Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Di Usir Secara Halus


__ADS_3

Darius rupanya dari tadi mendengar semua percakapan itu, terlihat meremas buket bunga yang ia bawa ia juga memasukkan kembali sebuah kotak kecil yang berisi sebuah cincin berlian.


"Jadi, Saras tidak main-main dengan apa yang dia katakan. Apa ini yang memang di sebut, kalau selama ini aku telah menjaga jodoh orang?" Darius sangat menyesal. Ia juga begitu kecewa pada Saras yang telah tega melakukan ini semua pada dirinya. "Sar, apa salahku? Aku malam ini berniat melamarmu. Tapi apa, aku malah mendengar kenyataan yang begitu pahit ini." Darius yang merasa hatinya sangat sakit bergegas pergi dari sana membawa buket bunga yang sudah ia rusak. Darius baru kali ini merasa bahwa Saras tidak main-main dengan apa yang gadis itu katakan padahal selama ini kalau Saras marah, gadis itu hanya akan memblokir nomor ponsel Darius. Tapi kali ini sangat berbeda .


Tanpa sepengetahuan Darius, Darren rupanya diam-diam mengikuti laki-laki yang saat ini sedang patah hati itu.


"Dar, kamu mau kemana?" Tepat ketika Darius sampai di halaman rumah Al. Darren menepuk pelan pundak sahabatnya itu.


"Ren, aku mau pulang karena sepertinya aku tidak enak badan." Darius terlihat menyembunyikan buket bunga yang sudah rusak itu ke belakangnya. "Lagipula acaranya sudah selesai, untuk beres-beres pasti besok pagi. Maka dari itu aku pamit pulang supaya besok ada tenaga bantu-bantu lagi untuk membersihkan semua apa yang perlu dibersihkan." Darius berusaha untuk menyembunyikan raut wajah sedihnya.


"Saras, kamu harus melamarnya malam ini juga. Seperti yang sudah kamu katakan padaku. Jangan malah mau pergi seperti ini." Rupanya Darren lebih memilih untuk membahas Saras daripada harus membiarkan Darius pulang. Bukan maksud Darren untuk menentang keinginan Bagas tapi karena Darius adalah sahabatnya maka dari itu Darren merasa harus membantu sahabat dari kecilnya itu.


"Jangan bahas itu Ren, aku sudah mendengar semuanya tadi. Jadi, tidak mungkin aku akan merusak semuanya. Bisa-bisa Om Bagas akan semakin membenciku nantinya." Darius tertunduk lesu, ia baru kali ini merasakan cinta yang tak di restui. "Jika Saras bahagia, maka aku akan ikut bahagia karena cinta memang tidak selamanya harus saling memiliki."


"Apa maksudmu Darius? Apa kamu mau menyerah begitu saja? Apa kamu lupa bagaimana perjuanganmu dulu untuk mendapatkan hati Saras?" Darren akan berusaha supaya Darius berani mengungkapkan apa yang ada di hati laki-laki itu di depan Bagas. "Lalu sekarang kamu dengan mudahnya malah melepaskan Saras begitu saja. Sungguh kamu benar-benar laki-laki pengecut Darius!"


"Apa yang bisa aku lakukan? Kamu tadi melihat serta mendengar sendiri. Bahwa Saras menerima perjodohan itu, kedua orang tuanya juga begitu sangat antusias menceritakan calon menantu mereka. Aku yang tidak terpilih ini bisa apa? Aku sadar diri aku bukan orang kaya, aku tidak pantas menjadi pendamping Saras karena sekarang semua diukur dari segi materi." Semakin sesak dada Darius tatkala laki-laki itu mengatakan itu semua. "Sudahlah Ren, mungkin Saras memang tercipta bukan untukku. Dia bukan jodohku melainkan jodoh laki-laki bertubuh jangkung yang ada di dalam itu."


"Jangan begini, ingat jalur kuning belum melengkung." Darren menarik dasi Darius. "Sekarang masuk, dan lakukan apa yang sudah kita rencanakan itu. Tidak ada salahnya kamu mencobanya Darius percaya padaku." 

__ADS_1


"Acara hari H-nya minggu depan Ren, dan kamu menyuruhku untuk melamar calon istri orang. Itu sama saja artinya kalau kamu ingin mempermalukan aku di depan orang banyak." Darius melepaskan tangan Darren yang masih saja menarik dasinya. "Lupakan saja rencana kita itu, aku sudah menerima takdir yang sudah tertulis untukku. Saras juga terlihat sangat bahagia ketika dia tadi datang bersama laki-laki itu. Membuatku berpikir jika saja dia tidak terpaksa menerima perjodohan itu."


"Kau laki-laki lemah Darius!" Darren mendorong sahabatnya itu.


Darius menghela nafas, ia memilih untuk tidak meladeni Darren. "Aku pulang, kamu masuk lah." Setelah mengatakan itu Darius masuk ke dalam mobilnya karena kebetulan tadi ia dan Darren berdiri tepat di sebelah mobilnya.


"Pengecut! Kau akan menyesal Darius!" Darren berbicara sedikit keras pada saat ia mengatakan itu. "Tidak kusangka kalau kau itu melepaskan Saras begitu saja." Darren sebenarnya tahu jika saja Saras saat ini sangat menyesal karena telah mengambil keputusan di saat gadis itu sedang marah. Dapat Darren lihat ketika Saras berbicara dengan Roy terlihat gadis itu tidak ingin menatap wajah laki-laki itu.


"Jangan ikut campur, biarkan saja dia menyelesaikan masalah di dalam hatinya sendiri." Hugo tiba-tiba saja datang dan berdiri di belakang putranya membuat Darren menoleh. "Urus saja anak serta istrimu, jangan suka campuri urusan orang."


"Papi, Darius sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri. Maka dari itu aku sangat tidak rela melihatnya seperti ini. Bisa-bisanya dia kalah saing dengan orang baru."


Darren terdiam karena ayahnya Nawa itu sedang mencerna setiap kalimat yang Hugo katakan. Membuatnya menjadi berpikir juga bahwa memang Darius bukan laki-laki pengecut. Mengingat sahabatnya itu sering kali menjemput Saras langsung ketika Bagas ada di rumah.


***


Jam sebelas malam terlihat Darius saat ini sedang berdiri di depan pintu yang berwarna biru corak putih. Ia juga terus saja memencet tombol bel rumah itu.


"Apa mereka semua sudah ti–" Kalimat Darius terputus karena pintu rumah itu tiba-tiba saja terbuka.

__ADS_1


"Darius, sedang apa kamu di sini?" Sonia, wanita itu yang ternyata sudah membuka pintu.


"Selamat malam Tente, apa Saras ada di dalam?" tanya Darius dengan senyum tulus yang terukir di bibirnya. 


"Saras sudah tidur, untuk apa kamu mencarinya malam-malam begini?" Sambil menguap beberapa kali Sonia berusaha untuk bersikap ramah dengan Darius. Padahal wanita paruh baya itu juga tidak begitu menyukai Darius setelah tahu semua kebenarannya dari Bagas.


"Saya cuma mau mengembalikan ini Tante." Darius terlihat mengembalikan semua apa saja yang telah Saras belikan untuknya. "Saya mohon berikan pada Saras, Tante."


Tanpa pikir panjang Sonia langsung saja mengambil kardus besar itu dari tangan Darius. "Baik, sekarang kamu bisa pulang. Tidak enak dilihat tetangga kalau ada laki-laki yang bertamu hampir tengah malam begini." Sonia terdengar mengusir Darius secara halus.


"Kalau begitu saya pulang dulu Tante." Darius berbalik, tapi suara bariton Bagas malah terdengar sangat jelas.


"Mau apa kamu datang kesini? Apa kamu mau mengajak Saras kabur dari rumah ini?"


Tangan Darius terkepal kuat di bawah sana, rasanya ia sangat ingin sekali memberikan Bagas bogem mentah karena ia merasa gara-gara Bagas. Saras menjadi menerima perjodohan itu.


💜💜


Kakak² nggak apa² ya, kisah Saras dan Darius dulu. Jangan marah🤗 jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like dan komen.😍

__ADS_1


__ADS_2