalah Saras dan Darius. Tapi karena Agna merasa bahwa mungkin saja Ranum memiliki sebuah solusi membuatnya harus menceritakan semuanya pada sang ibu.
"Masalah, apa kamu bertengkar dengannya?" Ranum malah berpikiran sampai sejauh itu. "Membuat Saras tidak datang ke acara ulang tahun Nawa ini."
__ADS_1
"Bun, aku tidak bertengkar dengan Saras. Tapi …." Agna menjeda kalimatnya sambil terdengar menghela nafas.
"Katakanlah, biar Bunda tahu apa alasan Saras tidak datang ke sini." Ranum benar-benar penasaran saat ini tentang Saras karena ia tahu gadis itu tidak biasanya seperti ini.
"Saras merajuk karena Darius tidak mau menikahinya. Padahal Darius sudah berjanji untuk menikah dengannya. Tapi laki-laki itu malah ingkar janji." Agna berbicara sedikit pelan karena ia takut jika saja Bagas ataupun Sonia mendengar apa yang saat ini ia katakan. "Menurut Bunda siapa yang salah dalam hal ini?"
"Saras ingin menikah tapi Darius menolaknya. Ini sepertinya ada yang aneh Agna karena setahu Bunda, Darius sangat mencintai Saras sehingga sangat mustahil sekali dia menolak untuk menikah dengan Saras." Ranum berusaha menebak-nebak di dalam benaknya saat ini. "Apa kamu tahu alasan Darius?"
"Darius selalu saja bilang belum siap Bunda. Padahal kata Om suami, Darius sudah mengumpulkan banyak sekali uang untuk biaya pernikahannya dengan Saras. Tapi …entahlah aku juga tidak tahu kebenarannya tentang masalah kedua anak itu. Huh, memikirkan mereka saja membuatku menjadi berpikiran seperti Bunda bahwa semua ini benar-benar ada yang aneh."
Ranum diam sejenak karena ia sepertinya sedang mengingat-ngingat.
"Bun." Agna tiba-tiba saja memanggil Ranum yang sedang melamun.
"Ah, iya. Ada apa Agna?"
"Apa benar Saras ingin dijodohkan? Seperti apa yang dia katakan olehnya ketika Darius menyuruhnya untuk fokus dalam bekerja." Agna sangat peduli dengan Saras sehingga dirinya merasa harus meluruskan hal yang memang sedikit harus perlu diluruskan. Supaya Saras dan Darius bisa bersatu jiwa serta raga mereka.
"Ini pasti ada kaitannya dengan Darius yang selalu saja memiliki alasan ketika Saras mengajaknya untuk menikah. Bunda sesekali pernah mendengar tentang Ayah kamu dan Om Bagas membahas masalah perjodohan. Apa jangan-jangan yang mereka bahas tentang perjodohan Saras." Kini Ranum mulai bisa menemukan sedikit petunjuk.
"Apa Om Bagas tidak merestui hubungan mereka?" Agna bertanya seraya tatapannya mengarah pada Darren yang menggendong Nawa.
"Good, kamu benar Agna, Om Bagas pasti tidak merestui hubungan mereka. Sehingga membuat Darius tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi kira-kira apa alasan Om Bagas tidak merestui hubungan mereka?" Ranum saat ini tidak pernah menyangka kalau saja Bagas menolak Darius untuk menjadi pendamping Saras. Padahal setahu Ranum, Darius itu baik sama seperti Darren.
__ADS_1
Agna mengangkat pundaknya. "Entahlah Bun, hanya Om Bagas yang tahu." Pada saat pandangan Agna beralih ke pintu utama tiba-tiba saja matanya malah melihat Saras yang datang bersama laki-laki yang tidak Agna kenal. "Bun, itu Saras." Detik berikutnya Agna dan Ranum langsung saja memfokuskan tatapan mereka ke Saras dan laki-laki yang bersama gadis itu. Mata Agna sampai-sampai tidak berkedip.