
Dave langsung saja pindah dari posisi duduknya supaya dirinya dan Agna bisa berhadapan, dan tidak lama juga setelah tiga gadis itu pergi Dave berdehem beberapa kali demi menghilangkan rasa gugupnya. Karena laki-laki itu merasa bahwa ini waktu yang tepat untuk dirinya bertanya pada gadis yang sedang duduk di depannya secara langsung.
"Agna," panggil Dave sambil terus saja fokus menatap wajah gadis yang selama ini laki-laki itu idam-idamkan.
"I-iya Dave a-ada a-apa?" Gugup itu yang Agna rasakan sehingga membuat sura gadis itu malah menjadi terbata-bata.
"Bagimana dengan jawabanmu tentang perasaanku waktu itu, apakah cintaku ini terbalas atau malah bertepuk sebelah tangan?" Dave blak-blakan menanyakan itu pada Agna, sebab laki-laki itu merasa sudah tidak bisa menunggu lagi dengan jawaban dari gadis cantik yang berkulit putih seputih susu itu.
Sehingga membuat Dave tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini di saat ia dan Agna hanya duduk berdua saja, dan untuk saat ini laki-laki itu sangat berharap bahwa Agna akan menerima cintanya. Tanpa akan ada drama penolakan dari gadis yang di puja-puja oleh kaum buaya darat itu.
"Agna jawab aku jangan malah diam saja, biar aku tahu tentang perasaanmu juga padaku," ucap Dave sambil meraih tangan Agna.
Sedangkan Agna yang tangannya di raih dengan cepat menimpali laki-laki itu dengan empat kalimat, karena Agna juga tidak mau terus-terusan menggantung jawaban yang akan gadis itu berikan pada laki-laki itu.
"Iya Dave, aku menerimamu." Sambil menatap wajah Dave, Agna menjawab laki-laki itu dengan wajah yang berhias senyum.
Seolah-olah Agna lupa bahwa di restoran itu juga saat ini ada sang suami yang sedang makan malam di meja paling ujung bersama wanita lain.
"Iya Dave, aku menerima cintamu, dan itu artinya aku membalas perasaanmu terhadapku itu." Agna mengulangi kalimatnya sekali lagi.
__ADS_1
Dave yang dari tadi merasa gelisah karena menunggu jawaban dari Agna, akhirnya laki-laki itu bisa bernafas dengan lega saat kalimat Agna yang menerimanya menjadi kekasih dari gadis yang di idolakan para kaum laki-laki itu terlontar dari bibir tipis Agna begitu saja.
"Benarkah? Dan apa ini tidak ada dusta di dalamnya?" tanya Dave dengan perasaan yang saat ini masih saja belum percaya dengan jawaban Agna tadi.
"Aku menerimamu, Dave, dan tidak ada dusta sama sekali di dalamnya." Agna tersenyum menjawab Darren sehingga lesung pipi gadis itu terlihat sangat jelas. Menambah kecantikan Agna berlipat-lipat ganda.
"Jadi, hari ini dan pada detik ini juga kita sudah resmi berpacaran. Itu artinya Agna Yumna Ezza sekarang adalah kekasihku," ucap Dave yang saat ini merasa kalau relung hatinya sudah tidak kosong lagi. Karena sosok Agna sekarang sudah mengisinya.
Hening ....
Sehingga detik berikutnya, Dave terdengar mengucapkan kalimat cinta pada Agna yang saat ini juga merasa lega, karena gadis itu sudah memberikan jawaban yang seharusnya tidak gadis itu ucapkan. Sebab ini semua nanti akan malah menjadi bomerang bagi Agna sendiri.
"Demi merayakan malam yang sangat bahagia ini, maka aku lah yang akan mentraktir ketiga teman kita," kata Dave di sela-sela suara para pengunjung restoran yang mulai agak sedikit bising. "Sekarang pesan saja makanan yang mau kamu pesan Agna, karena sepertinya kamu juga lapar sama sepertiku." Dave lalu terlihat melambaikan tangan sambil memanggil pelayan di restoran itu.
Rupanya tanpa Dave dan Agna tahu, pasangan kekasih yang baru saja jadian itu sedang di awasi oleh satu pasang mata hazel yang dari tadi mempehatikan gerak gerik serta mencoba untuk mendengar percakapan kekasih yang di mabuk cinta itu.
Dan laki-laki yang saat ini terus saja menatap mereka, terlihat mengeraskan rahang serta menggertakkan gigi. Seolah-olah tidak suka melihat pemandangan Agna Dave tersenyum bahkan tertawa bersama seperti apa yang laki-laki itu lihat saat ini. Membuatnya tiba-tiba saja darahnya menjadi mendidih.
"Dia bukan milikku tapi kenapa, aku merasa tidak suka melihat pemandangan yang saat ini membuat mata dan hatiku menjadi terasa sesak begini," gumam laki-laki itu membatin, dan ternyata itu adalah Darren sosok dosen galak sekaligus suami Agna.
__ADS_1
***
30 menit berlalu dengan sangat cepat, Darren yang dari tadi terus saja memperhatikan Agna merasa bahwa gadis itu sudah sangat keterlaluan sehingga membuat laki-laki itu yang saat ini sedang memegang segelas air langsung saja bisa pecah di tangannya.
"Ya Tuhan, kenapa Anda kuat sekali Dok, sehingga gelas ini bisa pecah?" Lestari seorang suster muda yang saat ini bersama Darren sangat panik ketika melihat tangan laki-laki itu terluka akibat gelas yang pecah.
Dan tidak berselang lama darah segar terlihat langsung saja merembes keluar dari sela-sela jari Darren.
"Dok, tangan Anda berda–"
"Aku akan pergi ke toilet sebentar," potong Darren sambil berdiri dari duduknya. Karena laki-laki itu melihat bahwa sang istri juga sepertinya saat ini sedang pergi ke toilet.
"Tapi Dok, tangan Anda terluka," kata Lestari yang semakin panik.
"Tidak apa-apa Les, ini hanya kecelakaan kecil," timbal Darren sambil membungkus telapak tangannya menggunakan sapu tangan yang ia ambil dari saku bajunya. "Aku harus ke toliet sebentar, kamu tunggu saja aku disini dan jangan kemana-mana."
Lestari mengangguk patuh dengan perasaan yang semakin panik karena baru kali ini gadis itu melihat seorang laki-laki yang bisa memecahkan gelas dengan tangan kosong. Seperti yang tadi Darren lakukan sampai-sampai telapak tangan laki-laki itu langsung terluka hingga mengeluarkan darah segar.
"Ada apa dengan Dokter Darren?" gumam Lestari pelan yang saat ini sedang bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1