
"Pi, mau sampai kapan Papi terus-terusan mengurung diri di dalam kamar seperti ini? Lihatlah Nawa sampai bisa duduk tapi Papi masih saja berlarut-larut dalam kesedihan," kata Darren yang memang masih sedih atas kepergian Alea meskipun ini sudah 3 bulan lamanya.
Hugo tak bergeming, pria paruh baya itu terus saja menatap ke arah luar jendela tepat di sebelah sudut kamarnya. Seolah-olah ia tidak menghiraukan kalimat sang putra. Meskipun Darren selalu saja mengulang kalimat yang sama di setiap laki-laki itu masuk ke dalam kamar pria paruh baya yang sekarang selalu saja menghabiskan waktu di dalam kamar.
"Nawa kangen dengan Papi, dia rindu Opanya yang dulu sering menggendongnya." Darren kembali lagi membuka suara meskipun ia tahu kalau saja Hugo tidak akan pernah mau meresponnya sama seperti yang sebelum-sebelumnya. "Jika Papi begini terus, aku yakin Mami di atas sana tidak akan bisa tenang karena Papi sampai sekarang tidak bisa mengikhlaskan kepergiannya." Hembusan nafas Darren terdengar begitu berat. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara berkomunikasi dengan sang ayah. Membuat Darren lama-kelamaan merasa seperti berbicara dengan orang yang sudah tiada.
"Aku juga merasa sangat-sangat kehilangan Pi, tapi mau bagaimana lagi. Bukankah kita juga akan kembali kepada-Nya? Kita hanya tinggal menunggu waktu saja." Pada saat Darren terus saja berbicara kepada Hugo tiba-tiba saja Darius datang menghampiri Darren dengan wajah yang terlihat begitu panik.
"Ren, ada yang harus kamu tahu," kata Darius berbisik. "Ini tentang Ika," sambung laki-laki itu dengan mimik yang terlihat begitu serius.
"Ada apa dengan wanita itu?" tanya Darren yang merasa penasaran karena tidak biasanya Darius datang seperti ini lalu membahas tentang Fika. Wanita yang telah berhasil ia masukkan ke dalam jeruji besi.
"Kita bicara di ruang tamu, tidak enak di sini," jawab Darius.
Darren mengangguk karena ia tahu bahwa ini pasti hal yang sangat serius.
"Tunggu saja aku di ruang tamu, nanti aku menyusul ke sana karena saat ini aku masih mau berduaan dulu dengan Papi, mengingat dua hari lagi aku harus pergi ke luar negeri untuk melakukan operasi sekaligus mengurus perusahaan Papi yang dikabarkan akan bangkrut." Darren sengaja mengatakan itu, supaya Hugo mendengarnya bahwa perusahaan yang ada di luar negeri sedang mengalami masalah.
__ADS_1
Darren juga sangat berharap setelah Hugo mendengar kabar ini, pria paruh baya itu akan kembali seperti sedia kala tidak seperti saat ini yang terlihat seperti mayat hidup.
"Pi, apa Papi tidak berniat untuk melihat perusahaan yang Papi bangun dari nol ke luar nege–"
"Keluar!" Hugo dengan cepat memotong kalimat Darren yang belum usai. Sebab pria paruh baya itu sudah tidak memiliki sedikit saja keinginan untuk mengurus perusahaannya sendiri.
"Baiklah, kita bahas ini di lain waktu lagi. Pi." Darren lalu terlihat keluar dari kamar sang ayah, membawa segudang kekecewaan yang teramat dalam sebab sifat Hugo yang seperti ini.
***
"Ika bu n dir di penjara." Kalimat Darius membuat Darren tersedak karena posisi ayahnya Nawa itu saat ini sedang minum.
"Minumnya yang pelan-pelan saja, nggak akan ada yang minta," celetuk Darius.
"Kita ke kantor polisi sekarang." Setelah berhenti terbatuk-batuk Darren langsung saja mengajak Darius untuk pergi ke rumah sakit.
"Jangan sekarang." Darius menggeleng tanda tidak setuju. "Di sana saat ini masih riuh karena keluarganya tidak terima dengan apa yang terjadi. Sebab mereka mengira kematian Ika ada hubungannya denganmu. Mengingat waktu itu kamu sempat mengatakan bahwa nyawa harus dibalas dengan nyawa."
__ADS_1
Rupanya tidak butuh waktu yang lama Darren dan Darius menangkap Fika atas tuduhan pencemaran nama baik. Darius juga berhasil mendapatkan rekaman cctv yang menunjukkan bahwa saja Darren tidak pernah menghamili Fika, dan itu semua hanya jebakan wanita ular itu saja supaya Darren mau menikahinya.
Namun, apa yang Fika harapan tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Dimana niat busuk wanita itu malah di ketahui oleh Darren berkat Darius yang kesana kemari mencari kebenaran.
"Kita kesana besok saja, untuk sekarang aku benar-benar tidak setuju." Darius terdengar masih saja melarang Darren untuk pergi ke kantor polisi.
"Aku hanya ingin melihat wajah orang-orang yang terlibat dalam menjebakku, sehingga membuat Mami pergi meninggalkanku." Raut sedih di wajah Darren masih terukir sangat jelas. "Kita akan tetap pergi ke sana," sambung Darren.
Namun, pada saat ia beranjak dari duduknya, tiba-tiba saja Agna terdengar berteriak histeqris dari dalam kamarnya.
"Nawa! Nawa hilang!"
Deg.
Detak jantung Darren langsung saja berdetak dengan sangat kencang pada saat ia mendengar itu semua dari mulut sang istri.
"Nawa, kemana putraku itu?"
__ADS_1
💜💜
Komen kakak² sebagai penyemangat Author biar semangat buat up😊