Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Satu Bulan


__ADS_3

Satu bulan kemudian, kini Agna dan Darren terlihat seperti murid dan dosen pada umumnya. Namun, siapa sangka saat mereka sedang ada di rumah mereka terlihat lebih mirip seperti kucing dan tikus. Dimana dua insan itu selalu saja bertengkar entah selalu ada saja yang membuat mereka berdua adu mulut.


"Malam ini saya ada jadwal operasi, saya harap kamu seperti biasa bisa sendiri dulu di rumah," kata Darren saat laki-laki itu kini akan mengantar sang istri untuk pulang ke rumah. Setelah jam kuliah sang istri sudah usai.


"Antar saja saya ke rumah Bunda, karena saya mau menginap di sana," ucap Agna tanpa menoleh sedikitpun pada laki-laki yang saat ini sedang fokus menyetir itu.


"Kenapa? Apa kamu sudah mulai bosan berada sendirian terus di rumah saya?" tanya Darren. Karena baru kali ini Agna mau menginap di rumah kedua orang tua gadis itu. Membuat Darren merasa agak sedikit aneh.


Agna yang ditanya terlihat malah mengangkat kedua bahunya, sambil menjawab, "Bukan bosan, tapi saya ada janji sama teman-teman saya nanti malam, untuk berkumpul di rumah Bunda. Karena tidak mungkin saya membawa mereka ke rumah Bapak. Bisa-bisa teman-teman saya yang mengidolakan Bapak bisa pingsan jika mereka tahu tentang status kita."


"Berapa malam?"


Agna mengerutkan kening mendengar pertanyaan Darren. "Berapa apa maksud, Bapak? Berapa banyak teman saya yang mengidolakan Pak Dosen me sum seperti Bapak begitu?" Agna malah terdengar bertanya balik pada sang suami.


"Cukup Agna, kamu jangan aneh-aneh. Saya cuma mau bertanya berapa malam kamu akan menginap di rumah kedua orang tuamu. Supaya saya bisa menjemputmu," jawab Darren langsung.


Agna yang mendengar itu hanya bisa komat kamit saja karena entah mengapa mood gadis itu malah menjadi berantakan ketika ia mengingat sebagian cewek bahkan cowok di dalam kelasnya memuji Darren secara terang-terangan tentang ketampanan laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.

__ADS_1


Bahkan juga teman-teman cewek Agna malah mengatakan kalau ada yang bersedia menjadi kekasih gelap Darren. Ada juga yang mau menjadi istri dari laki-laki yang sering gadis itu ajak gelut di atas ranjang.


"Jadi, berapa malam?"


"Dua malam," jawab Agna singkat.


"Kok lama?"


"Iya, karena teman-teman saya mau menginap di sana juga. Karena kebetulan kami akan membuat acara makan-makan seperti yang sering kami lakukan setiap satu bulan sekali."


Darren mengangguk-mengangguk tanda mengerti. "Apa tidak bisa satu malam saja? Karena besok malam akan ada acara makan malam di keluarga besar Mami dan Papi."


"Jangan ambil hati, kamu cukup mengatakan kalau kita belum di kasih kepercayaan, begitu sangat mudah dan simple sekali bukan? Tapi kamu malah ribet memikirkan jawaban yang pas dan tepat," timpal Darren.


"Saya tidak seperti Bapak yang doyan berdusta. Karena kedua orang tua saya tidak pernah mengajarkan ajaran sesat terhadap saya, apalagi berbohong itu suatu hal yang tidak akan pernah saya lakukan."


"Oh ya, terus di kelas, saat ada satu murid laki-laki yang menyatakan cintanya ke padamu. Kenapa kamu malah menerimanya dan mengatakan kalau kamu itu kebetulan lagi jomblo? Apa itu tidak berbohong namanya?"

__ADS_1


Agna memutar kedua bola matanya, karena ia tidak menyangka kalau Darren akan tahu tentang Dave teman sekelasnya yang sudah menemb4k dirinya tepat dua hari yang lalu.


"Kalau itu bukan urusan Bapak!" ketus Agna menjawab Darren. Sambil melipat tangannya di atas perut tipis dan rampingnya.


"Kamu istri saya, apa kamu lupa akan hal itu?" Darren mengurangi kecepatan mobilnya supaya ia tidak akan sampai di rumah mertuanya dengan cepat.


"Apa Bapak lupa, kalau Bapak ini akan memberikan saya kebebasan?" Agna kali ini terpaksa menoleh ke arah samping. "Bapak lupa akan janji yang pernah Bapak tulis dengan jari Pak Darren sendiri?"


"Tidak."


"Lantas kenapa Bapak malah berkata seperti itu? Seolah-olah Bapak ini tidak suka saya dekat dengan Dave."


Darren pada akhirnya memilih untuk diam saja. Karena ia merasa jika terus menanggapi kalimat Agna maka dapat dipastikan bahwa mereka pasti akan bertengkar di dalam mobil.


"Dave laki-laki yang sangat baik, jadi apa salahnya saya menerima dia sebagai kekasih saya?"


"Tidak ada yang salah, tapi kamu harus ingat dengan statusmu saat ini," jawab Darren dengan suara dingin dan wajah datarnya.

__ADS_1


Agna kembali lagi menghadap depan dan dengan tatapan lurus. Ia sama sekali tidak bermaksud membalas jawaban laki-laki itu.


__ADS_2