
"Kamu sama Nawa diam saja di rumah, biar Ayah dan Bunda saja yang ke rumah sakit," kata Al yang takut jika saja Agna nanti akan memarahi Darren di sana.
"Ayah, aku mau ikut karena tidak mungkin aku akan diam di sini pada saat Mami Alea sedang ada di rumah sakit." Agna menggeleng kuat. Wanita itu rupanya tidak setuju jika saja ia harus berdiam diri di rumah kedua orang tuanya. "Aku harus tau bagaimana keadaan Mami, jangan sampai hal buruk terjadi pada Oma Nawa itu." Agna juga sangat mengkhawatirkan keadaan Alea, sang ibu mertua yang sudah Agna anggap seperti Ranum. Ibu kandungnya sendiri.
Sehingga selama ini Agna tidak pernah membedakan antara Ranum juga Alea karena di matanya mereka sama saja. Dimana kedua wanita itu juga sangatlah berarti di dalam hidupnya.
"Sayang, sudah malam. Kamu diam saja di rumah sama Nawa seperti kata Ayah." Ranum rupanya juga tidak setuju jika saja Agna ingin ikut ke rumah sakit. "Badan Nawa juga anget, sepertinya cucu Bunda itu mau demam. Makanya Bunda larang kamu untuk ikut, jangan sampai cucu Bunda yang gembul itu malah rewel nantinya di sana."
"Tapi Bun …."
"Sttt, sudalah sayang. Tenangkan dirimu karena Bunda sangat yakin mertuamu itu tidak apa-apa. Mungkin dia hanya kecapekan makanya sampai pingsan." Ranum berusaha berpikir negatif meskipun hasil di dalam benaknya selalu positif. "Sekarang kamu pergi ke kamar Bunda gih, nanti Nawa bangun mau ne nen mengingat si gembul itu tidak bisa jauh dari yang namanya asi."
Mau tidak mau pada akhirnya Agna memilih untuk mengalah saja, toh mau seperti apapun ia memaksa untuk ikut. Ranum dan Al pasti tetap tidak akan mengizinkannya, mengingat memang benar kalau saja suhu tubuh putranya Nawa sedang tidak normal seperti biasanya.
__ADS_1
"Baiklah, Bunda sama Ayah hati-hati di jalan. Nanti kalau sudah sampai jangan lupa kabarin aku."
Terlihat Al dan Ranum merespon putri mereka dengan cara mengangguk, sebelum pasangan suami istri itu keluar dari kamar putrinya karena orang tua Agna itu ingin segera menuju ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Alea.
***.
Bunyi bel berhasil membuat Agna yang baru saja berbaring di sebelah Nawa terpaksa bangun lagi.
"Lho, bukannya barusan Bunda sama Ayah pergi. Lalu kenapa sekarang sudah pulang saja? Apa jangan-jangan ada yang ketinggalan?" Agna lalu terlihat dengan cepat turun dari atas ranjang karena wanita itu tidak mau menebak-nebak sendiri. Agna juga dengan sangat hati-hati sekali melangkahkan kakinya ia takut kalau nanti putranya malah bangun.
Tidak berselang lama kini Agna sudah terlihat berdiri di pintu utama, dimana wanita itu sudah siap akan membuka pintu itu karena suara bel itu malah membuatnya kesal sendiri.
"Ish, Bunda apa-apaan sih, sudah tau cucunya lagi tidur malah pencet bel kek gini." Rupanya Agna masih saja mengira kalau di luar itu adalah kedua orang tuanya.
__ADS_1
Ting nong, ting nong … ting nong ….
"Iya Bun, sebentar!" Agna meraih knop pintu itu dan dalam hitungan detik pintu itu terbuka. Bersamaan dengan itu juga Agna langsung saja mematung.
"Sayang, Nawa mana?" Ternyata yang memencet bel itu adalah Darren. Rupanya Al langsung saja mengirimkan Darren pesan singkat, menyuruh menantunya itu untuk datang ke rumah itu. Mengingat di rumah itu hanya ada Nawa dan Agna saja. Sebab ART di sana sedang pulang kampung. "Sayang, kok kamu malah diam saja?" Darren mencoba ingin meraih tangan sang istri.
Namun, Agna dengan cepat menepis tangan laki-laki itu.
"Pergi! Jangan pernah cari aku ataupun Nawa. Bersenang-senanglah bersama wanita itu." Sakit, sesak, itu yang Agna rasakan pada saat ia mengatakan itu semua. Netra wanita itu juga malah berembun.
"Sayang, tidak ada wanita lain selain kamu. Percayalah padaku, jangan percaya pada wanita yang tidak jelas itu." Darren lalu terlihat memeluk tubuh Agna yang saat ini terguncang hebat karena ibunya Nawa itu sedang menangis.
🍂🍂
__ADS_1
Apa kabar kalian semua? Apa udah bosan dengan novel ini?