Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Mengandung Racun


__ADS_3

"Selamatkan Agna dan Nawa, biar aku sendiri yang menangani mereka semua." Meski sudah babak belur Darius terus saja menyuruh Darren untuk menyelamatkan Agna juga Nawa. 


"Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu di saat curut-curut ini malah semakin banyak saja yang datang. Bisa-bisa kamu tidak akan selamat." Meski Darren juga terluka, laki-laki itu terlihat terus saja berusaha untuk melawan orang-orang suruhan Sopian. Ia juga tidak tahu bahwa saat ini anak serta istrinya dalam bahaya.


"Aku tidak masalah Ren, yang terpenting selamatkan Agna serta putramu dulu. Pastikan mereka baik-baik saja karena aku tahu bagaimana liciknya Dokter itu." Darius terlihat menghindar pada saat salah satu preman itu ingin melayangkan bogem mentah serta tendangan ke arahnya. "Sana Ren, selamatkan Agna. Jangan pikirkan aku karena keselamatan anak serta istrimu jauh lebih penting." Darius mendorong Darren supaya ayahnya Nawa itu menjauh dari kepungan orang-orang yang bertubuh kekar itu. 


"Tapi Dar …." Darren terlihat enggan untuk pergi meninggalkan Darius dalam keadaan seperti ini.


Namun, Darren juga merasa bahwa kalimat Darius ada benarnya juga. Dimana ia disuruh untuk melihat bagaimana keadaan Agna dan Nawa.


"Pergilah! Jangan hiraukan aku karena aku yakin sebentar lagi akan ada yang menolongku untuk menghabisi orang-orang yang hanya memikirkan uang ini." Darius terus saja menghindar sambil beberapa kali mencoba untuk menyerang balik. "Ren, pergilah!" seru Darius pada saat ia melihat asap tebal dari kaca ruang operasi yang tidak ditutup oleh tirai kelambu.


"Aku akan pergi, bertahanlah. Semoga bantuan seperti yang kamu katakan cepat sampai dan tidak terlambat. Bertahanlah Darius demi sahabatmu ini." Darren kemudian berlari sambil mengusap darah yang keluar dari hidungnya serta sudut bibirnya.


"Kamu harus ingat Ren, Dokter itu sangat licik!" teriak Darius sebelum laki-laki itu jatuh tersungkur karena ia mendapat tendangan tepat di dadanya.

__ADS_1


***


"Agna apa kamu ada di dalam bersama putra kita?" tanya Darren sambil menggedor pintu ruang operasi itu. "Agna jawab aku, supaya aku bisa masuk." Rupanya Darren tidak tahu kalau di dalam ruang operasi itu ada banyak sekali asap.


"Tolong aku dan Nawa, tolong aku …." Terdengar suara lirih Agna dari dalam ruangan itu.


"Sayang, buka pintunya biar aku bisa membantumu." Darren semakin keras menggedor pintu itu. "Agna sayang, cepat buka pintu ini." Darren tahu bahwa pintu itu hanya bisa dibuka dari dalam saja, membuat laki-laki itu terus menerus menyuruh sang istri untuk membuka pintu yang memang sengaja telah di kunci dari luar itu tanpa diketahui oleh Darren. "Sayang, buka pintu ini." Pada saat Darren terus saja menyuruh Agna membuka pintu. 


Tidak lama malah terdengar suara tepuk tangan yang sangat keras.


"Bagaimana rasanya jika orang yang paling kita sayangi bahkan paling kita cintai meregang nyawa?" tanya seseorang yang baru saja datang dengan seragam dokter yang lengkap.


"Dokter Sopian." Darren mengepalkan tangannya dengan sangat kuat pada saat ia mengenal suara yang tidak asing di indera pendengarannya. Jelas ia juga tahu bahwa apa yang terjadi pada saat ini pasti karena Sopian.


"Senang bertemu dengan Anda Dokter Darren, apa kabar Anda sekarang?" Senyum licik terbit di sudut bibir dokter itu.

__ADS_1


"Lepaskan istri serta anakku, kau berurusan denganku bukan dengan mereka," kata Darren yang berusaha menahan diri supaya amarahnya tidak meledak. Meski sebenarnya ia sangat ingin meninju wajah sang dokter yang menyebabkan semua kekacauan ini.


"Asap yang mengandung racun itu akan melenyapkan istri beserta anak Anda Dokter, sehingga tugas Anda saat ini hanya perlu menyaksikan detik-detik terakhir mereka. Supaya Anda bisa merasakan apa yang saya rasakan ketika putri saya menghembuskan nafas terakhir di jeruji besi." Mulut dokter itu sepertinya tidak memiliki saringan sehingga dengan entengnya ia mengatakan itu semua.


Darren maju beberapa langkah pada saat ia mendengar semua itu, rasanya ia sudah tidak tahan lagi ingin me mu kul Sopian karena telah berani mengurung Agna dan Nawa di dalam asap yang beracun itu.


"Kau!" Darren menunjuk wajah Sopian. "Kau memang licik!" Darren sudah siap akan me mu kul dokter itu.


Namun, tiba-tiba saja suara Al terdengar membuat Darren menoleh serta menghentikan gerakannya.


"Lepaskan putri saya, sebelum istri Anda saya lenyapkan juga!" teriak Al dengan wajah yang merah padam.


💜💜


Author berterima kasih pada semua yang sudah komen maupun selalu minta untuk UP, semoga rezeki kalian berlipat ganda😊🤲

__ADS_1


__ADS_2