
Setelah ada drama mual dan nama panggilan om suami untuk Darren kini pasangan suami istri itu sudah terlihat mulai terlelap di atas ranjang yang sama, tapi dengan selimut serta bantal yang berbeda mereka juga terlihat saling membelakangi satu sama lain dan pembatas dua bantal guling.
Namun, tepat pada pu kul 3 dini hari tiba-tiba saja suara Agna yang muntah membuat Darren terpaksa membuka mata.
"Kapan aku akan bisa tidur dengan nyenyak, jika aku akan terus-terusan muntah seperti ini?" Agna bertanya pada dirinya sendiri pada saat wanita itu sudah berlari menuju kamar mandi. Dimana saat ini Agna terus saja duduk di keloset hanya untuk memuntahkan cairan bening. Ia juga terlihat memegang perutnya yang seperti sedang di aduk-aduk.
"Agna, kamu tidak apa-apa?" tanya Darren sambil memakai kacamatanya.
"Aku muntah, kamu masih saja bertanya seperti itu!" ketus Agna yang setiap kali melihat wajah Darren bawaannya wanita itu kesal dan terus saja terbawa emosi.
Darren mendekat ke sang istri dan mengulurkan tangan dengan. "Ayo kembali tidur lagi, ini masih dini hari dan biarkan aku membuatkanmu teh saja jika tidak suka air rebusan jahe, karena sepertinya kamu harus minum teh supaya rasa mualmu akan benar-benar terasa sedikit berkurang." Meski Darren merasa sangat ngantuk sekali. Tapi laki-laki itu berusaha untuk tetap terjaga supaya dirinya bisa menuntun Agna utntuk kembali ke atas ranjang seperti beberapa jam yang lalu.
"Tidak usah repot-repot Om suami, lebih baik kamu kembali tidur saja karena aku bisa kembali sendiri tanpa membutuhkan bantuanmu," timpal Agna yang mengibas-ngibaskan tangannya pada saat tangan laki-laki itu masih saja terulur.
"Ayolah Agna, jangan sampai aku terlihat seperti orang yang tidak memiliki hati nurani." Darren sekarang memegang lengan Agna. "Biar aku bantu, di kamar mandi dingin tidak baik untukmu."
"Oh, kamu mau aku muntah di kasur begitu? Jika disini dingin." Agna semakin memegang perutnya, karena setiap kali ia marah-marah dengan Darren pasti rasa mualnya akan semakin bertambah. Seolah-olah janin yang masih berbentuk gumpalan darah itu tidak mau jika Agna terus saja marah-marah ataupun berkata ketus pada sang ayah.
__ADS_1
"Bukan begitu, kamu bisa hidup aroma minyak kayu putih. Sementara aku akan membuatkan kamu teh dulu," kata Darren lembut.
Agna yang merasa memang sangat kedinginan segera keluar dari kamar mandi, ia juga tidak mau di bantu oleh Darren sehingga tangan laki-laki itu yang sempat memegang lengannya ia tepis dengan kasar seperti biasanya.
"Jika begini terus maka aku tidak akan mungkin betah akan satu kamar denganmu selama enam bulan ke depan," gumam Darren pelan.
"Bodo amat!" sahut Agna yang berjalan dengan sangat pelan-pelan sekali.
"Dia memang bukan sembarang wanita, sangat aneh sekali karena jika wanita di perlakukan lemah lembut maka akan luluh lah dia semakin memiliki tanduk membuatku tidak bisa melakukan apapun." Darren membatin sambil membilas bekas muntahan Agna, karena tadi wanita itu tidak membilasnya malah membiarkannya begitu saja.
***
Namun, ada yang aneh karena laki-laki itu malah tidak melihat Agna di atas ranjang itu. Padahal Darren sebelum keluar tadi sempat melihat Agna masih duduk sambil bersandar di kepala dipan ranjang itu.
"Lho, pergi kemana dia?" Darren meletakkan mapan itu di atas nakas dan sekarang ia terlihat mencari Agna ke dalam kamar mandi. Tetapi wanita itu malah tidak ada disana, sehingga membuat Darren panik sebab ia berpikan jika saja Agna malah kabur seperti malam itu. "Jangan sampai Agna kabur seperti malam itu, karena bisa-bisa Papi akan sangat marah besar padaku." Kini Darren terlihat mencari Agna di bawah kolom ranjang karena ia berpikir jika sang istri bersembunyi di sana. Tetapi hasilnya Agna tidak ada di sana membuat Darren kini semakin panik.
"Agna, Agna ... agna ... Na, Agna, dimana kamu? Jangan mamin petak umpet tidak lucu." Darren masih saja terus mencari sang istri, ia juga sempat membuka gorden kelambu tapi hasilnya sama Agna tidak ada di situ. "Agna, Agna ... Agna, kamu dimana?!" Darren terlihat seperti orang gila yang terus saja berteriak dini hari memanggil nama wanita yang sedang hamil muda itu.
__ADS_1
Darren juga berlari keluar dari kamar itu saking paniknya seorang Darren. "Agna, jangan main petak umpet ini tidak lucu sama sekali." Laki-laki itu lalu menaiki anak tangga hanya untuk mencari Agna ke lantai dua, karna ia berpikir jika saja Agna tadi naik ke sana. "Agna! Jangan bercanda. Ayolah kamu keluar karena segelas air tehmu sudah jadi." Meski laki-laki itu tidak yakin kalau Agna ada di kamarnya. Tetapi entah mengapa Darren tetap saja melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamarnya. "Semoga saja di ada di dalam," ucap Darren penuh harap jika Agna ada di sana saat ini.
Darren terlihat baru saja akan memegang gagang pintu tapi tiba-tiba saja pintu kamarnya sudah terbuka terlebih dahulu membuat jantung Darren hampir saja berhenti berdetak karena ia sangat kaget.
"Ngapain teriak-teriak?" tanya Agna pada saat wanita yang sedang hamil muda itu yang membuka pintu kamar Darren.
"Kamu yang ngapin, malah ada disini?" Disaat aku mencarimu di kamarmu." Darren menggeleng-gelangkan kepalanya pada saat laki-laki itu melihat Agna sekarang sedang memakai kemejanya berlengan panjangnya. "Ini juga ngapain kamu pakai kemejaku?"
Agna tersenyum dengan sangat lebar sehingga giginya yang putih bersih dan sangat rapi terlihat dengan sangat jelas.
"Kita tidur di kamarmu saja, karena aku sudah merasa tidak mual lagi jika aku berada disini. Bagaimana apa kamu setuju, Om suami?" Agna mengedip-ngedipkan matanya. Sungguh mood wanita itu saat ini tumben sangat baik sekali sehingga ia tidak marah-marah pada sang suami. "Aku juga memakai kemejamu ini karena aku merasa nyaman," sambung Agna.
"Huh, tadi kamu membuatku panik Agna, tau-tau kamu sudah ada disini. Tidak bisakah kamu memberitahuku dulu kalau kamu akan ke kamarku? Supaya aku tidak teriak-teriak tidak jelas seperti yang tadi." Darren tidak tahu saja bahwa kalimatnya ini akan membuat mood Agna yang tadi baik-baik saja malah akan kembali ke setelan pabriknya.
"Kamu marah padaku?" tanya Agna dengan mimik yang masam.
"Bukan marah, tapi ... seharusnya kamu bilang dulu sama ak–"
__ADS_1
Bukkk!!
Agna menutup pintu kamar Darren dengan sangat kasar, sehingga kalimat sang suami terputus.