Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Mulai Membaik


__ADS_3

Darren berbalik pada saat ia mendengar suara wanita yang sudah dua hari ini membuat jiwa serta raganya seperti mayat hidup.


"Agna." Wajah Darren yang tadi merah padam karena memarahi Darius kini secepat kilat berubah ke warna aslinya yang kuning langsat. "Kamu sudah sadar Sayang." Darren segera mendekat ke arah bed sang istri lagi. 


"Nawa, putra kita mana?" Disaat baru saja sadar Agna terdengar menanyakan tentang keberadaan si buah hatinya. "Aku ingin melihatnya, apa dia baik-baik saja?"


Darren mengangguk dengan cepat. "Nawa baik-baik saja. Dia ada di ruangan sebelah bersama Bunda juga yang lainnya." Terpancar jelas dari wajahnya bahwa Darren saat ini sangat bahagia. Sebab wanita yang sangat ia cintai kini sudah membuka mata dan itu artinya keadaan Agna akan membaik secepatnya. "Biar aku panggilkan Bunda untuk membawa Nawa kesini, kamu jangan menutup mata lagi. Tunggu aku sebentar saja."


Agna terlihat menggeleng lemah. "Minta saja Darius memanggil Bunda, Om suami diam saja di sini jangan kemana-mana karena aku takut sendiri. Nanti penjahat itu datang lagi, mereka ingin membuat umurku menjadi pendek. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi." Bayangan gumpalan asap yang tebal itu kini mulai menghantui Agna lagi. Wanita itu sangat takut jika saja asap itu akan tiba-tiba muncul lagi di ruangannya saat ini.


"Tidak ada penjahat itu lagi sayang, mereka semua sudah mendekam di dalam jeruji besi. Jadi, kamu jangan pikirkan hal itu." Darren mengelus pucuk kepala Agna dengan sangat lembut. "Sekali lagi aku katakan, jangan pernah ingat kejadian itu. Sebab orang-orang jahat itu tidak akan berkeliaran lagi disini."


"Panggil Bunda, suruh membawa Nawa kepadaku." Agna percaya apa yang dikatakan Darren tadi sehingga wanita itu kini merasa sedikit tenang tidak was-was seperti tadi. "Bawa Nawa untukku, aku sangat ingin melihat putra kita."


"Baik, aku akan menyuruh Darius untuk memanggil Bunda dan membawa Nawa." Darren menoleh ke arah pintu dimana Darius masih saja berdiri di sana, dan tanpa mengucapkan sepatah kata terlihat Darius langsung saja pergi karena temannya Darren itu sudah mendengar semuanya tadi. Sehingga Darius tidak perlu menunggu Darren menyuruhnya untuk memanggil Ranum.


"Om suami, jangan tinggalkan aku dan Nawa lagi." Agna menatap wajah lelah Darren.


"Tidak akan, aku akan tetap menjagamu juga menjaga putra kita. Seperti kamu yang dulu menjagaku di saat aku waktu itu lumpuh. Apa kamu masih ingat itu semua?" 


"Biarlah berlalu jangan diingat lagi, aku sudah cukup trauma dengan kejadian itu." Agna benar-benar tidak ingin mengingat hal apapun yang membuatnya sakit karena jika ia mengingat itu semua otomatis ia akan menjadi mengingat lagi wanita yang menuduh Darren telah menanam benih di rahim wanita yang kini sudah tiada itu.


"Iya, kamu benar Sayang. Sebaiknya kita jangan bahas itu lagi." Sepertinya Darren paham dengan kalimat Agna sehingga ia dengan cepat mengatakan itu. "Lagipula aku sudah sehat seperti sedia kala. Jadi, aku tidak perlu mengingat hal yang membuat aku waktu itu sampai putus asa."

__ADS_1


Agna tersenyum, ia senang karena Darren mampu memahami apa yang tadi keluar dari bibir tipisnya.


"Setelah ini, akan aku pastikan tidak ada orang yang berniat jahat pada keluarga kecil kita. Aku berjanji akan hal itu Agna." Darren meletakkan tangan Agna di atas kepalanya. "Aku bersumpah, jika ada yang macam-macam maka mereka semua harus membusuk di penjara."


Terharu Agna sangat terharu mendengar kalimat sang suami sehingga ia tidak sadar air matanya kini sudah menetes.


Selang beberapa menit terlihat Ranum sudah datang bersama Nawa yang ada di dalam gendongannya.


"Agna, putri Bunda." Mata Ranum berkaca-kaca pada saat ia melihat putrinya kini sudah membuka mata. "Bunda sangat mengkhawatirkanmu, kenapa kamu selalu saja berbuat nekat 'Nak? Tidakkah kamu memikirkan perasaan Bunda dan Ayah?"


"Bunda, maafkan aku ...." Mata Agna juga ikut berembun. "Aku minta maaf Bunda karena telah membuat Bunda khawatir."


"Jangan katakan apapun Agna, kamu tidak salah. Kamu juga tidak perlu meminta maaf. Anggap saja ini semua adalah garis takdir yang harus kamu jalani." Ranum tersenyum sambil menghapus lelehan air matanya. "Nawa, cucu Bunda ini sudah sangat merindukanmu. Sekarang apa kamu mau memberikannya asi?"


Namun, keadaan yang membuatnya harus bisa berpikir jernih sebelum melakukan hal apapun itu.


"Aku baik-baik saja, sini Bun. Bawa Nawa padaku. Aku sudah sangat merindukan putraku yang gembul itu." Agna menatap Darren berharap suaminya itu mengerti.


"Hm, baiklah. Bunda bawa Nawa ke sini." Darren beranjak dari duduknya karena ia ingin membeberkan Ranum ruang. "Aku tunggu di luar, nanti kalau perlu apa-apa panggil saja aku."


"Jangan pergi, tetaplah di sini." Agna menahan tangan suaminya.


"Aku tidak pergi. Aku hanya akan duduk di luar Sayang." Darren lalu terlihat mencium kening Agna. "Ada Bunda di sini yang akan menemanimu. Nawa juga ada di ruangan ini bersamamu." Darren ternyata benar-benar ingin memberikan Agna dan Ranum ruang untuk berbicara satu sama lain.

__ADS_1


"Baiklah." Pada akhirnya Agna membiarkan Darren pergi dari sana.


***


"Ini sudah 8 hari aku di sini. Apa Om suami tidak berniat membawaku pulang? Padahal keadaanku ini sudah mulai membaik." Agna berbicara dengan Saras, sahabat karibnya yang saat ini sedang mengupaskannya mangga.


"Kalau sudah waktunya kamu pasti di bawa pulang. Aku yakin akan hal itu." Saras tersenyum saat mengatakan itu. "Ini makan buah mangga yang banyak, supaya air susumu semakin melimpah."


"Aish, kau ini Saras." Agna mencubit pipi Saras.


"Aku ingin minta maaf atas Mamaku yang belum juga bisa menjengukkmu sampai sekarang."


"Nggak apa-apa, Tante Sonia masih sibuk. Jangan bahas ini. Aku tidak memikirkan itu kamu tenang saja, lagipula aku sudah sembuh. Buktinya aku bisa bercanda bersamamu seperti ini." Agna mengambil mangga yang sudah Saras kupas. "Oh ya, ngomong-ngomong, gimana hubunganmu dengan Darius? Apa baik-baik saja?"


"Kuingin hidup serumah satu atap dengannya. Tapi dia tidak mau membuatku ingin mengakhiri saja hubungan ini. Aku sudah muak. Na." Saras mengela nafas lalu ia membuangnya dengan sangat kasar. "Alasannya hanya satu tunggu aku selesai kuliah, tapi kapan aku akan selesai? Aku benar-benar merasa bahwa Darius hanya ingin main-main denganku tidak ada kata serius di dalam hatinya."


"Darius serius, aku juga mendukung apa yang dia katakan karena ada benarnya juga." Agna menaik turunkan alisnya. Wanita ibu dua anak itu sengaja mengatakan itu pada Saras. Hanya untuk melihat reaksi dari sahabatnya itu.


"Kamu lebih membela Darius, daripada bestie-mu ini, Agna?" Dahi Saras berkerut pada saat gadis itu bertanya.


"Bukan membela siapa-siapa. Agna hanya sifatnya sudah dewasa tidak sepertimu yang masih saja kekanak-kanakan." Darius datang sambil membawa bingkisan buah.


Saras pada saat itu juga langsung memasang wajah masam.

__ADS_1


__ADS_2