Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Minta Maaf


__ADS_3

"Bro! Obat yang gue pesan mana?" tanya pria gondrong berperawakan seperti preman kampung itu pada Darius.


Darius tersenyum sambil menjawab, "Tenang, gue udah beliin buat lo." Darius menepuk tas yang saat ini laki-laki ini bawa. "Di dalam sini ada obat itu. Jadi, lo nggak usah khawatir."


Rangga, nama teman dari Darius itu memberikan isyarat pada Darius. Menyuruh laki-laki itu untuk segera memberikan obat yang Rangga pesan.


"Sabar napa, lo kan, mau malam pertama nanti malam. Tapi kenapa lo malah mau ambil obat itu sekarang?" Darius meletakkan tasnya, karena saat ini laki-laki itu ingin mengambil obat operangs4ng yang Rangga minta.


"Jangan ngomong kenceng-kenceng, nanti yang lain pada tahu jika gue ini sudah menikah." Rangga meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri. "Sekarang lo tinggal berikan saja pada gue."


Darius mengangguk dan memberikan obat yang Rangga minta. "Nih, semoga gue bisa cepat menyusul lo ke pelaminan," seloroh Darius bercanda. Padahal laki-laki itu selama ini tidak pernah dekat dengan wanita manapun.


"Nyusul, nyusul lo aja nggak punya pacar. Bisa-bisanya lo mau ke pelaminan. Minimal ada pacar baru sebut palaminan," celetuk Rangga.


"Pergi gih, lo ganggu gue kerja aja." Darius malah terdengar mengusir Rangga.


"Oke gue cabut dulu," timpal Rangga yang kini terlihat pergi, tepi langkah kaki pengantin baru itu tiba-tiba saja terhenti gara-gara ia melihat tulisan pada obat itu. "Sialan lo Dar, gue ini mau obat perangs4ng bukan obat sakit perut!" Rangga berbalik dan memperlihatkan obat itu pada Darius. "Baca anj*r! Ini oralit."


Darius yang mendengar itu langsung saja melihat obat yang Rangga maksud. "Oralit." Deg, jantung Darius langsung saja berdetak tidak karuan. "Mamp*s gue. Darren pasti akan membuat perhitungan dengan gue." Kini laki-laki itu terlihat mengacak-ngacak rambutnya dengan sangat kasar.


"Lo jangan bilang kalau obat gue ketuker sama punya tuh Dokter dingin," ucap Rangga yang juga ternyata adalah teman Darren. "Dar, lo kasih tau gue cepat. Jangan malah diam saja lo."

__ADS_1


"Masalahnya obat lo dan Darren benar-benar ketuker." Hati Darius kini gelisah, karena ia sudah salah memberikan Darren obat.


"Lo gimana sih, gimana ceritanya coba? Obat gue dan dia bisa ketuker seperti ini. Kalau begini bisa gagal gue malam pertamanya." Rangga sedikit merasa kesal pada Darius.


"Sorry, gue tadi buru-buru ke sini. Mungkin saja itu yang membuat obat lo ketuker," kata Darius yang sekarang malah membayangkan Darren dan Agna akan bercocok tanam pada saat dosen serta dokter itu sedang sakit.


"Bac*t lo, Dar, pokoknya gue mau lo beliin gue obat itu lagi dan nih, gue kembaliin obat mencret lo." Ragga meletakkan obat itu di atas meja Darius. "Gue pamit pulang dulu, lo pokoknya nanti sore harus bawain gue obat itu ke rumah. Jangan ada kata tapi-tapian bahkan kata lo sibuk."


Darius mengangguk lemah, karena saat ini laki-laki itu terus saja memikirkan bagaimana keadaan Darren.


"Sangat ceroboh!" gerutu Darius yang malah memarahi dirinya sendiri.


***


"Kamu memang kurang ajar, mengambil kesempatan dalam kesempitan," ucap Agna lirih dengan suara seraknya, sebab wanita hamil itu terus saja berteriak bahkan menjerit mencaci maki Darren. Akan tetapi, suaminya itu malah lebih bergair4h mendengar suara Agna yang seperti itu. "Kalau aku tahu kejadian seperti ini akan terjadi lagi pada diriku, mungkin aku tidak akan mau menolong laki-laki mesum sepertimu!" ketus Agna.


Darren malah semakin mempercepat gelaran maju mundurnya, pada saat laki-laki itu merasakan lahar panas yang berwarna putih akan keluar lagi. Sehingga membuat mata Darren terpejam sambil merasakan nikm4t yang sangat luar biasa sekali pada saat otot-otot pada pisang jumbonya menegang.


"Ahh, Ahh… hhh …." Suara lenguhan serta de sa han keluar begitu saja dari mulut Darren. Sebelum laki-laki itu jatuh tumbang ke samping tubuh sang istri yang sekarang sama-sama lemah tak berdaya.


"Kamu memang mesum Darren!" gerutu Agna sebelum wanita hamil itu memejamkan mata, karena saat ini ia sudah terlalu capek dan matanya juga terasa berat sehingga membuatnya merasa harus tidur dulu demi mendapatkan tenaganya lagi, yang sempat terkuras gara-gara ulah Darren.

__ADS_1


Sedangkan Darren sama seperti Agna, dimana laki-laki itu juga langsung saja memejamkan mata karena sungguh saat ini tenaganya benar-benar sudah terkuras habis-habisan. Sebab ini juga pertama kalinya Darren bercocok tanam dengan Agna sebanyak tiga kali membuat laki-laki itu tepar.


***


Malam menjelang, terlihat Agna makan dengan sangat lahap sekali setelah beberapa jam yang lalu wanita hamil itu membersihkan tubuhnya dari bekas sisa-sisa pertarungannya dengan sang suami.


"Aku membencinya, dasar mesum!" gerutu Agna membatin. Sambil terus saja menyuap makanan yang tadi sempat ia pesan melalui online juga sama seperti Darreng yang tadi siang memesan makanan untuk dirinya. "Jika saja aku terus-terusan berada disini maka si c4bul itu akan terus saja menodai diriku," sambung wanita itu membatin.


Tidak berselang lama, Darren terlihat menghampiri Agna karena saat ini laki-laki itu juga ingin meminta maaf pada sang istri.


"Na, maafin aku." Darren terdengar meminta maaf pada Agna, saat laki-laki itu saat ini sudah berdiri di sebelah Agna. "Aku benar-benar minta maaf, karena Darius memberikanku obat yang salah." Darren akan terus berusaha meminta maaf pada Agna, laki-laki itu juga akan menjelaskan semuanya pada wanita itu.


"Agna, aku minta maaf ... aku tahu bahwa aku bersalah dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon maafkan aku." Darren terdengar terus saja meminta maaf, laki-laki itu juga terus saja mengulangi kalimatnya berulang-ulang kali.


"Maaf? Dasar kurang ajar! Bisa-bisanya dia meminta maaf padaku, dan apa katanya tadi. Si Darius memberikannya obat yang salah, apa dia pikir aku ini akan mudah percaya dengannya. Ya kali aku akan tertipu dengan wajah sok lugu dan polosnya itu." Agna bergumam di dalam benaknya karena saat ini wanita itu sedang mogok bicara dengan Darren.


"Apa bayimu tidak apa-apa? Hmm ... maksudku apa calon bayi kita tidak apa-apa?" Darren sekarang menanyakan tentang keadaan bayi yang ada di dalam rahim Agna. "Apa dia baik-baik saja di dalam sana?" tanya Darren sekali lagi.


"Enyahlah kamu Darren! Jika saja aku tidak lapar mungkin saja aku ini tidak akan mau berdiam disini. Karena menghirup udara di dalam satu ruangan seperti ini malah membuat dadaku semakin terasa sesak." Tentu saja Agna mengatakan itu semua di dalam hatinya, karena saat ini ia benar-benar mau mogok bicara.


Darren yang tahu kalau saat ini dirinya bersalah, akan terus saja meminta maaf pada Agna sampai wanita hamil itu akan memaafkan dirinya.

__ADS_1


"Agna, aku ini benar-benar meminta maaf padamu. Jadi, tolong maafkanlah aku. Nanti kalau Darius datang kamu boleh marah padanya, kamu juga boleh memberikannya pelajaran karena ini semua terjadi karena murni kesalahannya yang sangat ceroboh. Bisa-bisanya obat sakit perut malah di tukar pakai obat perangs4ng," kata Darren.


"Kesalahannya sendiri, tapi sekarang malah menyalahkan orang lain," batin Agna


__ADS_2