Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Sadar Dari Koma


__ADS_3

Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, pada akhirnya Agna, Ranum, dan Hugo sampai juga di depan ruangan rawat inap tempat Darren dipindahkan saat ini.


"Masuk gih, biar kami berdua tunggu kamu disini saja. Kebetulan di dalam ada Mami Alea," kata Hugo yang malah menyuruh Agna masuk ke dalam ruangan Darren. Hugo juga terlihat memberikan Ranum isyarat saat ini.


"Iya Sayang, kamu masuk sendiri saja ke dalam karena mungkin saja hanya dua orang yang diperbolehkan untuk masuk." Ranum melepaskan genggaman tangan Agna. "Nanti kalau Agna sudah masuk baru Bunda sama Pak Hugo. Bagimana apa Agna setuju?" Ranum mengatakan itu hanya untuk sekedar memastikan apakah Agna mau masuk sendiri ke dalam atau tidak.


"Aku akan masuk karena aku ini mau memarahi laki-laki itu." Agna lalu memegang gagang pintu setelah itu ia memutarnya sedikit sehingga membuat pintu itu langsung saja terbuka. Dan wanita hamil itu langsung saja mematung pada saat ia melihat Darren sudah benar-benar sadar dari komanya.


"Agna," panggil Alea saat wanita paruh baya itu melihat wanita yang tengah mengandung cucunya itu. "Sini Sayang, Darren dari tadi mencarimu," kata Alea yang terus saja mengukir senyum indah pada bibirnya.


Sedangkan Darren yang saat ini masih saja berbaring, rasanya laki-laki itu ingin bangun lalu berlari memeluk Agna karena mengetahui bahwa wanita itu masih hamil.


Namun, itu hanya sebuah imajinasi Darren saja dimana saat ini kedua kakinya malah tidak bisa digerakkan saking lamanya ia hanya berbaring ditambah bekas kecelakaan waktu itu.


"Mungkin kalian butuh waktu untuk berduaan, kalau begitu Mami keluar dulu." Sepertinya Alea tahu bahwa saat ini mungkin saja Darren dan Agna ingin berduaan.

__ADS_1


Mengingat kedua insan itu mungkin saja sedang dilanda rasa rindu karena Agna juga Darren sepertinya sudah mulai menyadari perasaan mereka masing-masing.


"Agna sini karena Mami mau keluar sebentar." Tangan Alea melambai ke arah Agna. "Mami juga kebetulan kebelet pipis." Wanita paruh baya itu terlihat berdiri dan melepaskan tangannya dari genggaman Darren. "Ren, Mami keluar sebentar." Sesaat setelah mengatakan itu Alea langsung saja beranjak keluar dari sana. Membawa perasaan yang begitu sangat senang karena putra semata wayangnya kini sudah benar-benar sadar dari koma.


Alea juga merasa bahwa doanya selama ini benar-benar didengar oleh Sang pencipta karena Alea tidak henti-hentinya dirinya mendoakan kesembuhan untuk sang putra, dan entah sudah beberapa air mata yang ia keluarkan untuk menangisi Darren selama laki-laki itu masih koma.


Clek! Suara pintu yang ditutup membuat Agna semakin melangkahkan kakinya dengan sangat lebar. Supaya dirinya bisa sampai di dekat bed Darren.


"Apa kabar?" tanya Darren pada saat Agna terlihat terus saja menatapnya. "Bagaimana kabar calon bayi kita juga?" Darren terdengar bertanya lagi.


"Jangan cemberut, nanti cantikmu malah hilang, lho," seloroh Darren yang mengulurkan tangan untuk mencubit hidung Agna. "Gimana, apa kamu baik-baik saja selama aku koma? Apa kamu juga tidak kecentilan dengan laki-laki lain?"


"Pertanyaan bodoh macam apa itu? Apa kamu tidak tahu hampir saja aku mati karena aku terus saja menyalahkan diriku sendiri tentang kecelakaan itu? Sekarang bisa-bisanya mulutmu yang lemas itu malah bertanya seperti itu padaku. Disaat aku terus saja menangis hampir setiap hari dan berdoa untuk kesembuhanmu." Air mata Agna menetes pada saat ia mengatakan itu semua karena ia tidak percaya bahwa laki-laki yang tadi sempat ia tangisi sekarang sudah sadar dari koma. "Kamu harus tau, hidupku tanpamu bagaikan taman tanpa bunga. Sehingga kamu bisa membayangkan bagaimana aku selama dua minggu ini yang malah rela bolak balik ke rumah sakit bersama Bunda. Bahkan Papa Hugo menjemputku jika Bunda tidak sempat mengantarku kesini."


"Jangan menangis, sudah cukup kamu meneteskan air mata untuk laki-laki sepertiku Agna." Tiba-tiba saja Darren malah berkata seperti itu. "Carilah kebahagiaanmu dengan laki-laki lain karena aku ini adalah laki-laki cacat yang tidak akan mungkin bisa membuatmu bahagia."

__ADS_1


"Bulls*t!" desis Agna. "Mana kata yang kamu ucapkan bahwa kita akan rujuk? Apa itu hanya kalimat penenang bagiku? Apa kamu hanya benar-benar ingin mempermainkanku saja?" Agna terus saja bertanya seperti itu pada Darren. "Bukannya sadar setelah apa yang terjadi. Eh, kamu malah menyuruhku mencari laki-laki lain. Dasar pengecut laki-laki plin-plan!" gerutu Agna.


"Agna, sekarang keadaanku begini. Untuk sekedar menggerakkan kakiku saja aku tidak bisa. Bagaimana bisa aku melangkah bersamamu membina rumah tangga yang samawa. Sedangkan kamu bisa melihat dengan jelas keadaanku sangat memprihatinkan seperti saat ini," ucap Darren yang kini malah merasa tidak cocok bersanding dengan wanita hamil itu. Ditambah Darren mendengar sendiri dari mulut Alea bahwa sekarang dirinya dalam pria impoten. Tentu saja itu semua membuat Darren menjadi merasa jika saja dirinya tidak akan bisa memuaskan Agna. Membuatnya malah menyuruh Agna mencari laki-laki lain.


"Untuk hak asuh, aku serahkan juga padamu, dan rawat bayi kita bersama laki-laki manapun pilihanmu itu karena aku akan menerima keputusan apa saja yang akan kamu ambil." Dengan hati yang berusaha Darren kuatkan, laki-laki itu mencoba untuk tersenyum. "Agna apa kamu mendengar apa yang aku katakan?"


"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan dirimu apapun yang terjadi. Meskipun kamu cacat aku tidak pedulikan akan hal itu. Sekarang aku akan memanggil kedua orang tua kita supaya mereka bisa menjadi saksi kalau kita akan rujuk," ucap Agna penuh keyakinan. "Rasa cinta dan sayangku sudah besar seperti ini padamu, tapi kamu malah menyuruhku untuk berpaling, tidak semudah itu Darren pokoknya kamu harus membalas rasa cintaku ini. Egois, memang aku harus egois untuk hal ini."


"Agna, aku cuma mau kamu dan anak kita nanti bahagi–"


"Cukup Darren, Aku tidak akan bahagia jika tidak bersamamu, titik bukan koma!" potong Agna dengan nada suara ketus. "Aku akan panggil kedua orang tua kita." Sesaat setelah mengatakan itu Agna langsung saja keluar dari ruangan itu karena ia benar-benar ingin memanggil orang tuanya juga orang tua Darren.


"Agna aku laki-laki yang tidak bisa diandalkan, sehingga membuatku menyuruhmu untuk mencari laki-laki la–" Kalimat Darren terputus karena Agna yang kesal malah memanting pintu dengan sangat kasar. Membuat Darren terlihat mengelus dadanya.


Brukk!!

__ADS_1


__ADS_2