Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Saling Menguatkan


__ADS_3

Beberapa jam sebelum Darren menyusul Agna.


"Om Al keadaannya gimana?" tanya Darius dari seberang telepon. 


"Masih belum sadar pasca operasi Dar, tapi menurutku sebenar lagi bius totalnya akan hilang yang akan membuat Ayah akan membuka mata." Darren yang memang seorang dokter tahu akan hal itu. 


"Semoga Om Al cepat sadar, cepat sembuh juga. Aku hanya bisa bantu lewat doa saja, Ren," kata Darius bersungguh-sungguh. 


"Iya, terima kasih atas doamu kawan, semoga masalahmu juga cepat selesai. Aku berdoa untuk kebaikanmu karena aku juga tidak bisa membantumu kali ini mengingat aku juga sedang mengalami musibah." Darren bukan tidak mau membantu Darius. Tapi keadaanlah yang membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. 


"Iya Ren, aku sangat paham. Maka dari itu aku ini harus bisa menyelesaikan semuanya sendiri tanpa melibatkanmu dan juga Agna." 


Mendengar nama sang istri Darren langsung saja melihat jam di pergelangan tangannya. "Wah, sorry banget Dar. Aku harus mencari Agna dulu karena dia tadi pergi ambil makanan untuk Bunda tapi sampai sekarang dia belum juga kembali." Darren mulai celingak-celinguk sambil memegang ponsel yang saat ini sedang menempel di telinganya. "Aku putuskan saja sambungan telepon ini, nanti kalau aku punya waktu aku akan menghubungimu lagi." Kini Darren mulai merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan Agna.


"Ya sudah, nanti gimana-gimana aku akan datang ke rumah sakit. Kamu tahu sendiri pekerjaanku tidak kelar-kelar membuatku tidak bisa kemana-mana."


"Aku paham, kalau begitu aku putuskan sambungan teleponnya sekarang." Tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya itu Darren langsung saja menekan tombol merah.


Tut … tutt ….


"Aku harus segera menyusul Agna karena entah mengapa aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi padanya." Darren terlihat setengah berlari sambil menelusuri lorong rumah sakit itu. Ia juga tadi rupanya sudah menitip Nawa pada Bi Maria, sang asisten rumah tangga yang sengaja datang ke rumah sakit itu atas permintaan dirinya sendiri. Mengingat ia harus mengurus banyak hal dan tidak akan mungkin Darren membiarkan Agna menjaga putra mereka sendiri yang sedang aktif-aktifnya di saat ibu hamil itu juga harus mengurus Ranum.

__ADS_1


***


Darren terus saja mondar mandir di depan ruangan tepat Agna diperiksa. "Tuhan, selamatkan calon anakku beserta istriku." Doa itu yang terus saja Darren ulang-ulang hingga beberapa kali. "Agna sayang yang kuat, aku sangat yakin kalau kamu mampu melewati ini semua." Pada saat Darren sedang berbicara sendiri. Seorang dokter kandungan yang memeriksa Agna keluar dari dalam ruangan itu.


"Dok, silahkan Anda bisa masuk sekarang melihat istri Anda," kata Liana. 


"Apa calon anak saya baik-baik saja?" tanya Darren yang terlihat jelas saat ini laki-laki itu sedang mengkhawatirkan sang istri.


"Nyonya Agna memang pendarahan Dok, tapi tidak sampai membuat janin yang masih menjadi embrio itu keguguran. Jadi, Anda tidak usah mengkhawatirkan apapun itu karena saat ini keduanya baik-baik saja setelah tadi saya mencoba untuk menghentikan pendarahannya," jawab dokter kandungan itu yang menjelaskan semuanya pada Darren. 


"Apakah itu semuanya benar?" Darren merasa sangat bahagia mendengar semua itu.


"Benar Dok, maka dari itu saya pamit dulu karena harus memeriksa pasien yang lain, sehingga saya tidak bisa berlama-lama di sini." Liana memang memiliki banyak pasien seperti Agna sehingga memang benar ia tidak bisa berlama-lama di sana.


***


"Om suami, tolong maafkan aku." Agna langsung saja meminta maaf pada sang suami pada saat Darren baru saja masuk karena ia takut jika saja laki-laki itu akan memarahinya karena tadi ia sempat mengalami pendarahan. "Aku berjanji, kalau lain kali aku akan jauh lebih berhati-hati supaya kejadian seperti yang tadi itu tidak terulang lagi. Aku benar-benar berjanji Om suami."


"Sayang, apa yang kamu katakan? Tadi itu hanya sebuah musibah sehingga kita tidak tahu itu akan terjadi." Darren berjanji bahwa dirinya tidak akan pernah memojokkan sang istri di saat hal seperti ini terjadi. Sudah cukup waktu itu ia kehilangan kendali sehingga dirinya malah menceraikan Agna ketika istrinya itu mengalami keguguran. "Jika kamu tahu pasti kamu akan jauh lebih berhati-hati, begitu juga dengan aku. Juga tahu ini semua akan menimpamu maka tidak akan aku biarkan kamu mengambil makanan untuk Bunda."


"Tidak, ini semua salahku Om suami. Ini salahku yang selalu saja ceroboh, aku juga tidak pernah berhati-hati ketika melangkahkan kaki ini." Agna terdengar terus saja menyalahkan dirinya sendiri meskipun Darren saat ini sedang berusaha menenangkannya. "Aku memang seorang Ibu yang tidak pernah memikirkan keselamatan anak-anak kita. Maafkan aku … aku benar-benar minta maaf padamu Om suami."

__ADS_1


"Sayang, sudah cukup. Sekarang yang terpenting kamu dan calon anak kita baik-baik saja itu sudah cukup bagiku. Kamu tidak perlu meminta maaf berulang-ulang kali karena jika sesuatu hal buruk terjadi padamu. Itu semua salahku yang tidak mampu menjagamu bukan karena salahmu. Apa kamu paham Sayang?" Darren duduk di bibir bed sambil memegang telapak tangan Agna. "Jadi tolong berhenti menyalahkan dirimu sendiri karena itu hanya akan membuatmu terus saja merasa bersalah."


"Om suami, mulai detik ini aku berjanji kalau saja aku akan menjaga calon anak ketiga kita ini. Seperti dulu aku menjaga Nawa pegang janjiku ini." Agna yang tidak mau mengulangi kesalahan yang berulang-ulang kali mulai berjanji dengan dirinya sendiri dan juga sang suami untuk menjaga kandungannya.


"Aku juga akan menjagamu istriku serta akan menjaga anak-anak kita." Darren mencium punggung tangan Agna. "Jangan pikirkan apapun karena semua sudah baik-baik saja, Tuhan saat ini memang sedang menguji kita habis-habisan karena entah kebahagiaan apa yang sedang menunggu kita di depan sana. Kita saat ini cuma perlu sabar dan ikhlas dalam menghadapi ujian ini karena Tuhan tahu bahwa kita ini bisa melewati semuanya."


"Om suami benar, seperti apa yang sering Bunda katakan pada kita. Kalau saja kita harus bersabar dan ikhlas karena Tuhan tidak akan pernah memberikan kita cobaan dan ujian sesuai dengan kemampuan kita masing-masing." Kini Agna sedikit demi sedikit mulai menerima semuanya dengan hati yang lapang. "Kita harus bisa melewati semuanya, tanpa ada kata menyerah di tengah-tengahnya karena Tuhan ingin melihat sebagaimana kita menghadapi apa yang memang sudah ditakdirkan untuk kita."


Darren tersenyum sambil mengelus perut Agna yang masih datar. "Kita pasti bisa Sayang, dan buat calon anak kita." Darren melihat perut sang istri. "Kuat-kuat di dalam sana, jangan buat Mama sampai kelelahan seperti saat Mama mengandung Kak Nawa. Kamu juga harus sehat-sehat di dalam sana sayang sampai hari H."


"Kita harus seperti ini Om suami, saling menguatkan satu sama lain. Bukan saling menyalahkan karena itu bisa saja membuat hubungan rumah tangga kita menjadi retak, dan kalau sudah retak lama-kelamaan malah akan menjadi rusak." Agna kini ternyata sudah semakin dewasa dari segi pemikirannya. Membuat Darren semakin sayang dengan wanita itu. 


"Harus saling mengingatkan juga Sayang karena aku ini tipe orang yang mudah lupa. Kecuali aku tidak akan pernah lupa dengan apa saja yang telah istriku ini katakan." Kalimat Darren mampu membuat bibir pucat Agna mengukir senyum indah, padahal saat ini perut wanita hamil itu masih sedikit terasa sakit.


"Nah, senyum seperti ini dong. Jangan murung terus seperti yang tadi, kalau begini 'kan, madu sama gula saja kalah jauh manisnya sama senyuman istriku yang tersayang ini."


"Gombal." Agna mencubit perut Darren. "Ingat umur jangan kayak ABG."


"Sstt, tidak apa-apa karena hanya dengan begini saja aku bisa menghibur istriku yang cantik ini. Tidak peduli apa yang akan orang katakan nanti jika saja mereka mendengar gombalanku ini," celetuk Darren yang kini menaik turunkan alisnya hanya untuk menggoda sang istri.


💜💜

__ADS_1


Maaf ya, Author telat Up karena ada sedikit kesibukan di RL.🙏🙏


 


__ADS_2