
"Mas, apa jangan-jangan Agna memang masih hamil?" Ranum yang memang belakangan ini selalu saja memperhatikan sang putri bertanya seperti itu pada suaminya.
"Bun, jangan membuat putri kita menjadi semakin terluka. Jika dia mendengar apa yang Bunda katakan saat ini." Al menaruh segelas kopi yang saat ini pria paruh baya itu pegang. Ketika ia menjawab pertanyaan Ranum.
"Kita periksa saja Agna ke Dokter kandungan kenalan Bunda di rumah sakit waku itu bagimana? Sebab Bunda merasa aneh, karena Agna hampir setiap hari ada saja yang ingin di makan oleh putri kita membuat Bunda benar-benar merasa ada yang tidak beres. Persis seperti Bunda pas hamil putra kita yang ketiga." Entah mengapa tiba-tiba saja Ranum menjadi kepikiran untuk memeriksa Agna ke dokter kandungan yang lain. "Mas, apa Mas setuju dengan apa yang tadi Bunda katakan?"
Al sempat terdiam sebelum laki-laki itu mengiayakan permintaan sang istri, karena menurut Al tidak ada salahnya jika mereka memeriksa sang putri ke dokter kandungan yang lain.
"Baiklah, Mas setuju jika Bunda mau memanggil Dokter Jesika ke sini. Mas tidak salah sebut nama 'kan?" Al pada akhirnya benar-benar setuju, karena baginya juga tidak ada salahnya mengecek lagi.
"Bunda akan menghubunginya dulu, dan memang benar namanya teman Bunda itu adalah Jesika," jawab Ranum. "Mas bisa kasih tahu Dokter Malvin kalau Agna sekarang banyak perubahan." Ranum sekarang terlihat menggeser layar benda pipihnya pada saat ia mengatakan itu pada Al.
Al megangguk, ia juga telihat ingin menghubungi dokter psikiater Agna yang selama ini menangani putri mereka yang di kabarkan depresi.
Namun, detik berkutnya pria paruh baya itu mengurungkan niatnya karena Al baru saja menyadari sesuatu.
"Bun, bukannya Dokter Malvin sudah ada di dalam kamar Agna?" tanya Al pada saat laki-laki itu baru menyadari jika saja Malvin–dokter psikiater Agna sudah berada di kamar putri mereka saat ini.
"Lho, kapan Dokter Malvin datang?" Ranum yang tidak tahu kapan Malvin datang malah bertanya balik pada sang suami. "Kok Bunda benar-benar tidak tahu."
"Ada Bun, Dokter Malvin sengaja datang pagi-pagi sekali karena katanya, dia nanti sore tidak bisa datang. Oleh sebab itu, dia jadi datang sekarang saja untuk memeriksa perkembangan putri kita seperti apa," jawab Al yang memang benar-benar lupa memberitahu Ranum. "Kalau Bunda mau melihat Dokter Malvin, Bunda bisa pergi sekarang ke kamar putri kita," sambung Al.
"Bunda mau menghubungi Dokter Jesika dulu, siapa tahu teman Bunda itu bisa datang kesini," timpal Ranum yang sekarang terlihat mulai menghubungi Jesika–Dokter kandungan sekaligus sahabat Ranum.
Al mengangguk tanda mengiyakan sang istri sebelum pria paruh baya itu terlihat mengambil segelas kopi yang saat ini menjadi minuman vaforitnya. Al juga masih saja berusaha terlihat tenang meskipun sebenarnya pria itu sangat ingin memberikan Darren pelajaran, karena telah berani-raninya mempermainkan putrinya sehingga membuat Agna menjadi seperti saat ini.
***
Di dalam kamar Agna, terlihat Malvin terus saja mengajak wanita itu untuk berkomunikasi. Dokter psikiater itu juga beberapa kali terlihat tertawa bersama Agna.
"Bagimana apa sekarang sudah terasa lebih baikan?" tanya Malvin disela-sela tawa renyah dokter itu.
"Aku selalu baik-baik saja, kok Dok. Bunda sama Ayah saja yang terlalu berlebihan mencarikan aku Dokter psikiater seperti Dokter," jawab Agna dengan bibir yang berhias senyum. "Padahal aku tidak apa-apa, cuma saja aku sempat merasa kecewa sama laki-laki yang menceraikan aku tanpa tahu salahku dimana. Padahal saat ini aku masih mengandung bayinya sampai sekarang." Agna menunduk supaya bisa melihat perutnya, karena posisinya saat ini sedang duduk di bibir ranjang.
__ADS_1
Malvin yang mendengar itu meraih tangan Agna sambil berkata, "Apa kamu masih memiliki rasa pada laki-laki itu?" tanya Malvin yang sekarang terlihat menyingkirkan anak rambut Agna.
"Maaf Dok, aku tidak bisa menjawab apa yang Dokter tanyakan itu, karena aku berhak memiliki kata privasi yang tidak berhak orang lain tahu. Aku ya aku, tanpa harus aku kasih tahu siapapun termasuk Dokter Malvin." Agna lalu menarik kembali tangannya yang Malvin pegang, karena entah mengapa Agna merasa tidak nyaman jika dokter itu memegang tangannya seperti saat ini. "Sekali lagi aku minta maaf Dok, karena aku masih sangat menjunjung tinggi kata privasi di dalam diri ini." Agna sempat terdengar meminta maaf pada Malvin.
"Ah, tidak apa-apa. Wajar saja kamu masih memiliki rasa padanya karena ini baru saja delapan minggu kamu bercerai dengannya." Malvin memaksakan bibirnya untuk tersenyum padahal dokter psikiater itu sedikit merasa kecawa pada Agna, karena sebenarnya dirinya sudah memiliki rasa pada Agna, pada saat dirinya baru bertemu dengan wanita itu. "Hm, apa mau jalan-jalan di pagi yang cerah ini?" Malvin sekarang mencoba untuk mengajak Agna jalan-jalan.
"Boleh, kebetulan aku mau makan seafood. Apa Dokter tahu dimana kuliner makanan itu berada?" Mata Agna berbinar-binar pada saat dirinya menanyakan itu pada Malvin.
"Aku tahu," jawab Malvin antusias, karena ia senang jika kali ini Agna akan mau di ajak jalan-jalan olehnya. "Kalau begitu kamu bersiap-siap dulu, kau akan menunggumu di luar," sambung dokter itu.
Agna dengan cepat mengangguk. "Dokter saat ini memang benar-benar tahu 'kan?"
"Iya Agna, aku tentu saja tahu karena aku sering ke sana." Malvin memang tahu tempat itu oleh sebab itu ia menjawab Agna dengan penuh keyakinan. Bukan sekedar omong kosong yang mau hanya mengajak Agna jalan-jalan saja. "Buruan siap-siap gih, aku mau ke bawah sekalian minta izin sama Ayah dan Bundamu."
Agna terlihat mengangguk sambil berjalan ke arah kamar mandi, karena wanita itu ingin membersihkan diri sebelum pergi bersama Malvin.
***
Beberapa menit kemudian kini Agna terlihat menuruni anak tangga, wanita itu terlihat begitu sangat cantik dengan rambut yang dibiarkan terurai. Dress selutut yang berwarna putih semakin menambah kecantikan Agna semakin berlipat-lipat.
"Sangat cantik sekali," gumam Malvin membatin, laki-laki itu juga terlihat tersenyum pada saat Agna juga tersenyum ke arahnya.
"Wah putri Bunda sangat cantik."
Suara Ranum membuat Malvin langsung saja merubah ekspresi wajahnya, karena dokter itu tidak mau jika saja Ranum tahu kalau dirinya mengagumi Agna secara diam-diam.
"Mau kemana sudah dandan cantik seperti ini?" tanya Ranum padahal tadi Malvin sudah memberitahunya. Akan tetapi itu hanya sebagai kalimat basa basinya saja pada sang putri.
"Bun, aku mau pergi jalan-jalan sama Dokter Malvin. Apa boleh?" Senyum Agna semakin mengembang pada saat wanita itu bertanya pada Ranum.
"Boleh Sayang, asal kamu jangan lupa sama waktu." Ranum lalu merih tangan Agna, pada saat putrinya itu sudah sampai di anak tangga paling terakhir.
Agna menggeleng. "Tentu saja aku tidak akan lupa pada waktu Bun, kalau begitu aku pergi dulu. Ayo Dok, kita segera berangkat nanti keburu siang."
__ADS_1
Ranum merasa sedikit lega, karena berkat bantuan Malvin, Agna sekarang mulai terlihat ada perubahan walaupun hanya sedikit. Tapi Ranum sangat yakin jika saja Agna akan secepatnya akan melewati masa-masa ini, karena jujur saja wanita itu tidak akan mungkin bisa melihat Agna dalam keadaan begini terus. Dimana putrinya itu harus selalu saja didampingi oleh seorang dokter psikiater.
"Hati-hati ya Sayang, jangan minta aneh-aneh nanti disana," ucap Ranum berbisik di indera pendengaran Agna. "Apa kamu mendengarkan apa pesan Bunda ini?" tanya Ranum.
"Iya Bun, aku tidak akan aneh-aneh." Agna lalu melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana setelah tadi ia menjawab sang ibu, dan diikuti oleh Malvin di belakangnya, Agna terus saja terlihat berjalan dengan langkah kaki yang agak sedikit anggun, karena wanita itu sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dirinya mau merubah sedikit demi sedikit apa saja hal-hal jelek yang melekat pada dirinya. Membuatnya merasa harus benar-benar berubah niatnya supaya bisa membuat Darren menyesal.
Sebab laki-laki itu sudah meninggalkan dirinya pada saat dirinya mulai memiliki sedikit rasa. Sehingga tekat Agna untuk merubah diri semakin besar.
"Kamu harus bisa merubah dirimu sendiri Agna, bila perlu biarkan laki-laki brengsek itu mengemis pada dirimu," gumam Agna membatin.
***
"Duduk dulu," kata Malvin pada saat dokter itu dan Agna sudah sampai di tempat tujuan. Kedai makan di pinggir jalan yang menyajikan banyak sekali jenis-jenis seafood di tempat itu.
"Pasti Dok–" Kalimat Agna terputus pada saat Malvin malah menutup mulut wanita itu menggunakan jari telunjuknya.
"Agna, panggil saja aku dengan namaku jika kita berada di luar seperti ini. Biar kita semakin akrab," ucap Malvin sambil menarik kursi untuk Agna. "Bukan maksudku apa-apa. Tapi supaya kita tidak sungkan satu sama lain."
Agna terdiam karena wanita itu saat ini ia baru saja menyadari jika saja Malvin sudah mulai memiliki rasa padanya. Tetapi Agna tetap berusaha terlihat biasa saja. Sebab wanita itu juga tidak mau ke-GRAN dulu karena mungkin saja tebakannya saat ini bisa saja salah.
"Ah, baiklah Vin." Agna dengan cepat memecah keheningan yang tadi. "Sekarang pesankan aku ini, ini ... ini dan ini." Agna menunjuk beberapa menu yang ada di buku daftar menu. "Pesan semua untukku, karena Ayahku juga kebtulan sangat suka degan seafood maka dari itu aku ingin membungkusnya juga untuk Ayahku."
"Boleh, tapi aku pergi ke toilet seben–" Kalimat Malvin terputus gara-gara bogem mentah yang dokter itu terima dari arah samping.
"Kurang ajar! Berani-beraninya kamu jalan dengan wanita yang masa iddahnya saja belum selesai," kata laki-laki yang mungkin saja saat ini sedang terbakar api cemburu. "Tidak punya malu!"
"Hei!" teriak Agna yang kaget bukan main pada saat wanita itu melihat Darren dengan wajah putih laki-laki yang sekarang berubah menjadi merah. "Apa urusan Anda jika masa Iddah saya belum selesai. Apa bergetar ginjal Anda, hah?" Agna dengan cepat menarik tangan Malvin supaya dokter pskiaternya itu mendekat ke arahnya. "Jangan mentang-mentang Anda Dosen sekaligus Dokter, bisa seenaknya memperlakukan orang lain seperti ini."
"Pulang Agna!" Darren menarik pergelangan tangan Agna. Sehinga membuat orang-orang yang ada di kedai itu semua menatap ke arah Darren juga Agna.
Agna menepis tangan Darren. "Siapa Anda, yang berani menyuruh saya pulang? Apa senbelumnya kita pernah saling kenal?" Agna tersenyum mengejek ke arah Darren.
...****************...
__ADS_1
Agna menggunakan dress selutut💜