Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Membuka Mata


__ADS_3

"Sudah dua hari ini, Agna belum juga sadar Mas. Apa yang harus kita lakukan? Aku takut jika saja putri kita …." Ranum tidak sanggup melanjutkan kalimatnya lagi.


"Agna akan secepatnya membuka mata, Bunda, jangan berpikiran yang tidak-tidak." Al memanggil Ranum dengan sebutan bunda karena di sana bukan cuma mereka berdua saja yang menunggu Agna sadar.


"Sampai kapan Mas? Apa sampai stok susu yang ada di lemari pendingin habis? Lalu Nawa akan minum apa? Mengingat dia tidak suka dengan susu formula." Ranum saat ini dilanda oleh kegelisahan yang tidak kunjung usai. "Cucu kita bisa saja kelaparan dan kehausan. Oh cucuku kenapa nasipmu harus seperti ini?"


Al mengelus telapak tangan Ranum, sebab saat ini posisi mereka sedang duduk di kursi tunggu seperti biasa.


"Bunda, yakinlah Agna itu adalah wanita yang kuat sepertimu. Jadi, Mas minta berhenti memikirkan yang tidak-tidak karena itu semua bisa membuat kesehatan Bunda nantinya malah menjadi menurun. Terus kalau itu terjadi, siapa yang akan menjaga Nawa?"


"Mas tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini." Baru kali ini Ranum terdengar mengeluh dengan situasi yang dihadapi. Padahal wanita itu paling lapang hatinya jika ia diuji. Tapi sekarang Ranum lebih banyak mengeluhnya, entah itu karena ia takut kehilangan putrinya dan juga takut jika saja cucunya tidak dapat meminum asi. Mengingat susu yang ada di lemari pendingin tinggal beberapa botol kecil saja. Sehingga membuat seorang Ranum lupa jika dirinya adalah sosok manusia paling sabar. "Jika begini terus, kita bawa saja Agna berobat ke luar negeri. Kasihan Nawa jika dia terus saja di batasi minum asi seperti saat ini." Pandangan Ranum beralih menatap Darren yang sedang menggendong Nawa.


"Dokter saja memberikan Agna waktu satu minggu Bunda, jika satu minggu itu lewat baru kita boleh merasa was-was. Untuk sekarang kita tunggu saja kabar baik itu akan datang." Al tahu bahwa Ranum akan terus seperti ini jika Agna masih belum sadar. "Sekarang kita pergi cari udara segar dulu, supaya pikiran Bunda jauh lebih fresh seperti sebelum-sebelumnya. Jujur saja untuk saat ini Bunda terlihat seperti orang lain, tidak seperti Bunda yang selalu berkata bijak dalam keadaan serta kondisi apapun."


"Anak kita Mas, anak kita masih saja memejamkan matanya. Bagaimana bisa seorang Ibu akan merasa tenang?" Ranum menggeleng dengan sangat kuat. "Lihatlah Nawa Mas, betapa rindunya dia dengan Agna. Nawa rindu dengan suara ibunya, bayi enam bulan itu juga rindu meminum asi langsung dari sumbernya. Membuat dada ini selalu saja merasa sesak Mas, tatkala aku ini melihat kedua bola mata cucu kita yang putih bersih. Aku merasa dia mengisyaratkan bahwa dia benar-benar merindukan ibunya yang entah kapan akan membuka mata."


"Wajar saja karena ikatan batin ibu dan anak itu begitu kuat. Sama seperti Bunda dan Agna. Kita juga tidak bisa menyalahkan takdir, sebab takdir itu tidak pernah salah." Al berusaha memberikan pengertian kepada Ranum yang semakin kesini bicaranya semakin tidak karuan. "Ayo, lebih baik kita cari udara segar seperti apa yang tadi sempat kukatakan. Lagipula di sini sudah ada, Saras, Bagas, Darren, Darius, dan besan kita Pak Hugo."

__ADS_1


Ranum menghela nafas, wanita itu juga beberapa kali meminta maaf di dalam benaknya pada Sang pencipta karena ia merasa sifatnya saat ini seperti menentang takdir.


"Baiklah, kalau begitu kita pergi cari udara segar." Ranum lalu berjalan pergi dari sana setelah tadi ia sempat mencolek pipi sang cucu yang terlihat terlelap di dalam gendongan Darren.


Rupaya bayi enam bulan itu sudah pulih meski belum sepenuhnya, terlihat dari tangannya yang masih menempel selang infus.


"Ayah pergi dulu sama Bunda, nanti kalau ada kabar baik langsung saja hubungi Ayah secepatnya." Al berpesan pada Darren, jika ada kabar baik ia menyuruh menantunya itu untuk segera menghubunginya. "Nawa juga kalau sudah terlelap antar saja ke ruang rawat inapnya karena dia masih sangat butuh istirahat yang cukup. Supaya dia cepat kembali pulih seperti sedia kala."


"Baik Ayah." Darren menimpali sambil melihat punggung Al dan Ranum semakin menjauh.


"Hari-hari yang aku lalui tanpamu sangatlah berat. Tidakkah kamu berniat untuk membuka mata walau sebentar saja, supaya pikiran buruk di dalam otakku ini menghilang." Darren terus saja berbicara meskipun ia tahu jika saja Agna tidak mungkin bisa mendengarnya. "Sayang, buka matamu karena saat ini putra kita ingin meminum asi langsung darimu. Di tambah stok susu yang ada di dalam lemari pendingin sudah hampir habis." Darren meraih tangan Agna, lalu ia terlihat menciumnya beberapa kali karena saat ini posisi laki-laki itu sedang ada di dalam kamar rawat inap sang istri. "Aku mohon buka matamu Sayang, Nawa putra kita sangat merindukan Mamanya. Begitu juga dengan aku yang merindukanmu."


Sudah 3 jam lamanya Darren di dalam ruangan itu, tapi tidak sedikitpun ia ingin beranjak pergi dari sana. Padahal hari ini ia memiliki jadwal operasi.


Tidak lama pada saat Darren terus saja mengajak Agna untuk berbicara terdengar suara Darius yang mengingatkannya tentang jadwal operasinya.


"Ren, jadwal operasi jangan lupa." Darius tiba-tiba saja terlihat memasukkan sedikit kepalanya di pintu yang terbuka setengah.

__ADS_1


"Aku ingin tetap di sini, aku tidak ingin bekerja di saat istriku masih tetap begini-gini saja belum ada perubahan sedikit pun." Darren menggeleng kuat pada saat ia mengatakan itu. "Tolong atas pengertian-mu Darius, bila perlu tuliskan aku surat izin libur untuk beberapa hari sampai istriku sadar."


"Tidak bisa Ren, pasienmu saat ini sudah menunggumu." Dengan kalimatnya itu Darius menolak permintaan Darren secara halus. "Aku dan Saras akan tetap di sini, kamu bisa meninggalkan Agna sebentar hanya untuk menyelamatkan nyawa orang yang saat ini ada di ruang operasi."


"Jika aku bilang tidak maka aku tidak akan pernah mau pergi dari sini Darius. Cobalah berada di posisiku saat ini pasti kamu juga akan melakukan hal yang sama sepertiku. Jadi, aku mohon atas pengertianmu."


"Ren, aku paham apa yang kamu katakan. Aku juga paham apa yang kamu rasakan, tapi jangan pernah libatkan pekerjaanmu dengan masalah pribadimu seperti ini. Cobalah menjadi manusia yang bertanggung jawab, apa kamu pikir Agna tidak sedih jika tahu kalau kamu mengabaikan keselamatkan orang lain?"


"Siapa kau Darius yang berani menentangku?!" Suara Darren menggema di ruangan itu. "Sehingga kau berani mengatakan itu semua! Apa kau pikir semudah itu mengoperasi pasien?" Kini Darren mendekati Darius. "Semua itu butuh konsentrasi Darius, jika aku mengoperasi pasien dalam keadaan begini maka yang ada pasien itu akan meninggal di tangganku. Apa sampai di sini kau belum paham?"


Saat Darren terus saja meninggikan suaranya pada Darius. Terlihat jari-jari Agna malah bergerak dan tidak lama ibunya Nawa itu membuka mata.


"Om suami ...." Suara Agna begitu lirih pada saat ia memanggil Darren.


💜💜


Lanjut, apa sampai disini? Jawab di kolom komentar ya, para pembaca setia Ayuza🥰

__ADS_1


__ADS_2