Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Panggilan Sayang


__ADS_3

Tidak terasa kini sudah satu bulan lamanya setelah kepergian putri mereka Darren dan Agna terlihat terus saja saling menguatkan satu sama lain. Seperti saat ini pada saat pasangan suami istri itu sedang tidur di atas ranjang terlihat Agna terus saja memeluk tubuh Darren meskipun wanita hamil itu merasa sedikit kesulitan karena perutnya yang buncit.


"Maafkan aku yang tidak bisa memberikan hakmu," kata Darren sambil mengelus pipi Agna yang mulus serta berisi karena semenjak hamil berat badan Agna selalu saja naik setiap bulannya. Sehingga membuat Darren menjadi merasa gemas sendiri dengan istrinya itu.


"Jangan membahas itu aku tidak suka," timpal Agna yang memang tidak suka jika saja Darren membahas masalah itu pada dirinya. "Harus berapa kali aku katakan, aku tidak butuh itu yang aku butuhkan hanya Om suami yang akan selalu menemaniku dalam keadaan apapun." Agna memang wanita tulus meskipun selama ini wanita hamil itu selalu saja menangis secara diam-diam jika dirinya berdoa untuk kesembuhan Darren.


"Iya, aku ini tahu. Tapi aku juga merasa sangat bersalah karena pasti kamu juga menginginkan hal itu. Aku dan kamu sudah dewasa Agna. Jadi, aku ini tidak bisa kamu bohongi." Darren sekarang terlihat mengelus perut Agna. "Na, aku sudah memutuskan untuk pergi berobat ke luar negeri karena kata Papi di sana aku pasti akan bisa sembuh dapat di pastikan itu."

__ADS_1


"Kok pembahaskan Om suami malah melenceng ke sana, apa jangan-jangan Om suami mau ninggalin aku sendiri di sini bersama calon anak kita?"


"No, no ... no ... aku ini hanya ingin pergi berobat di dampingi oleh Darius. Bukan malah mau pergi meninggalkan kamu dan calon anak kita, Sayang," timpal Darren yang tiba-tiba saja malah membuat pipi Agna memerah seperti buah tomat. "Dengarkan aku, aku ini hanya ingin pergi berobat supaya aku bisa sembuh total karena aku rasa disini tidak ada perubahan sama sekali. Membuatku memutuskan untuk pergi saja ke negara A seperti apa yang pernah Papi dan Ayah katakan tepat dua minggu yang lalu. Sekarang aku mau bertanya, apakah kamu mengizinkanku untuk pergi berobat?"


"Jangan bahas itu, kita bahas masalah lain saja." Agna bukannya tidak mau mengizinkan Darren pergi berobat. Tapi karena dirinya tidak di perbolehkan ikut maka dari itu Agna ingin suaminya itu pergi berobat ketika dirinya sudah melahirkan saja supaya ia bisa ikut serta untuk pergi ke luar negeri menemani Darren. "Kita bahas masalah lain, aku tidak mau bahas masalah ini karena nanti moodku malah akan menjadi berubah," sambung Agna.


"Aku ikut." Agna mendongak karena saat ini wanita itu sedang tidur di dada bidang sang suami. "Kalau aku ikut, pasti aku akan dengan senang hati setuju dan mengizinkan Om suami untuk pergi berobat."

__ADS_1


"Sayang, perut kamu tinggal akan mungkin bisa di ajak naik pesawat apalagi perjalanan jauh. Untuk kali ini saja dengarkan suamu ini," ucap Darren menimpali Agna.


"Panggilan Sayang, hanya untuk menangkan hatiku saja supaya aku ini mengizinkanmu pergi," gerutu Agna sebelum wanita hamil itu pergi meninggalkan Darren sendiri di dalam kamar itu.


"Sayang, bukan begi–"


Brak!!

__ADS_1


Agna seperti biasa akan membanting pintu jika wanita hamil itu merasa kesal ataupun marah pada Darren.


__ADS_2