
Di dalam mobil tidak ada yang berani membuka suara, karena mereka bertiga saat ini sedang larut dalam pikiran mereka masing-masing. Beda halnya dengan Agna yang masih saja betah memejamkan mata karena wanita yang sudah tidak perawan itu lagi masih juga belum sadarkan diri.
"Hm, ngomong-ngomong kita harus pergi kemana?" tanya Darius yang pada akhirnya membuka suara. Setelah tadi laki-laki yang sedang menyetir itu sempat terdiam.
"Antar aku pulang saja," jawab Darren sambil menahan kepala Agna yang saat ini sedang bersandar pada bahunya.
"Kalau gadis ini bagaimana?" Darius sekarang menanyakan tentang Saras yang sedang duduk di depannya saat ini.
"Kamu bisa antar dia pulang, setelah kamu mengantarku terlebih dahulu Darius. Aku sangat berharap juga setelah ini kamu jangan menanyakan apapun lagi padaku." Darren mengatakan itu karena ia takut jika saja Agna akan terbangun karena mendengar suara Darius.
Darius langsung saja mengiyakan Darren, sebab laki-laki itu tahu apa yang saat ini Darren takutkan.
__ADS_1
Sedangkan Saras tetap diam saja, sambil menunduk malu karena gadis itu tidak tahu harus melakukan apa, selain hanya bisa bungkam sambil memikirkan apa yang akan Agna lakukan jika wanita itu sadar nanti. Ditambah Agna pasti akan sangat marah jika mengetahui kalau wanita itu sudah tidak perawan lagi.
Meskipun yang melakukan itu semua adalah suami Agna sendiri. Namun, rasa takut di dalam lubuk hati Saras masih saja tetap was-was. Mengingat julukan Agna kalau wanita itu sangat bar-bar sekali. Sehingga membuat Saras merasa jika sesuatu hal buruk pasti akan terjadi kalau Agna sadar nanti.
"Hei, kasih tahu aku alamat menuju rumahmu," bisik Darius saat menoleh ke arah Saras, karena Darius merasa jika letak rumah gadis itu pasti tidak terlalu jauh dari rumah Darren.
Saras yang ditanya langsung saja mengangkat sedikit wajahnya sambil menjawab, "Ja-jalan menuju ru-rumahku tadi su-sudah lewat." Wanita itu terdengar malah terbata-bata.
"Kata Pak Darren, kamu harus mengantar beliau dulu tadi. Makanya aku hanya diam saja." Saras menjawab sambil terlihat menunduk lagi.
Darius hanya bisa menghela nafas, dan menghembuskannya dengan kasar melalui hidungnya.
__ADS_1
***
Tepat ketika Darren akan masuk ke dalam rumahnya tiba-tiba saja laki-laki itu malah melihat kedua orang tuanya yang sudah menunggunya dari tadi di teras depan rumahnya.
"Mami, Papi." Darren dengan cepat semakin erat menggendong Agna, karena ia tidak mau kalau sampai kedua orang tuanya itu akan curiga dengan dirinya. "Kenapa malah datang ke sini malam-malam begini?"
"Papi dan Mami yang seharusnya bertanya padamu Darren, kemana malam-malam begini kamu pergi membawa Agna. Tidak tahu kah kamu kalau saat ini mertua kamu sedang mengkhawatirkan putri mereka." Hugo semakin mendekat ke arah putranya.
"Kita bisa bicara di dalam saja Pi, karena di dalam mobil itu ada Darius dan teman Agna." Darren lalu terlihat segera masuk ke dalam rumah yang kebetulan tidak dikunci itu. "Ayo Mami juga ikut masuk, biar aku jelaskan semuanya di dalam," sambung laki-laki itu, yang tidak sadar kalau di lehernya banyak sekali tanda me rah disana yang terlihat sangat jelas.
🍂🍂
__ADS_1
(Up tipis-tipis dulu ya kak🙏🙏 jangan lupa komen biar author semakin rajin buat up).