
"Kerjakan!" kata Darren penuh penekanan yang memberikan Agna kertas ujian itu lagi.
"Tadi Bapak menyuruh saya untuk tidak ikut ujian, tapi kenapa sekarang Bapak malah menyuruh saya?" tanya Agna yang sama sekali tidak ada takut-takutnya, meskipun ia mengatakan kalimat itu di depan teman-temannya.
"Kerjakan saja, jangan banyak tanya." Setelah mengatakan itu Darren akan kembali lagi duduk.
Namun, belum juga laki-laki itu duduk tiba-tiba Kara, nama salah satu guru yang mengajar di sana terlihat masuk begitu saja.
"Permisi Pak Darren." Kara mengetuk pintu sambil tersenyum menatap Darren.
"Iya, ada yang bisa saya bantu Miss Kara?" Darren terlihat melepas kacamatanya, untuk laki-laki itu bersihkan tetapi ia tidak tahu saja jika apa yang dilakukannya membuat anak-anak didiknya yang perempuan menjadi terpesona. Begitu juga dengan Kara—wanita yang sudah sejak lama menaruh rasa pada Darren.
Beda halnya dengan Agna, wanita itu saat ini terlihat terus saja menunduk tanpa mau melihat Darren. Ia berpura-pura fokus menjawab soal-soal itu padahal saat ini dirinya membuka telinga lebar-lebar hanya untuk mendengar apa yang Kara itu inginkan, karena tidak biasanya seorang Kara datang ke kelas mereka masih pagi seperti ini.
"Miss Kara, apa ada yang bisa saya bantu?" Darren mengulangi pertanyaannya.
"Pak Darren, kita ada rapat sebentar. Apa Pak Darren tidak keberatan untuk hadir dulu sebentar?" Kara terlihat merapikan rambutnya, tidak lupa juga wanita itu tersenyum genit saat menatap Darren.
"Tunggu lima menit lagi Miss Kara, saya akan datang ke ruang rapat." Darren memakai kembali kaca matanya, setelah tadi laki-laki itu bersihkan.
Kara bukannya pergi wanita itu malah terlihat tetap saja berdiri di ambang pintu. "Saya akan menunggu Anda Pak Darren, biar kita sama-sama ke ruang rapat."
"Miss Kara duluan saja, tidak apa-apa saya nanti menyusul," kata Darren yang tidak mau jika Kara menunggunya.
"Saya juga tidak keberatan menunggu Anda disini," timpal Kara yang sudah terlanjur kesemsem dengan laki-laki itu. "Silahkan saja Pak Darren kasih tahu mereka dulu, kalau Bapak akan menghadiri rapat sebentar saja." Kara mengatakan mereka sambil melirik para mahasiswa yang ada di dalam kelas itu.
__ADS_1
Darren yang melihat Agna hanya menunduk saja sedikit bisa bernafas dengan lega, karena istrinya itu mau menurut untuk mengerjakan soal ujian yang tadi ia berikan. Sehingga membuat laki-laki itu merasa kalau dirinya sudah bisa meninggalkan kelas itu. Tanpa ada drama Agna akan memberontak serta membuat kerusuhan lagi seperti biasa.
"Baiklah, kalian semua tolong kerjakan soal itu dengan baik dan benar. Jangan asal-asalan menjawab, supaya nilai kalian juga tidak ikut asal-asalan karena saya harus menghadiri rapat dulu sebentar." Darren lalu berjalan meninggalkan kelas itu, karena ia juga merasa tidak enak jika Kara menunggunya disana terus. Sehingga membuat Darren merasa harus segera pergi ke ruang rapat saja.
"Idih sok sekali dasar mesum!" gerutu Agna sambil mencoret buku yang tadi Saras berikan untuk melapisi lembar jawaban kertas ujiannya.
"Kerjakan Agna, karena waktu kita tidak banyak lagi untuk menjawab." Saras setengah berbisik mengatakan itu pada Agna. Gadis itu juga sempat menyenggol lengan sahabat baiknya itu. "Kerjakan sebelum bel waktu istirahat tiba," sambung Saras ketika ia melihat Darren dan Kara sudah pergi dari kelas itu.
"Aku nggak bisa menjawab pertanyaan ini Sar, karena tadi malam aku tidak belajar." Agna lalu menceritakan semuanya pada Saras dengan cara berbisik. Hingga tidak terasa air mata wanita itu kembali lolos begitu saja.
Saras berusaha mendengarkan setiap kalimat yang terlontar dari bibir tipis milik Agna, sehingga membuat gadis itu sekarang bisa tahu kenapa Darren menanyakan tentang sahabatnya itu ketika ia baru saja datang.
"Jangan nangis." Saras memberikan Agna sapu tangannya. "Nanti akan aku ceritakan semuanya, tapi kita selesaikan soal ini dulu supaya kita bisa keluar tepat ketika bel berbunyi." Saras juga terlihat sempat memberikan Agna contekkan pada Agna.
"Tidak usah Sar, aku bisa menjawab soal ini. Ya, meskipun jawabannya mungkin saja salah," ucap Agna yang yakin dengan jawabannya sendiri, karena ia tidak ingin mencontek lagi.
***
"Ayo ceritakan semuanya padaku," kata Agna saat dirinya dan Saras saat ini sedang berada di taman kecil yang ada di pekarangan Universitas itu.
"Tapi kamu jangan berpikiran kalau aku ini membela Pak Darren." Saras memegang kedua tangan Agna.
Agna yang merasa jika Saras akan memihak pada Darren terlihat diam saja tidak mau merespon sahabatnya itu.
"Na, kamu mau janji 'kan, sama aku?" Saras bertanya pada Agna sekali lagi.
__ADS_1
Agna yang memang ingin mengetahui kebenarannya langsung saja mengangguk dengan sangat cepat. Meskipun saat ini Agna merasa tidak yakin dengan apa yang akan ia dengar dari mulut Saras.
"Begini Na, kita malam itu di culik oleh ...." Saras menjeda kalimatnya, tetapi Agna malah dengan cepat membuka suara.
"Oleh Lian, lalu ba ji ngan itu ingin memperkaosku tapi tidak berhasil. Apa itu yang ingin kamu katakan?" Agna menunduk sesaat setelah mengatakan itu, karena kini ia benar-benar yakin jika memang benar Darren yang telah merenggut mahkotanya.
"Iya, tapi ... Pak Darren datang menyelamatkanmu di waktu yang tepat. Lalu ... karena kamu yang dalam pengaruh obat perangs4ng langsung saja hm ...." Saras menggigit bibirnya. Sebab ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya lagi.
"Jadi, rekaman yang laki-laki mesum itu tunjukkan padaku memang benar apa adanya?" tanya Agna dengan ragu.
Saras mengangguk, karena Darius pada malam itu menceritakan semuanya apa yang telah terjadi. Sehingga membuat Saras tahu tentang kebenarannya.
"Jangan salahkan Pak Darren, karena justru dia yang telah menyelamatkanmu pada malam itu. Jika tidak ada dia mungkin saja kamu malam itu akan kehilangan nyawa sebab dosis obat perangs4ng yang Lian suntikkan padamu berdosis sangat tinggi. Jadi, Pak Darren hanya bisa menolongmu dengan cara begitu. Bukan aku membela Pak Darren, tapi supaya kamu tidak terus-terusan salah paham seperti ini." Saras berbicara panjang lebar berharap Agna menerima semua yang telah terjadi.
"Kamu mendukung Pak Darren, Sar, aku sangat kecewa padamu. Sungguh aku merasa kamu seperti musuh dalam selimut. Seharusnya kamu membiarkan saja aku mati daripada hidup harus dengan tubuh yang sangat kotor dan menjijikkan ini." Air mata Agna kini malah kembali tumpah. "Seharusnya kamu membiarkan aku mati saja." Lirih Agna yang terus saja mengulangi kalimatnya berulang-ulang kali.
"Agna, Pak Darren suamimu. Jadi, apapun yang dia lakukan padamu. Aku rasa itu memang sangat wajar sekali Agna. Meskipun aku belum menikah tapi aku tahu mana yang salah dan benar." Saras mengusap air mata Agna.
Namun, Agna malah menepis tangan Saras dengan kasar. "Kamu bukan temanku lagi!" Agna lalu mendorong tubuh Saras. "Kamu bukan temanku!" pekik Agna yang pergi begitu saja. Ia ingin mencari Dave karena Agna ingin mengajak laki-laki itu bolos.
"Na ... Agna, kembali!" seru Saras yang kini terlihat mengejar sahabatnya itu. "Agna, jangan seperti anak kecil." Saras melihat Agna sama sekali tidak mau berhenti. Justru wanita itu terlihat malah semakin berlari.
"Kau bukan sahabatku lagi!" Agna menimpali Saras dengan suara yang cukup keras.
"Agna, tunggu aku dulu. Jangan seperti ini," kata Saras yang sekarang semakin mempercepat langkah kakinya untuk berlari. Saras juga tidak bisa membiarkan Agna dalam keadaan begini. Mengingat kalau Agna bisa saja melakukan hal yang sangat nekat.
__ADS_1