
Agna terlihat sedang membasuh wajahnya beberapa kali, hanya untuk menghilangkan rona merah pada pipinya. Karena saat ini gadis itu merasa sangat bahagia saking bahagianya ia sampai-sampai tidak bisa mengontrol wajahnya yang bersemu dengan sangat merah seperti kepiting rebus.
"Oh, begini rasanya ketika cinta kita terbalaskan," gumam Agna yang juga ternyata rupanya selama ini diam-diam mengagumi Dave. "Aku tidak pernah menyangka bahwa laki-laki yang selama ini aku pantau memiliki rasa yang sama sepertiku."
Pipi Agna malah semakin bersemu merah saat tadi ia mengingat Dave yang tadi sempat merapikan anak rambutnya yang hampir saja menutupi mengelihatan gadis itu.
"Ah, aku tidak sabar menunggu dua tahun," ucap gadis itu senyum-senyum sendiri di depan cermin toiet itu. "Dua tahun cepatlah berlalu biar aku bisa cepat menikah dengan Dave, tapi tunggu dulu ... apa Dave akan tetap mencintaiku saat dia tahu statusku besok?" Tiba-tiba senyum manis di bibir tipis Agna langsung saja memudar. Di saat gadis itu baru saja mengingat kalau nanti dirinya akan menajdi janda.
"Ish, kenapa aku sangat bo doh! Selama Dosen me sum itu tidak menyentuhku itu artinya aku adalah seorang janda yang masih perawan," kata Agna yang sekarang wajahnya malah kembali berhias senyum. "Itu artinya Dave pasti tidak akan mempermasalahkan statusku itu," sambung Agna yang terus saja berbicara pada dirinya sendiri.
Dan tidak berselang lama pintu toilet itu malah di ketuk dengan sangat keras dari arah luar.
Tok ... took ... tokk!
Agna yang kaget bukan main langsung saja bergerutu di dalam benaknya, karena gadis itu saat ini benar-benar sangat kaget.
"S*alan! Siapa yang berani menggedor toilet sekeras ini? Apa itu orang tidak pernah di ajarkan sopan santun atau tata krama?" Saat Agna masih saja menggerutu tiba-tiba suara gedoran pintu pada toilet itu semakin terdengar sangat keras.
__ADS_1
"Hei! Siapapun kau yang di luar toilet ini. Tolong jangan gedor-gedor terus karena aku ini belum selesai!" seru Agna berbohong saking kesalnya gadis itu saat ini. "Sana pergi ke toliet yang lain, masa toilet sebanyak ini malah tempatku ini saja yang kau gedor, dasar manusia yang otaknya sudah pindah ke dengkul!" geram Agna saat mendengar suara pintu itu semakin di gedor.
"Awas saja, akan aku siram kau menggunakan air pipisku!" terik Agna sambil membuka pintu toilet itu. Saking murka dan rasa penasaran yang saat ini sedang bersarang di hati gadis itu.
"Kau manusia yang menyebal–" Kalimat Agna menggantung di udara saat pintu toilet itu terbuka. Karena gadis itu melihat Darren sudah berdiri di sana dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Pak Dar–" Lagi-lagi kalimat Agna terputus karena Darren sudah mendorongnya kambali masuk ke dalam toliet itu lagi. "Hei, apa yang Bapak lakukan, di toilet perempuan?" tanya Agna sambil berusaha keluar dari sana. Tapi sayang Darren sudah terlebih dahulu mengunci pintu toilet itu dari dalam.
"Sedang apa kau di sini?" Darren malah bertanya balik pada Agna sambil mencengkram pundak gadis itu dengan sangat erat. "Saya tanya sedang apa kau di sini? Dan bukankah kau mengatakan pada saya bahwa kau ini sedang tidur. Tapi kenapa sekarang kau malah berduaan di sini dengan laki-laki itu?" tanya Darren sekali lagi.
Agna yang tiba-tiba saja merasa nyalinya menciut dengan cepat menajawab, "Bukan urusan Bapak."
"Bapak saja yang pulang, bukan malah menyuruh saya!" ketus Agna sambil mundur. "Beberapa jam yang lalu Bapak meminta saya untuk mengantarkan berkas dokumen ke rumah sakit. Tapi sekarang Bapak malah datang makan malam kesini bersama kekasih pujaan hati Bapak itu!" Agna sempat mendorong dada bidang Darrel.
"Untuk sekdar mengambil dokumen kaki Bapak sepertinya sangat enggan untuk melangkah, sedangkan datang ke sini bersama suster s*alan itu kaki Bapak malah semangat 45 untuk berjalan sampai ke restoran bintang lama ini."
"Pulang!" ucap Darren dengan nada baritonnya.
__ADS_1
"Tidak!" sahut Agna ketus.
"Agna, saya suruh kau pulang. Bukan malah asik berduaan di sini," kata Darren yang sepertinya saat ini laki-laki itu merasa cemburu.
"Saya tidak mau pulang, karena Ayah dan Bunda juga sudah mengizinkan saya untuk makan malam beramaa teman-teman saya. Jadi, Pak Darren kembali saja duduk manis bersama pacar Bapak itu dan jangan malah menggangu saya!"
Darren langsung saja mendorong Agna sehingga membuat punggung gadis itu langsung saja terbentur di tembok.
"Jangan membantah saya, karena saya bisa melakukan apa saja yang saya mau terhadapmu, Agna." Wajah Darren mendekat ke wajah Agna sehingga jarak wajah pasangan suami istri itu tinggal beberapa sentimeter saja.
"Minggir! Nafas Bapak bau rokok," kata Agna berbohong padahal laki-laki itu sama sekali tidak pernah meng hisap rokok bahkan menyentuhnya saja Darren tidak pernah. "Minggir Pak Darren! Sebelum teman-teman saya mencari ketua geng mereka yang tidak kunjung kembali," celetuk Agna dengan wajah masam.
"Saya minta kau cepat pulang, sebelum saya sendiri yang akan menyeret badan mungilmu ini keluar dari restoran ini secara paksa." Darren terdengar malah mengancam Agna. "Ayo pilih mana pulang dengan cara baik-baik, atau saya yang akan membawa kau dengan paksa?"
"Saya tidak mau pulang titik!" Agna lalu terlihat mendorong tubuh kekar Darren lagi. "Minggir saya mau kembali ke teman-teman saya." Agna baru saja akan meraih gagang pintu toilet itu. Tapi tiba-tiba saja tubuh Agna malah di angkat oleh Darren.
"Saya bilang pulang ya pulang Agna, jangan malah keras kepala." Darren menaikkan tubuh ramping Agna ke atas pundaknya. "Biar saya saja yang akan mengantarmu pulang, jika kau masih saja bersikeras dengan pendirianmu itu," sambung Darren yang tidak peduli dengan Agna yang terus saja memberontak.
__ADS_1
"Pak Darren turunkan saya!" Gadis itu terus saja memu kul-mu kul punggung suaminya. "Pak Darrel!" teriak Agna memekik.