Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Bab 110


__ADS_3

Baru saja Darren akan membuka baju Agna, tiba-tiba saja suara tangisan Nawa di luar membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya karena ia tahu kalau saja saat ini Selena, sang ibu pasti sedang berdiri didepan pintu.


"Tuh kan, gagal lagi," kata Darren pelan sambil turun dari tubuh sang istri. "Nawa kayaknya nggak mau dibuatin adek," sambung laki-laki itu sambil memasang lagi kemeja yang tadi sudah sempat ia buka. Wajah laki-laki itu juga terlihat sedikit masam.


"Masih ada hari esok bahkan lusa, Om suami ini nggak sabaran," timpal Agna yang segera bangun dan ia juga terlihat mengancing kembali bajunya karena tidak mungkin wanita itu akan membuka pintu dengan posisi kancing bajunya yang sudah dibuka semua oleh Darren. Bisa-bisa dirinya akan malu nantinya di hadapan mertuanya itu. "Mandi gih, biar aku saja yang manasin mot–" Belum selesai kalimat Agna, tapi Darren malah memotongnya dengan cepat.


"Pulang kuliah kita harus ke hotel, aku nggak mau jika apa yang sangat aku inginkan akan tertunda terus karena aku tahu, kalau kamu selama ini juga pasti menginginkan hal yang sama. Nanti aku akan menyuruh Mami untuk membawa Nawa ke rumah utama, dengan cara begitu kita bisa berduaan." Darren yang memang sudah sangat ingin membuka puasa mengatakan itu pada Agna. "Nggak ada tapi-tapian, Nawa tidak akan menangis jika putra kita kenyang." Darren lalu terlihat langsung saja membuka pintu kamar yang tadi sempat laki-laki itu kunci pada saat ia selesai mengatakan itu semua. Darren saat ini tidak peduli mau Agna setuju atau tidak yang terpenting hasratnya yang selama ini menggebu-gebu akan terbayarkan.


"Mami ganggu kalian?" tanya Alea pada saat pintu itu terbuka, wanita paruh baya itu juga melihat wajah masam putranya. Sehingga membuatnya tidak enak hati padahal Alea datang ke kamar pasangan suami istri itu hanya ingin mengambil dot sang cucu yang tadi lupa ia bawa.


"Nggak kok Mi, lagian Om suami mau manasin motor dulu sebelum berangkat mengajar. Jadi, Mami sama sekali nggak mengganggu kami," jawab Agna pada saat melihat Darren malah melewati Alea, laki-laki itu juga sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan sang ibu, dimana Darren memilih untuk mengabaikan Alea juga Nawa yang terdengar terus saja menangis.


"Terus wajah Darren kenapa masam?" Alea bertanya sekali lagi. Bukan karena ia ingin kepo, tapi ia hanya ingin sekedar tahu apakah Darren begitu gara-gara dirinya yang datang di waktu yang tidak tepat membawa Nawa.


"Om suami mungkin buru-buru." Agna menjawab sambil mengambil Nawa dari gendongan mertuanya itu. "Sini Mi, biar aku kasih ne nen dulu. Nanti kalau aku sudah berangkat kuliah baru kasih dotnya. Mungkin juga saat ini Nawa lapar makanya nangis terus."

__ADS_1


"Iya, Mami ke sini hanya mau ambil dot yang ada di atas nakas." Alea menunjuk dot yang terlihat masih berisi full di dalam wadahnya itu. "Mami tadi benar-benar lupa membawanya, kalau nggak kelupaan mana mungkin Mami mau mengganggu kalian." Sepertinya Alea sudah tahu kenapa wajah putranya terlihat masam.


"Apaan sih Mi, Mami nggak ganggu aku sama Om suami ... Om suami saja yang kadang moodnya berantakan," timpal Agna yang tidak mau jika saja Alea berpikiran yang tidak-tidak.


"Hm, Mami bawa saja Nawa untuk menginap satu malam. Biar kamu dan Darren bisa punya waktu berdua. Mami ini tahu pasti tadi itu Darr–"


"Iya Mami bawa saja Nawa menginap satu malam," potong Darren cepat rupanya laki-laki itu balik lagi karena kunci motornya kelupaan. "Nanti kalau nangis tinggal hubungi aku, biar aku sama Agna langsung datang ke rumah utama."


Senyum mengembang terlihat sangat jelas di bibir milik Alea karena wanita paruh baya itu merasa sangat senang jika saja dirinya diizinkan untuk membawa cucunya menginap di rumah utama.


"Kalau begitu sekarang saja Mami bawa Nawa, berhubung hari ini juga teman-teman arisan Mami mau datang," ucap Alea yang kali ini benar-benar sangat bahagia hanya karena Nawa akan ia bawa.


"Tapi ...." Agna terdengar menjeda kalimatnya.


"Buatkan Mami dan Papi cucu lagi, biar sama-sama satu. Biar adil juga. Ayah dan Bunda kamu bisa bawa Nawa kapanpun mereka mau. Jika saja kamu memberikan Mami cucu lagi." Antusias itu yang saat ini Alea sedang tunjukkan pada putra serta menantunya dimana ia ingin memberitahu Agna bahwa ia sangat-sangat akan setuju jika saja menantunya itu akan melahirkan satu cucu lagi untuk dirinya. "Harus ya, Agna. Biar adil jangan cuma Mami saja yang bawa Nawa sedangkan Bunda kamu sangat jarang. Itu semua karena Mami nggak mau ngalah," celetuk Alea sambil tertawa kecil.

__ADS_1


***


Menjelang siang ketika Agna akan pulang kuliah tanpa ada rasa ragu sedikitpun Darren langsung saja terlihat menggandeng tangan sang istri.


"Hotel bintang lima yang dekat dengan rumah utama," kata Darren yang mulai membuka percakapan. "Supaya nanti kalau Nawa menangis kita bisa dengan cepat menuju rumah Mami dan Papi."


"Om suami, jangan bahas itu disini," sahut Agna pelan sambil mencubit lengan Darren. "Orang lain bisa mendengarnya."


"Untuk apa harus takut? Disini hanya mahasiswa saja yang tidak tahu status kita kalau yang lain, mereka semua ta–" Kalimat Darren terputus karena tiba-tiba saja seorang wanita yang berpakaian begitu sangat seksi malah bergelayut manja di lengannya.


"Sayang, kamu kembali ke Indonesia kenapa tidak bilang-bilang?" tanya wanita yang saat ini entah tujuannya apa. Sehingga ia sangat berani sekali bergelayut manja pada lengan Darren. "Padahal aku ingin memberikanmu kabar baik, dimana aku ini sudah mengandung buah hati kita Sayang."


Pada saat Agna mendengar itu semua, wanita itu merasa bahwa saat ini kakinya tiba-tiba saja tidak bisa digerakkan, dimana tungkai kakinya juga terasa sangat lemas.


"Apa-apaan ini?" Agna menatap Darren dan wanita yang sangat seksi itu secara bergantian. Bukan cuma itu saja dua bola mata indah milik ibunya Nawa itu mulai terlihat berkaca-kaca.

__ADS_1


"Hei, kenalin aku ini adalah pacar Darren. Namaku Fika kamu bisa panggil aku, Ika. Btw Darren tidak impoten lagi berkat aku lho." Dengan sangat enteng dan percaya diri sekali wanita yang bernawa Fika malah memperkenalkan diri.


Sedangkan Darren malah diam membisu karena ia tidak menyangka kalau saja wanita itu akan menyusulnya sampai ke Indonesia.


__ADS_2