Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Membangunkan Om Suami


__ADS_3

Darren menyesal karena sudah mengatakan itu pada Agna, karena gara-gara mulutnya yang asal bicara kini Agna tidak mau membuka pintu kamarnya sendiri. Meskipun laki-laki itu sudah berulang kali menyuruh sang istri untuk membuka pintu itu.


"Na, Agna ... maafkan aku. Tadi itu aku hanya salah bicara saja, ayo buka pintunya dan untuk yang tadi aku benar-benar sangat minta maaf padamu." Darren mengetuk pintu kamar itu pelan. "Agna maafkan aku, aku mengakui kalau yang tadi itu aku salah bicara." Meski Darren tahu kalau Agna tidak akan membuka pintu itu, ia terus saja mengetuknya dengan mengucapkan kalimat yang sama hampir berulang-ulang kali.


Tanpa Darren tahu saat ini Agna di dalam sana sudah tidur dengan sangat pulas, sehingga membuat laki-laki itu hanya membuang-buang waktu saja memgetuk serta mengucapkan kalimat yang sama dari tadi.


"Aku sangat bodoh, padahal di sini ada kunci cadangan," kata Darren yang baru saja mengingat kalau dirinya mempunyai kunci cadangan yang sengaja laki-laki itu letakkan di belakang lukisan yang ada di tembok dekat kamarnya.


"Aku harus segera mengambilnya," gumam Darren yang sekarang terlihat mengambil kunci cadangannya itu dengan hati-hati, sebab lukisan yang saat ini ada di dinding itu sedikit berat membuat laki-laki itu harus benar berhati-hati. "Moodnya memang cepat sekali mudah berubah-ubah, sehingga membuatku harus hati-hati saat berbicara mengeluarkan kalimat dari bibirku ini," ucap Darren yang sudah mengambil kunci cadangan itu, sekarang ia terlihat akan mulai membuka pintu itu, karena Darren penasaran apa yang saat ini Agna lakukan di dalam sana.


Tepat ketika pintu itu berhasil laki-laki itu buka, Agna terlihat seperti kepompong yang menggulung dirinya menggunakan selimut tebal milik sang suami.


"Ya ampun, rupanya dia sedang tidur, pantasan dia sama sekali tidak menyahut kalimatku dari tadi." Darren bisa bernafas lega pada saat dirinya melihat Agna benar-benar sedang tertidur pulas. Sehingga membuat Agna sama sekali tidak terusik dengan dirinya yang tadi terus saja menggedor pintu dengan sangat kasar. "Kalau aku tahu dia sudah tidur, aku menjadi sedikit tenang. Dasar wanita bar-bar mudah ngambekan." Darren mengatakan itu sambil membenarkan posisi tidur sang istri, supaya wanita hamil itu tidak jatuh dari atas ranjang karena saking lelapnya Agna tidak tahu bahwa dirinya hampir saja jatuh. Jika saja Darren tidak menggeser sedikit posisi tidur wanita itu.

__ADS_1


"Aku harus membawakan dia air minum kesini, karena kebetulan juga air gelas yang ada di kamarku kosang." Sesaat setelah mengatakan itu Darren melangkah keluar dari sana dengan niat ingin mengambilkan sang istri air minum. "Dia kalau sedang tidur begini cantik," ucap laki-laki itu pelan sambil mengulum senyum.


***


Pagi menjelang pada saat Darren masih terlelap, tiba-tiba saja suara Agna membangunkan laki-laki itu yang ternyata memilih untuk tidur do sofa ruang tamu, hanya gara-gara laki-laki itu takut jika saja Agna nanti akan malah memarahi dirinya.


"Bangun Om suami, saatnya pergi mengajar karena pasti para ciwik-ciwik yang kecentilan sedang menunggumu," kata Agna sambil terus saja menggoyang-goyangkan tubuh sang suami. "Om suami, ayo bangunlah!" Suara Agna sedikit melengking supaya Darren bangun. "Om, ayo bangunlah ...." Pada saat Agna terus saja membangunkan Darren tiba-tiba saja wanita yang hamil muda itu malah terjatuh di atas tubuh Darren sehingga membuat laki-laki yang masih saja terlelap itu langsung saja membuka mata. Entah bagimana tadi Agna membangunkan sang suami sehingga membuatnya malah terjatuh bagitu saja.


"Aku tidak sengaja." Agna lalu bangun dan segera menjauh dari laki-laki itu. "Aku tadi hanya ingin membangunkanmu, tapi entah mengapa tiba-tiba saja aku malah jatuh." Malu, tentu saja itu yang saat ini Agna rasakan karena ia merasa kalau pasti Darren saat ini pasti salah paham pada dirinya.


Darren mengerjapkan matanya beberapa kali, sebab nyawa laki-laki itu belum sepenuhnya terkumpul dengan sangat sempurna. Sehingga membuat Darren hanya diam saja dengan kedua netra yang terus saja menatap wanita hamil itu.


"Lupakan yang tadi, itu hanya ketidak sengajaan." Agna terlihat mundur lagi pada saat ia mengatakan itu.

__ADS_1


"Iya, kamu tidak segaja. Tapi kenapa kamu malah membangunkanku di pagi-pagi buta begini karena itu tidak seperti biasanya?" Darren terlihat segera bangun, meskipun saat ini laki-laki itu masih terasa sangat ngantuk.


"Aku membangunkanmu, Om suami karena kamu harus sarapan," jawab Agna menunduk.


"Masih jam enam Agna, tapi kamu sudah membangunkanku," kata Darren yang melihat jam di pergelangan tangannya.


"Niatku baik, tapi kamu malah mengatakan itu." Agna malah menghentak-hentakkan kakinya.


"Kesambet apa dia? Kenapa tiba-tiba malah menjadi baik begini? Bukankah tadi malam dia marah padaku, tapi kenapa sekarang malah berubah?" Darren bertanya di dalam benaknya.


"Mau sarapan atau tidak?" tanya Agna.


"Iya, aku akan sarapan tapi sebelum itu aku harus mandi dulu seperti biasa," jawab Darren yang saat ini memilih mencari aman saja daripada nanti akan menjadi masalah seperti yang tadi malam.

__ADS_1


__ADS_2