
"Nawasena Aslan Louis, apa itu nama yang bagus?" tanya Darren pada Alea juga Ranum pada saat laki-laki itu sedang menggendong putranya. Rupanya tanpa ada rasa takut sedikitpun Darren langsung saja menggendong putranya yang lahir dengan selamat tanpa ada kendala seperti yang sempat di takutkan oleh laki-laki itu.
"Nama cucu Mami sangat bagus, tapi alangkah baiknya kamu harus bertanya dulu dengan Agna," jawab Alea sambil melihat ke arah bed dimana Agna saat ini rupanya sudah sadar.
Namun, rupanya Agna masih dalam pengaruh obat bius bekas operasi. Oleh karena itu, istri Darren itu diam saja dari tadi tanpa mengeluarkan suara. Sebab isi kepala Agna saat ini masih sangat lemot dan ngelag. Membuat wanita itu hanya bisa menatap Darren yang terlihat sangat bahagia.
"Jeng, Agna sepertinya masih dalam pengaruh obat bius. Maka dari itu, dia dari tadi hanya pelanga-pelongo saja," kata Ranum pelan sambil menepuk pundak besannya itu. "Saya juga yakin jika nama cucu kita itu Agna dan Darren sendiri yang membuatnya, apa benar begitu?" tanya Ranum yang sekarang menatap sang menantu.
"Ah, saya sampai lupa Jeng," timpal Alea sambil menyenggol lengan Darren. Seolah-olah saat ini dirinya menyuruh untuk putranya menjawab pertanyaan Ranum. "Jawab pertanyaan Bunda kamu gih, Ren," ucap Alea yang dari tadi memang ingin tahu tentang apakah Agna yang memberikan nama itu untuk cucunya seperti yang dikatakan oleh Ranum tadi.
__ADS_1
"Iya Mi, Bun, Agna sendiri yang memberikan nama itu karena dulu aku yang memberikan nama untuk cucu pertama Mami dan Bunda yang pertama. Nah, sekarang giliran nama yang sengaja telah disiapkan oleh Agna yang aku pakai." Senyum di bibir Darren tidak pernah pudar pada saat ia menjawab pertanyaan dari Ranum tadi. "Nawa, Agna mau nama bayi kami ini di panggil Nawa. Apa menurut Mami dan Banda cocok?" Sekarang Darren terdengar menanyakan nama panggilan untuk bayinya.
"Aslan."
"Louis."
Dengan cara bersamaan kedua wanita itu menyebut nama panggilan yang berbeda untuk cucu mereka. Sehingga membuat Darren langsung saja mengerutkan keningnya karena laki-laki itu heran kenapa Alea dan Ranum menyebutkan nama panggilan yang berbeda beda-beda.
"Louis juga bagus, namanya mudah untuk di ingat. Bagaimana, kamu mau pakai nama panggilan yang mana, Nawa, Aslan, atau Louis?" Alea terlihat menatap putranya. "Ren, jawab dong jangan malah diam saja." Alea yang tidak sabar malah menyuruh Darren untuk menjawab pertanyaannya dengan cepat.
__ADS_1
"Biar adil panggil nama lengkapnya saja, Mi, Bun," celetuk Darren menjawab sang ibu karena saat ini laki-laki itu juga tiba-tiba saja merasa bingung. Padahal awalnya ia sudah matang ingin memanggil putranya dengan nama panggilan Nawa.
Akan tetapi, pada saat Darren mendengar Alea juga Ranum membuat pendiriannya menjadi goyah seketika karena ia merasa bahwa tiga nama panggilan itu sama-sama bagus. Sama-sama enak di dengar juga di indera pendengarannya saat ini.
"Kita tunggu ibu negara saja yang memberikan nama panggilan." Darren yang tidak mau jika nanti Agna akan marah pada dirinya pada akhirnya ia akan menyerahkan semuanya pada sang istri. "Mi, Bun, saat ini kita hanya perlu menunggu keputusan dari Agna, kita tunggu sampai obat biusnya habis. Setelah itu baru kita menanyakan tentang ini. Mengingat selama ini dia terus saja memintaku untuk tidak ikut campur dalam memberikan nama untuk cucu Mami dan Bunda ini."
Alea dan Ranum langsung saja terlihat mengangguk pada saat itu juga karena kedua wanita itu merasa bahwa tidak seharusnya mereka ikut campur dengan pemberian nama cucu mereka saat ini.
...****************...
__ADS_1
Hayo, para pembaca setia Ayuza, mau di kasih nama panggilan apa untuk calon tuan muda sang pewaris keluarga Hugo. Tolong di komen yak😁😁 nanti Author ini akan ambil nama yang paling banyak sesuai dengan apa isi komen kalian😇