Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Bab 87


__ADS_3

Dua minggu berlalu begitu cepat, kini Agna juga terlihat sudah mulai bisa berjalan seperti biasanya. Selama dua minggu ini juga Darren koma sehingga membuat Agna rela bolak balik ke rumah sakit hanya untuk melihat keadaan ayah dari bayi yang saat ini di kandung wanita itu.


"Bun, apa boleh tinggalkan aku dan Darren supaya aku hanya berdua disini?" Agna terdengar meminta Ranum untuk memberikannya waktu berdua hanya dengan Darren di sana.


"Boleh Sayang, tapi ingat jangan seperti waktu itu." Pesan yang selalu saja terlontar dari bibir Ranum untuk putrinya. Setiap kali Agna ingin berduaan saja dengan Darren. "Kalau begitu Bunda akan tunggu kamu di luar, dan sekali lagi Bunda ingatkan jangan seperti waktu itu." Ranum terdengar mengulangi kalimatnya.


Agna mengangguk mengerti, dengan mata yang sudah mulai berembun karena jujur saja dirinya tidak bisa melihat Darren dalam keadaan begini. Sebab hampir seluruh tubuh laki-laki itu dipenuhi dengan alat-alat medis yang membantu Darren supaya laki-laki itu tetap bisa bertahan sampai detik ini.


Bahkan layar monitor bisa terlihat dengan jelas di dekat bed laki-laki itu, juga selang oksigen yang membantunya untuk tetap bernafas. Rasanya wanita hamil itu ingin berteriak sekeras mungkin. Mengatakan kalau dirinya saja yang berada di posisi Darren saat ini.


"Na, Bunda keluar dulu." Ranum menepuk pundak Agna sebanyak tiga kali, karena ia tahu saat ini putrinya sedang melamun. "Jangan melamun, lebih baik sapa saja Darren," ucap Ranum sebelum wanita itu benar-benar keluar dari sana.

__ADS_1


Hanya satu yang bisa Agna lakukan, yaitu mengangguk tanda mengerti dengan apa yang tadi sang ibu katakan pada dirinya.


Hening, setelah Ranum keluar dari ruangan itu. Tidak ada suara apa-apa hanya ada suara jarum jam yang terus saja berdetak hingga berputar dinding tembok. Juga hanya ada suara layar monitor.


Hingga beberapa detik kemudian, Agna mulai terlihat meletakkan bunga tulip yang hampir setiap hari wanita itu bawa untuk Darren, karena ia tahu bahwa bunga tulip adalah bunga yang sangat Darren suka itupun Agna tahu dari Alea. Sehingga membuat wanita hamil itu sangatlah rajin membawakan laki-laki koma itu bunga tersebut.


"Selamat pagi Papa," sapa Agna yang mulai membuka suara dengan bibir yang mulai terlihat bergetar, karena dirinya saat ini sekuat tenaga sedang menahan diri supaya tidak meneteskan cairan beningnya. "Dedek bayi sama Mama sudah datang lagi, apa Papa tidak berniat membuka mata? Hanya untuk sekedar melihat kami berdua." Agna mengelus perutnya yang sekarang sudah terlihat sedikit menonjol. "Dedek bayi sudah berusia 14 minggu lho, Pa. Didalam perut Mama." Agna terus saja berbicara sambil memandang wajah pucat Darren yang masih memiliki beberapa lebam pada wajah laki-laki itu bekas kecelakaan dua minggu yang lalu. Tragedi yang membuat Agna sampai saat bahkan detik ini tidak berani naik mobil lagi. Saking truamanya jika setiap kali ia mengingat kejadian itu.


Agna juga sekarang memegang telapak tangan Darren sambil berkata, "Buka mata kamu, supaya bisa mengucapkan kata rujuk padaku. Bukankah kamu tidak mau melihatku kecentilan dengan pria lain selain kamu? Calon bayi kita juga sangat ingin dielus oleh Papanya." Agna seperti ini setiap kali wanita itu datang. Dimana ia selalu saja mengajak Darren untuk berbicara meskipun ia tidak tahu kalau mungkin saja Darren tidak mendengarnya. "Om suami, bukankah kamu juga mau mendengar dua kalimat yang selalu saja aku ucapkan untuk memanggil dirimu? Oleh karena itu, ayo buka matamu. Apa kamu tidak merasa bosan sudah beristirahat selama dua minggu? Selalu saja berbaring di atas bed ini. Sungguh aku benar-benar iri dengan bed yang lalu saja kamu tiduri ini." Gagal, itu yang Agna katakan di dalam benaknya. Pada saat air matanya harus jatuh lagi dan lagi, rupanya ia tidak sekuat itu. Bahkan untuk sekedar menahan air mata saja Agna tidak bisa.


"Andai waktu bisa kuputar lagi, maka aku berjanji bahwa aku sendirilah yang akan terlebih dahulu mengatakan kalau aku ini sangat mencintaimu, Pak Dosen galak dan mesum." Agna terkekeh dengan air mata yang semakin mengalir deras. "Tapi ... aku terlalu bodoh, ak terlalu munafik, naif juga, sehingga membuatku sangat terlambat menyadari perasaanku ini. Aku akui kalau aku ini juga wanita yang sangat egois, keras kepala yang sangat susah dibilangin." Semua apa yang sering Darren katakan Agna keluarkan saat ini juga.

__ADS_1


"Ren, aku mohon ... ayo buka matamu dan kita akan membuka lembaran baru lagi tanpa ada drama yang aneh-aneh di dalam keluarga kita." Lirih Agna dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Kasihan dedek bayi kita nanti, jika dia lahir tanpa ada kamu. Siapa yang akan menemaniku nanti di ruang persalinan? Siapa juga yang akan membuatkan susu untuk bayi kita nanti serta menggantikan popoknya?" Tanpa Agna sadari air mata laki-laki koma yang ia ajak bicara saat ini juga meneteskan air mata meskipun dengan mata yang masih saja terpejam.


Tidak lama juga, tangan Darren tiba-tiba saja terlihat bergerak. Akan tetapi, Agna yang kebelet pipis langsung saja keluar begitu saja meninggalkan Darren karena wanita itu takut jika dirinya akan ngompol di dalam ruangan itu, mengingat wanita hamil itu juga tidak bisa menahan-nahan jika dirinya kebelet pipis. Agna juga rupanya tidak sempat berpamitan pada Darren saking kebelet pipisnya seorang Agna.


"Agna ...." Tiba-tiba saja terdengar kalimat pertama yang keluar dari mulut Darren meskipun mata laki-laki itu masih saja tetap tertutup sempurna.


🍂🍂


"Bun, kita pulang dulu. Baru kita datang lagi ke sini," kata Agna pada saat wanita hamil itu sudah selesai buang air kecil.


"Tunggu." Ranum memegang tangan sang putri. "Apa terjadi sesuatu dengan Darren?" tanya wanita itu pada saat dirinya melihat beberapa dokter terlihat berlari ke arah ruangan kamar rawat inap Darren.

__ADS_1


"Darren, ada apa dengannya?" Kini Agna tiba-tiba saja menjadi panik pada saat Ranum menanyakan tentang Darren padanya. "Bun, ada apa dengan Darren?" Perasaan Agna semakin tidak karuan pada saat dirinya baru saja menyadari kalau beberapa dokter masuk ke ruangan Darren. "Aku harus melihatnya!" Tanpa mengajak sang ibu kini Agna langsung saja berlari ke ruangan laki-laki yang saat ini sedang di kerumuni oleh beberapa dokter.


Agna juga tidak menghiraukan Ranum, pada saat sang ibu memanggilnya beberapa kali. Membuat Ranum mengejar wanita hamil itu dengan cara berlari juga.


__ADS_2