
Pada saat Agna terus saja berlari di jalan raya yang cukup sepi, tiba-tiba saja mobil yang begitu sangat Agna kenal kini malah berhenti tepat di dekat wanita itu. Sehingga membuat Agna langsung saja menghentikan langkah kakinya.
"Agna, sedang apa kamu disini?" tanya laki-laki yang ternyata adalah Dsve, ia rupanya kebetulan lewat di jalan raya itu.
"Dave ..." Agna hanya memanggil laki-laki itu sambil mendekat ke arah mobilnya. "Tolong bawa aku pergi dari sini," kata Agna yang kini malah menyuruh Dave untuk segera mambawanya pergi.
Dave yang melihat penampilan Agna begitu acak-acakan segera membuka pintu mobilnya. "Ayo kamu masuk dulu." Dave tanpa tahu saja bahwa saat ini Darren melihatnya dari kejahuan yang sedang membukakan pintu mobil untuk Agna, dan itu artinya bahwa Dave saat ini sedang memberikan bantuan pada wanita yang malam ini terlihat sangatlah menyedihkan. Sehingga tadi Dave sempat mengira kalau pengelihatannya bermasalah.
Namun, rupanya pengelihatan laki-laki itu masih normal karena melihat bahwa wanita itu benar-benar adalah sang kekasih pujaan hatinya. Sehingga Dave tidak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk membukakan Agna pintu mobil itu.
"Agna, apa yang terjadi denganmu?" tanya Dave saat wanita itu sudah masuk ke dalam mobil itu.
"Dave, bawa aku pergi segera dari sini, nanti aku pasti akan menceritakan semuanya padamu." Agna memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Dave, karena rupanya Agna melihat Darren dari kaca spion mobil Dave bahwa laki-laki itu sekarang malah terlihat menatap dirinya yang sudah duduk di sebelah Dave. "Dave, aku mohon jalankan mobil ini biar kita bisa pergi dari sini."
"Baik Agna, kamu tenanglah nanti jika kita sudah sampai di rumahmu baru kamu ceritakan semua. Tentang apa yang telah menimpamu," ucap Dave yang mengira kalau saat ini Agna sedang diculik atau dirampok, karena wanita itu ia temukan di jalan raya yang sepi seperti ini. Sehingga membuat Dave merasa sedikit kakut disaat dirinya tidak jago dalam hal bela diri, dan kini laki-laki itu lebih memilih untuk segera membawa Agna pergi dari jalan raya yang memang sepi itu.
__ADS_1
"Dave jangan bawa aku pulang, karena aku tidak mau jika saja kedua orang tuaku marah," kata Agna yang tiba-tiba saja malah berbohong.
"Marah, lalu kemana aku harus membawamu?" tanya Dave sambil menginjak gas untuk segera menjalankan mobilnya, karena laki-laki itu saat ini benar-benar merasa takut disaat melihat raut wajah Agna yang terlihat begitu sendu.
"Kemana saja Dave, asal jangan pulang ke rumah orang tuaku," jawab Agna lirih.
Dave yang sudah dari tadi merasakan ada yang tidak beres terlihat mengangguk. "Baik, kalau begitu apa kamu mau aku bawa ke apartemenku?"
Agna langaung saja menajwab dengan mengangguk, karena baginya saat ini hanya Dave yang bisa menolongnya.
*
"Huh, kenapa Agna malah masuk ke dalam mobil Dave?" Darren bertanya pada dirinya sendiri, karena rupanya ia mengenali plat DR mobil Dave sebab mobil itu sering kali laki-laki itu bawa sewaktu kuliah. "Bagimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Agna bukannya malah takut dengan kalimat ancamanku, tapi wanita itu malah pergi dari rumahku." Darren sekarang malah mengusap wajahnya dengan sangat kasar.
"Jika Mami dan Papi tahu tentang semua ini, maka orang yang pertama akan mereka salahkan itu aku, karena aku ini laki-laki yang sangat bodoh," kata Darren sambil terus saja melihat mobil itu yang semakin menjauh dari pandangannya, karena tidak mungkin juga dirinya akan mengejar mobil itu pada saat ponselnya terus saja berdering dan itu panggilan masuk dari ayah mertuanya.
__ADS_1
"Om Al pasti akan menanyakan tenyang Agna," gumam Darren sebelum laki-laki itu mengangkat panggilan telepon yang dari tadi terus saja berdiring disaku celana laki-laki itu.
"Ren, apa Agna sudah tidur?" Benar saja suara Al terdengar, dimana saat ini pria paruh baya itu sedang menanyakan tentang Agna.
Darren sempat terdiam karena dirinya, lagi-lagi harus berbohong untuk kali ini. "Iya Yah, Agna sudah tidur," jawab Darren yang berusaha tetep tenang disaat detak jantung laki-laki itu untuk saat ini tidak beraturan.
"Kalau begitu titipkan saja salam Ayah padanya, kalau Ayah, Bunda dan kedua Adiknya harus berangkat ke luar Negeri pada malam ini juga. Sehingga membuat Ayah merasa bahwa kamu harus memberitahu Agna. Jangan sampai istri kamu itu nanti malah akan menjadi ngambek." Rupanya Al menghubungi Al malam-malam begini hanya untuk memberitahu menantunya itu bahwa dirinya ada urusan masalah pekerjakan di luar Negeri. Membuat Al terpaksa harus berangkat pada malam yang hampir larut ini. "Oh ya, jangan lupa katakan kalau keberangkatan Ayah ini sangat mendadak sekali," sambung Al.
"Ayah, tidak bisakah besok pagi saja?" Darren bertanya pada Al.
"Ish, tidak bisa Ren, ini saja mereka menyuruh Ayah berangkat jam dua dini hari. Tapi Ayah tidak mau karena takut mengganggu jam istirahat Nino dan Gino. Sehingga membuat Ayah memilih untuk berangkat sekarang saja." Pria paruh baya itu berusaha menjelaskan pada menantunya. "Pokoknya kamu hanya perlu memberitahu Agna, supaya istri kamu itu tidak akan datang ke rumah sebelum kami pulang."
"Iya Ayah, besok pagi aku akan memberitahu Agna," timpal Al yang kini tiba-tiba saja merasa menjadi kesal dengan sikap Agna. Pada saat Al terus saja menyebut nama istrinya itu.
"Baiklah Ren, kalau begitu Ayah tutup dulu panggilan teleponnya. Selamat beristirahat." Al kemudian langsung saja menekan tombol merah, sebelum sang menantu membalas kalimatnya yang tadi.
__ADS_1
Sedangkan Dave setelah panggilan telepon itu berakhir kini laki-laki itu terlihat segera menghubungi Darius, karena laki-laki itu berpikir bahwa hanya temannya itu saja yang bisa membantunya.
"Darius, aku harus segera menghubunginya," kata Darren. Sebelum ia menekan tombol hijau untuk menghubungi sahabat baiknya itu.