Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Salah Paham


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan begitu cepat kini tidak terasa perut Agna sudah mulai membesar karena usia kandungan wanita itu sudah enam bulan. Sehingga membuatnya harus selalu saja menggunakan baju yang kebesaran supaya tidak ada yang tahu tentang kehamilannya.


Sekarang juga hubungan Agna dan Darren semakin dekat, layaknya pasangan suami istri pada umumnya dimana mereka juga sudah tidak merasa malu satu sama lain lagi.


"Na, tidak usah pakaikan aku pampers. Mungkin aku sudah bisa pergi ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil," kata Darren yang merasa kasihan jika saja Agna terus saja mengurus dirinya pada saat perut wanita itu sudah sangat buncit, yang Darren juga inginkan ia ingin belajar untuk tidak berketergantungan dengan istri juga pampers.


"Aku tidak setuju, Om suami harus tetap memakai pampers selama aku pergi kuliah karena aku takut nanti Om suami nanti malah akan jatuh jika pergi sendiri ke kamar mandi." Agna terdengar tidak setuju dengan apa yang sang suami katakan.


"Aku ingin belajar supaya tidak menyusahkanmu lagi." Darren menunduk pada saat dirinya mengatakan itu.


Agna langsung saja berlutut di depan kursi roda sang suami. Pada saat ia mendengar kalimat Darren.


"Siapa bilang Om suami menyusahkanku? Aku selama ini justru merasa sangat senang karena sudah bisa membantu Om suami sampai sejauh ini. Jadi, stop jangan mengatakan apapun lagi dan ingat dengan janji kita yang mengucapkan akan selalu bersama dalam keadaan apapun." Agna terlihat meraih tangan Darren.


"Suamiku, berhenti merasa tidak enakan karena aku ini bukan orang lain. Melainkan wanita yang selalu saja akan berdiri disampingmu meskipun badai kehidupan didepan sana mungkin saja sangat dahsyat." Pancaran mata Agna memancarkan bahwa wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu itu benar-benar sangat terlihat tulus. Pada saat ia melontarkan kalimat itu satu baris demi baris.


"Maafkan aku yang tidak berguna ini Ag–" Kalimat Darren menggantung di udara pada saat jari telunjuk Agna malah menutup bibir laki-laki itu.


"Sttt, aku mohon ... jangan katakan apapun lagi karena Om suami itu sangat berarti di dalam hidupku. Sekarang kita sarapan karena aku mau berangkat kuliah dulu." Agna berdiri dengan sangat hati-hati karena sekarang perutnya sering terasa kram jika saja dirinya tidak hati-hati saat bangun dari tidur bahkan saat berdiri dari duduknya seperti saat ini. Om suami kalau lapar dan kebetulan aku belum pulang kuliah. "Aku hampir saja lupa, kalau Om suami lapar dan aku belum pulang kuliah, Om suami bisa makan langsung karena di atas meja aku sudah menyiapkan makanan juga obat yang harus diminum," sambung Agna.


Hening, keduanya sedang larut dalam pikiran mereka masing-masing. Sebelum Darren terdengar membuka suara.


"Iya, kalau begitu kamu harus hati-hati bawa motornya karena aku selalu saja merasa takut jika saja hal-hal yang tidak diinginkan terjadi," kata Darren yang hampir setiap hari mengingatkan sang istri akan hal itu. Laki-laki itu juga langsung saja mengalihkan pembicaraan supaya dirinya tidak melukai perasaan Agna karena Darren merasa jika dirinya tidak bisa membahagiakan Agna maka seharusnya dirinya jangan malah terus-terusan membuat hati sang istri terluka dengan perkataannya sendiri.


"Selalu aku ingat," timpal Agna yang sekarang terlihat mendorong kursi roda Darren ke arah ruang makan karena dirinya mau sarapan dulu sebelum berangkat kuliah. Mengingat bayi yang ada di dalam perut Agna terus saja menendang-nendang minta untuk wanita itu segera mengisinya.


***


"Hai Bumil, apa kabar?" tanya Saras pada saat gadis itu melihat Agna baru saja datang. Rupanya persahabatannya dengan Agna tidaklah semudah itu berakhir sehingga membuat hubungannya dan Agna sudah membaik lagi sejak tiga bulan yang lalu.


"Heh, nanti ada yang dengar gimana?" Agna bertanya balik dengan nada suara yang setengah berbisik karena wanita hamil itu takut jika saja mahasiswa yang lain akan mendengar kalimat sapaan teman gesreknya itu.

__ADS_1


"Ah, nggak akan ada yang dengar karena aku berbicara sangat pelan sekali, bukan menggunakan toa masjid saat mengatakan itu tadi." Saras sekarang menggandeng tangan Agna. "Bes, gimana keadaan Pak Darren sekarang, apa sudah ada perubahan dalam dirinya?" Sekarang Saras malah menanyakan tentang Darren.


Agna mengangguk sambil menjawab, "Sejak Om suami menjalankan terapi, dia sekarang sudah bisa merasakan sakit di kedua lakinya. Itu artinya dia sudah memiliki sedikit perubahan dan pastinya akan sembuh. Aku yakin akan hal itu." Entah mengapa setiap kali Agna membahas Darren dengan Saras, mata wanita itu selalu saja berair. "Aku percaya keajaiban itu akan segera menghampiri Om suami, aku minta doamu juga ya, supaya dia cepat pulih seperti sedia kala. Bisa masuk mengajar dan bisa pergi ke rumah sakit." Tidak bisa dipungkiri bahwa Agna benar-benar rindu akan kehangatan dari Darren karena semenjak ia hamil hormon Agna malah semakin meningkat dimana dirinya merasa haus akan belaian laki-laki yang dinyatakan impoten itu.


"Aku selalu berdoa untuk kesembuhan Pak Darren juga untuk kebahagiaanmu Agna." Saras langsung saja memeluk Agna pada saat gadis itu melihat kalau saja air mata Agna menetes membasahi pipi wanita hamil itu. "Aku yakin Bes, kamu wanita kuat yang akan mampu melewati cobaan serta ujian yang Tuhan telah tuliskan untukmu sejak kamu masih di dalam kandungan Bundamu." Kalimat yang hampir setiap hari Saras ucapkan hanya untuk menyemangati Agna karena gadis itu bisa merasakan bagaimana menjadi Agna. Disaat sedang hamil temannya itu malah berjuang merawat Darren sendirian tanpa bantuan orang lain.


"Ish, bukankah aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Bahwa aku ini tidak boleh cengeng." Agna mengusap air matanya sambil melepaskan pelukannya dari Saras. "Sorry, tadi aku terbawa suasana." Agna mencoba untuk melukis senyum indah di bibirnya.


"Tidak apa-apa, sekarang ayo kita masuk ke kelas," ajak Saras karena sepertinya bel akan berbunyi tanda masuk tinggal beberapa menit lagi.


"Ayo." Agna terlihat akan melangkahkan kakinya tapi tiba-tiba saja laki-laki yang dulu sempat mengisi relung hatinya malah terlihat menarik tangannya.


"Aduh!"


Agna yang kaget malah menepis tangan laki-laki itu sehingga suara Dave malah terdengar mengaduh kesakitan karena Agna menepis tangan laki-laki itu cukup keras.


"Dave, mau apalagi kamu?" tanya Agna sambil memperbaiki baju kebesarannya.


"Enak saja, kamu tuh yang harus pergi. Jangan malah ngajak Agna bicara sembarangan seperti saat ini karena Agna tidak mau diganggu lagi, oleh laki-laki yang memiliki bini sepertimu, Dave," timpal Saras yang sengaja mengatakan itu pada Dave. "Sana pergi, lagipula Agna juga sudah tidak punya hubungan lagi denganmu. Sini biar aku perjelas lagi bahwa kamu dan Agna sudah berakhir."


Dave malah mengabaikan apa yang Saras katakan. Dimana saat ini ia malah mengajak Agna untuk berbicara lagi.


"Agna, kali ini saja. Aku tidak meminta waktu lama cukup 10 menit saja. Ya ... mau ya," ucap Dave.


"Maaf Dave, aku tidak bisa." Agna menggeleng kuat karena ia takut jika saja Darren akan memiliki mata-mata di sana membuatnya tidak terlalu begitu berani dekat-dekat dengan laki-laki manapun.


"Lima menit, jika kamu tidak mau 10 menit." Dave akan terus saja berusaha supaya dirinya dan Agna bisa bicara hanya berdua saja.


"Masih aja ngeyel, Agna itu tidak mau. Sana kamu pergi saja!" ketus Saras yang merasa mulai tidak menyukai Dave. Gadis itu juga terlihat mendorong dada laki-laki itu.


Agna yang melihat ada banyak sekali mahasiswa yang melihatnya saat ini merasa menjadi tidak enak hati, sehingga membuatnya memutuskan untuk mau berbicara dengan Dave.

__ADS_1


"Huh, baiklah ayo kita bicara." Agna melangkahkan kakinya untuk menuju ke perpustakaan karena wanita itu merasa kalau saja tempat itu cocok untuk dirinya dan Dave bicara. "Sar, kamu boleh masuk duluan ke kelas," sambung Agna sebelum wanita hamil itu benar-benar pergi dari sana.


"Yes, rasain kamu Saras." Dave menjulurkan lidahnya pada saat laki-laki itu malah melihat wajah masam Saras. Dave juga terlihat langsung saja pergi dari sana.


***


Sepulang Agna kuliah wanita hamil itu tidak menemukan keberadaan sang suami sehingga membuat Agna langsung saja terlihat panik.


"Om, Om suami … dimana Om suami. Jangan malah main petak umpet seperti ini." Agna dengan hati-hati mencari Darren ke segala penjuru arah yang ada di apartemen itu. "Om suami ayolah!" seru Agna.


Tepat ketika Agna sudah mulai berputus asa mencari Darren. Tiba-tiba saja suaminya itu terlihat datang dengan cara mengayuh kursi rodanya sendiri.


"Sudah puas kencan di perpustakaan." Darren yang baru saja datang dari arah dapur malah mengatakan itu pada sang istri karena saat ini laki-laki itu sedang salah paham.


"Apa maksud Om suami?" tanya Agna yang bisa bernafas dengan lega karena Darren ternyata tidak pergi kemana-mana.


"Jangan pura-pura tidak tahu!" ketus laki-laki itu yang sekarang terlihat menatap Agna dengan sangat sinis.


Sedangkan Agna yang belum juga mengerti kini malah terlihat sedikit takut dengan tatapan Darren yang tajam.


"Kalau kamu sudah bosan denganku katakan saja, jangan malah selingkuh dibelakangku!" Lagi-lagi suara Darren terdengar ketus.


...****************...


Ada aja pembaca kek gini, bukankah sudah author katakan jika nggak niat kasih bintang 5 nggak USAH!


Lama-lama kalau kayak gini terus bisa aku tamatkan si Dosen meskipun belum waktunya😭😭😭 author kesal banget😢😢



__ADS_1


__ADS_2