
"Belok kiri, karena disini kita disuruh belok kiri," kata Darius setelah mereka berdua dari tadi hanya mutar-mutar di jalan raya itu-itu saja.
"Jangan, terus-terusan menyuruhku belok kiri saja, sampai di tempat tujuan kagak pusing malah iya," celetuk Darren yang memang benar sekarang laki-laki itu malah pusing, karena dirinya tidak bisa menemukan keberadaan Agna. Padahal hampir 30 menit mereka di dalam perjalanan hanya untuk mencari gadis bar-bar itu.
"Jalan Ren, kali ini kita akan menemukan keberadaan Agna, dan yang terpenting kamu jangan khawatir kalau aku ini akan membohongimu." Darius yang dari tadi terlihat terus saja mengotak atik laptopnya terus saja berusaha meyakinkan seorang Darren.
"Ayo Ren, jalan saja jangan malah diam saja seperti manekin, karena kalau kita diam disini terus kapan kita akan sampai pada tujuan kita coba?" Darius, laki-laki yang sangat jago dalam hal IT menunjukkan layar laptopnya pada Darren supaya suaminya Agna itu percaya kalau saat ini Darius tidak sedang berdusta maupun membual.
"Apa kamu masih mau diam saja disini?" tanya Darius sekali lagi, hanya untuk sekedar memastikan saja.
__ADS_1
"Apa ini adalah jalan yang menuju ke hutan?" Darren tiba-tiba saja malah bertanya seperti itu pada Darius.
Darius yang ditanya, hanya bisa mengangguk sebagai respon laki-laki itu pada Darren. "Ngomong-ngomong, dari mana kamu tahu?"
"Kita jalan saja, nanti aku jawab biar kamu semakin penasaran karena dari tadi kamu malah memberikanku alamat yang tidak jelas." Darren sekarang terlihat memutar mobilnya, hanya untuk berbalik karena laki-laki itu tahu dimana jalan pintas menuju hutan yang tadi Darius perlihatkan jalannya.
"Lho, kok malah muter. Apa kamu mau mengajakku pulang?" Darius malah salah sangka pada Darren sehingga ia bertanya seperti itu.
"Ren! Kalau mau modar jangan ngajak-ngajak dong, karena aku belum menikah!" Terdengar Darius terus saja berteriak di dalam mobil karena laki-laki itu sangat takut. Disaat mobil yang Darren kendarai di atas kecepatan rata-rata. "Ren, aku mohon jangan ngebut-ngebut begini karena aku tidak mau, kalau nanti malah nyawaku yang akan menjadi taruhannya."
__ADS_1
Sedangkan Darren sama sekali tidak menghiraukan Darius, meskipun laki-laki itu menyuruh dirinya untuk hati-hati dalam hal mengendarai mobil. Namun, Darren yang saat ini sangat ingin mengetahui keadaan sang istri yang seperti apa, laki-laki itu malah berpura-pura tuli supaya kalimat Darius tidak terlalu penting laki-laki itu pikirkan.
***
"Hentikan semua ini Lian, jangan malah membuatku membenci dirimu!"
"Setelah ini aku yakin kamu tidak akan membenciku lagi Agna," kata Lian yang sekarang akan terlihat menyuntikkan obat perang sang itu pada dirinya.
Namun, siapa sangka saat jarum itu akan menusuk kulit lengan Lian tiba-tiba saja Agna memberontak sehingga menyebabkan jarum suntik itu malah menancap sempurna di pa ha Agna.
__ADS_1
"Astaga, apa yang kamu lakukan Agna?" mulut laki-laki itu seolah-olah saat ini sangat panik. Akan tetapi, di dalam benaknya Lian malah bersorak kegirangan karena malam ini Agna sendiri yang akan meminta untuk disentuh tanpa ada dasar keterpaksaan. Sehingga membuat laki-laki yang sangat licik itu malah terlihat turun dari atas ranjang itu dengan hati-hati sekali. Sebab yang harus Lian lakukan saat ini hanya perlu menunggu obat itu bereaksi dan setelah itu baru dirinya akan melanjutkan misinya yang akan bercocok tanam.
"S*alan! Cairan apa yang kamu suntikkan padaku, bedebah?" Agna tiba-tiba saja merasa bahwa tubuhnya saat ini sangat panas. Sehingga membuat gadis itu malah menggeliat. "Brengsek kau Lain, obat apa ini?" Agna sekarang terlihat seperti cacing kepanasan, di tambah tatapan matanya mulai sayu.