
Di Kantor polisi Darren terlihat duduk dengan tenang sambil menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh polisi yang saat ini sedang bertugas mengintrogasinya.
"Baik, nama Anda tadi siapa, Pak?" tanya Tedi seorang polisi yang saat ini menatap Darren dan Agna secara bergantian.
"Darren," jawab laki-laki itu singkat.
"Apa pekerjaan, Bapak?"
"Saya ini bekerja di rumah sakit dan salah satu Universitas yang paling terkenal di kota Jakarta ini." Darren menjawab dengan jujur, karena laki-laki itu tidak pernah suka dengan kebohongan.
"Boleh saya lihat kartu tanda pengenal An–" Belum selesai kalimat Tedi suara laki-laki yang baru saja datang terlebih dahulu terdengar membuat kalimat polisi itu terputus .
"Dia anak serta menantu saya. Jadi, bebaskan dia," ucap Al yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Agna dan Darren dengan jarak cuma tiga meter.
Polisi yang bernama Tedi itu langsung saja berdiri dan membungkuk tanda hormat pada Al. Sebab polisi itu tidak menyangka bahwa para penduduk desa sebelah malah salah tangkap orang.
"Maaf Tuan, saya sama sekali tidak tahu kalau mereka ini anak serta menantu Anda." Tedi mengulangi kalimatnya beberapa kali, karena polisi itu tidak memiliki alasan yang kuat untuk tidak mempercayai Al. Karena Al orang yang sudah banyak berjasa dalam membantu para polisi itu untuk memecahkan kasus berat seperti narkoba dan bahkan kasus korupsi.
"Lepaskan mereka karena mereka ini memang benar adalah pasangan suami istri," kata Al sambil menunjukan duplikat buku nikah Darren dan Agna. "Ini buktinya, dan Pak Tedi bisa membebaskan mereka. Karena saya rasa ini semua hanya tentang kesalahpahaman saja."
Tedi dengan cepat mengangguk sambil membuka borgol di tangan pasangan suami istri yang saat ini mimik wajah mereka begitu masam mematapnya agak sedikit tajam.
"Ayah." Lirih Agna yang sekarang berbalik sambil berdiri dan segera berlari memeluk sang Ayah. Setelaj borgol pada tangan gadis itu telah behasil di buka.
Karena rupanya beberapa menit yang lalu, Agna diam-diam telah mengirim pesan pada Al dengan sisa daya baterai yang gadis itu miliki.
__ADS_1
Sedangkan Darren pada detik itu juga langsung bisa bernafas dengan lega, karena mertuanya itu datang pada tepat waktu.
"Sekarang ayo kita pulang, ini sudah hampir larut malam," ujar Al yang membalas pelukan putrinya itu. "Ren, kamu bisa pulang sama Om Bagas, dia sekarang ada di luar dan untuk Agna biarkan dia pulang bersama Ayah."
Darren yang harus kembali ke rumah sakit dengan cepat mengangguk. "Baik, kalau begitu aku pergi dulu. Ayah tolong jaga Agna baik-baik." Darren menimpali ayah mertuanya itu sambil berlalu pergi, setelah tadi laki-laki itu sempat berpamitan.
"Kamu harus hati-hati di jalan, dan kasih tahu Om Bagas jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya!" seru Al saat melihat punggung menantunya itu mulai menghilang di balik pintu kantor polisi itu.
"Tuan Al, sekali lagi saya minta maaf." Tedi mengulangi kalimatnya yang meminta maaf pada Al. Karena polisi itu benar-benar merasa tidak enak hati saat ini.
"Sudahlah Ted, tidak apa-apa yang terpenting ini hanya sebuah kesalahpahaman saja." Al menepuk bahu polisi itu pelan. "Selamat bertugas, saya mau pamit pulang dulu. Karena putri saya ini sepertinya sudah ngantuk."
"Kalau begitu saya akan antar Anda sampai di depan, Tuan." Dengan nada sesopan mungkin Tedi mengatakan itu pada Al.
***
"Kamu ini ngapain pakai acara minta tolong sama warga itu?"
"Pasti Darren sudah memberitahu ayah semuanya. Oleh sebab itu, Ayah menanyakan ini semua padaku. Awas saja kau dosen me sum!" gerutu Agna yang malah membatin bukannya menjawab pertanyan sang ayah.
"Agna, Ayah tanya kenapa kamu meminta tolong sama warga setelah kamu berhasil lompat dari mobil?"
Deg ....
Jantung Agna sepertinya saat ini rasanya sedang berhenti berdetak sejenak, karena pertanyaan Al yang pria paruh baya itu ulangi lagi.
__ADS_1
"Ayah, apa Darren menceritakan sudah menceritakan semuanya?" Agna sekarang malah bertanya balik dengan takut-takut.
"Bukan suamimu yang menceritakan Ayah," jawab Al sambil beberapa kali melirik putrinya itu.
"Lalu siapa?" Agna bertanya lagi karena gadis itu sangat penasaran.
Al mengelus lembut rambut Agna dengan penuh sayang sambil menjawab, "Agna, polisi yang tadi di sana itu adalah teman Ayah. Jadi, dialah yang sudah memberitahu semuanya pada Ayah, dan Ayah sangat berharap kamu jangan pernah melakukan itu lagi karena yang kamu lakukan itu sangat salah Agna."
Tatapan mata Al begitu teduh tidak seperti biasa yang selalu saja menatap Agna tajam jika putrinya itu melakukan kesalahan. Tapi kali ini Al terlihat sangat berbeda.
"Ayah mohon dengan sangat, jangan pernah lakukan itu lagi karena Ayah sangat menyayangi Agna. Sebab jika sesuatu hal buruk terjadi padamu maka Ayah tidak akan bisa memaafkan diri Ayah ini sendiri," ucap Al.
Agna menunduk karena saat ini gadis itu tiba-tiba saja menyesali perbuatannya yang terkesan sangat gegabah jika mengambil keputusan tanpa memikirkan sebab dan akibatnya.
"Maafkan aku ... aku janji tidak akan pernah mengulanginya lagi, Yah."
"Iya, jangan ulangi lagi karena nyawa kamu itu cuma satu Agna, bukan sembilan seperti kucing yang bebas melompat dari manapun yang kucing itu mau. Karena nyawa mereka banyak," celetuk Al yang malah terdengar bercanda.
Sedangkan Agna yang mendengar itu langsung saja tersenyum, sambil mengusap butiran bening yang tadi sempat menetes di pipi mulus gadis itu.
"Jangan ceritakan ini pada Bunda, ya," pinta Agna saat gadis itu membayangkan ekspresi wajah Ranum. "Ayah, janji sama aku jangan cerita sama Bunda."
"Iya, Ayah akan merahasiakan ini asal kamu juga jangan nekat. Bagaimana apa Agna setuju?"
Agna mengangguk. "Oke, aku setuju. Ayah memang laki-laki yang paling aku sayang di dunia ini," ucap gadis itu tulus.
__ADS_1