Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Diculik


__ADS_3

Agna tersenyum ketika menatap laki-laki yang sedang memegang pergelangan tangannya, gadis itu sama sekali tidak tahu kalau dirinya saat ini sedang dalam bahaya.


"Eh, kamu datang kesini juga rupanya. Pasti hanya untuk melepas semua beban yang selama ini semakin menumpuk." Agna semakin melebarkan senyumnya saat ia mengatakan itu semua.


"Tentu saja Agna, bagaimana jika kita sedikit minum biar bebannya semakin terasa jauh lebih berkurang. Apa kamu setuju?" Laki-laki itu sekarang malah terdengar mengajak Agna untuk meminum minuman yang ha ram itu. "Ayolah Agna, hanya sedikit karena aku juga tidak bisa meminum minuman beralkohol terlalu banyak."


Agna menggeleng karena gadis itu memang datang ke klub malam hanya untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Namun, untuk mencicipi minum keras itu sama sekali tidak pernah terlintas di dalam otaknya yang kurang iman.


"Sedikit saja Agna, biar kamu bisa tahu bagaimana rasanya dunia ini hanya milikmu, iya Agna hanya milikmu." Laki-laki itu terdengar terus saja memaksa Agna untuk meminum minuman yang ha ram itu.


"Nggak Lian, aku tidak ingin menyentuh minuman itu apalagi meminumnya. Sungguh itu semua tidak pernah aku pikirkan dan aku bayangkan," kata Agna yang lagi-lagi terdengar menolak ajakan laki-laki yang ternyata adalah Lian. Teman kelas Agna yang selama ini sudah menaruh hati pada dirinya sejak Agna baru saja masuk ke Universitas. Namun, Agna sama sekali tidak pernah menyadari akan hal itu. Saking sibuknya seorang Agna memperhatikan Dave sehingga ia tidak sempat memperhatikan laki-laki lain seperti Lian dan juga Darren yang sudah nyata-nyata adalah suami dadi gadis bar-bar itu.


"Lagipula aku juga harus pulang, kasihan Saras yang sudah menungguku lama di sana." Agna menunjuk sebuah sofa yang berada paling ujung. Namun, gadis itu malah tidak melihat keberadaan Saras. "Lho, Saras mana? Tadi dia ada di sana tapi sekarang kok tidak ada kira-kira pergi kemana dia?" Agna kebingungan saat Saras yang tiba-tiba saja tidak ada disana.


"Tadi Saras katanya mau pulang duluan, dan dia menitip kamu padaku." Lian, laki-laki itu malah berbohong.

__ADS_1


Agna yang mendengar itu langsung saja menggeleng kuat. "Tidak mungkin, Saras tidak akan mungkin membiarkanku sendiri di sini. Kamu pasti membohongiku, Lian." Agna lalu terlihat segera keluar dari lingkaran manusia-manusia yang sedang asik melenggak-lenggokkan tubuh mereka sambil mengikuti irama musik. "Minggir Lian, aku harus mencari Saras karena tidak biasanya dia begini." Agna sekarang terlihat mendorong dada Lian, supaya laki-laki itu tidak menghalangi jalannya.


"Agna dia sudah pulang, kalau kamu masih tidak percaya cari saja dia disini. Aku yakin pasti kamu tidak akan menemukan keberadaannya." Lian memegang pergelangan tangan gadis itu lagi. "Jika kamu mau pulang ayo, aku saja yang mengantarmu karena tidak baik gadis malam-malam begini pulang sendiri," ucap Lian sambil menatap Agna.


"Tidak usah Lian, aku bisa pulang sendiri." Agna melepaskan cengkraman tangan Lian dengan kasar, karena gadis itu tiba-tiba saja malah menjadi risih saat melihat tatapan Lian padanya agak sedikit berbeda.


"Tidak apa-apa Agna, tadi aku ajak kamu minum sedikit tidak mau. Masa sekarang aku mau mengantarmu pulang tidak boleh."


"Niatmu memang baik Lian, tapi maaf saja aku tidak bisa pulang ke rumahku bersama laki-laki, karena Bunda dan Ayahku bisa saja marah." Agna berharap supaya Lian mau mengerti dengan apa yang ia katakan. Meskipun saat ini gadis itu sedang berbohong pada laki-laki itu.


"Hanya mau mengantarmu saja Agna, bila perlu aku akan mengantarmu sampai persimpangan jalan saja bagaimana?"


"Saras sudah pulang duluan, itu artinya dia baik-baik saja," jawab Lian demi meyakinkan Agna.


Agna yang memang mengenal Lian laki-laki yang baik lagi-lagi terlihat mengangguk, menandakan bahwa gadis itu percaya. "Baiklah, kalau begitu ayo antar aku pulang," kata Agna yang sekarang terlihat mendahului Lian.

__ADS_1


***


Di dalam mobil Agna sempat heran karena jalan yang saat ini di lewati oleh Lian nampak asing diindera penglihatannya. Sehingga membuatnya yang dari tadi asik mengobrol dengan laki-laki itu mulai membuka suara demi menanyakan jalan mana yang mereka lewati.


"Ini perasaan bukan jalan yang menuju rumahku," ucap Agna sambil mencoba melihat jalan yang ada di depannya saat ini.


"Ah iya, aku lupa memberitahumu kalau ini itu jalan pintas menuju ke rumahmu Agna, dan maaf tadi aku terlalu fokus menyetir sehingga lupa meminta persetujuan darimu," timpal Lian dengan mulut pembohongnya. "Nggak apa-apa 'kan, kita lewat jalan pintas ini?"


Agna menoleh dan menatap Lian yang ada di sebelahnya. "Ini sudah hampir tiga puluh menit kita dalam perjalanan Lian, tapi sampai sekarang kita tidak kunjung datang di rumahku. Apa jangan-jangan kita tersesat?"


"Tidak Agna, kita pasti sebentar lagi akan sampai, lebih baik sekarang kita ngobrol-ngobrol lagi seperti yang tadi biar tidak terasa nanti kita tiba-tiba sampai di rumahmu." Dengan kalimat yang sudah disusun rapi-rapi Lian terus saja meyakinkan Agna.


"Lian selama ini aku pulang hanya butuh waktu dua puluh lima menit saja baru sampai di rumahku, tapi kenapa saat bersamamu sekarang hampir menuju ke tiga puluh lima menit. Namun kita tidak kunjung sampai?" Kini rasa takut mulai hadir di dalam lubuk hati Agna. Apalagi saat gadis itu melihat Lian memegang sebuah sapu tangan bersamaan dengan itu Lian juga menginjak pedal rem secara mendadak. "Eh, kok sekarang kamu malah ngerem mendadak? Apa kamu mau menculikku?" tanya Agna tiba-tiba disaat firasatnya mulai tidak enak.


"Agna," panggil Lian dengan suara seraknya karena saat ini lak-laki itu sedang menahan sesuatu yang sudah berdiri tegak di bawah sana.

__ADS_1


"Lian, apa yang kamu laku–" Kalimat Agna terputus saat sapu tangan itu Lian arahkan pada bibir dan mulut gadis itu. Sehingga detik berikutnya pengelihatan Agna menjadi gelap gulita.


"Maaf Agna, karena hanya dengan cara begini aku akan bisa memilikimu," gumam Lian pelan sambil mengelus pipi pulus gadis yang saat ini sudah pingsan itu. "Aku akan segera memilikimu, tidak akan ada lagi drama kamu yang tidak mencintaiku Agna," sambung Lian yang sekarang terlihat mulai menjalankan mobilnya lagi. Setelah tadi laki-laki itu berhenti hanya untuk membius Agna. "Malam ini kamu dan aku akan bersatu Agna," sambung Lian sambil tersenyum licik. Karena laki-laki itu sudah berhasil menculik Agna.


__ADS_2