
"Ranjang ini sepertinya harus di ganti," kata Darren ketika laki-laki itu sudah duduk di pinggir ranjang. "Lemari itu juga harus di geser sama meja belajarmu harus di taruh di sana." Darren terus saja berbicara pada dirinya sendiri.
Sedangkan Agna sudah terlihat berbaring dari tadi dengan cara membelakangi laki-laki itu, Agna juga tidak bermaksud menimpali Darren. Sebab ia merasa hanya akan membuang-buang waktu saja mengingat mood wanita itu sangat mudah sekali berubah-ubah.
"Na, apa kamu setuju?" tanya Darren yang malah meminta persetujuan dari sang istri.
"Terserah kamu saja," jawab Agna yang sekarang terlihat mulai memejamkan mata.
"Harus kamu juga dong, jangan hanya aku saja contohnya kamu mau ranjang yang seperti apa lengkap dengan kasurnya yang berme–" Kalimat Darren terputus karena Agna tiba-tiba saja bangun langsung berlari menuju kamar mandi.
Sebab, wanita itu saat ini ingin muntah, karena dari tadi Agna sudah berusaha menahannya. Akan tetapi, itu hanya percuma saja jika ujung-ujungnya wanita itu akan tetap memuntahkan apa saja yang ada di dalam perutnya.
Membuat Darren bergegas menghampiri sang istri, karena mau bagaimanapun laki-laki itu masih memiliki hati nurani meskipun sepenuhnya Darren belum percaya kalau bayi yang ada di rahim Agna itu adalah darah dagingnya sendiri.
"Mau aku buatkan teh, air jahe atau air putih. Supaya rasa mualmu menjadi sedikit berkurang bahkan membuat perutmu terasa lebih nyaman," kata Darren yang ikut menyusul Agna ke kamar mandi. "Dengan cara begitu juga kamu tidak akan mungkin merasa mual lagi," sambung Darren.
"Ini semua gara-gara bayimu ini Darren, sehingga membuatku menjadi seperti ini mau tidur saja aku tidak bisa. Gara-gara harus bolak balik ke kamar mandi!" gerutu Agna yang terus saja muntah.
"Iya maafkan aku." Darren malah meminta maaf pada Agna, karena ia merasa apa susahnya harus mengalah dulu untuk saat ini. Pada saat ia mengingat pesan-pesan Hugo waktu di rumah sakit yang mengatakan kalau Darren sebagai laki-laki harus banyak mengalah.
"Bantu aku, karena kepalaku terasa sangat pusing." Entah mengapa mendengar kata maaf dari mulut Darren suasana hati Agna yang tadi sempat meradang kini mulai mereda. "Ambilkan juga aku air putih, tenggorokanku terasa kering membuatku merasa haus."
__ADS_1
"Air jahe saja, bagaimana?" tawar Darren.
"Aku tidak suka jahe." Agna menggeleng.
"Teh saja kalau begitu," ucap Darren yang sekarang menuntun Agna berjalan untuk kembali ke ranjang.
"Kalau aku bilang air putih ya air putih, jangan malah menawarkan aku hal yang tidak aku suka!" ketus Agna.
"Baik, akan aku ambilkan air putih." Darren lagi-lagi terdengar mengalah daripada nanti Agna akan berbicara panjang kali lebar dengan nada nyolot yang keluar dari bibir tipis sang istri. "Kamu tunggu sebentar, biar aku ambilkan air putih di dapur." Darren terlihat akan pergi, tetapi Agna malah menarik tangannya. "Ada apa?" tanya Darren dengan mata yang menyipit.
"Buka bajumu." Agna malu-malu mengatakan itu pada Darren.
"Untuk apa aku harus membuka bajuku Agna, kamu jangan aneh-aneh." Darren menggeleng dengan kuat pada saat Agna memintanya untuk membuka baju.
"Tidak jadi, kamu ambilkan saja aku air putih," ucap Agna yang menyuruh Darren pergi mengambil air putih, karena wanita itu juga melihat ada jas Darren yang ditaruh pada kursi belajarnya. Membuat ia memiliki ide pada otaknya saat ini.
"Aneh," gumam Darren pelan sambil melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.
Agna yang melihat Darren keluar, langsung saja menuju kursi yang ada di dekat meja belajarnya hanya untuk mengambil jas laki-laki itu, karena Agna berharap dengan cara menghirup aroma parfum yang melekat pada jas sang suami rasa mualnya akan sedikit mereda seperti saat tadi ia berdekatan dengan Darren.
Namun, rupanya Agna salah karena pada saat dirinya mencium jas Darren justru rasa mualnya semakin bertambah.
__ADS_1
"Hoek, Hoek ...." Agna lagi-lagi tidak bisa menahan rasa mualnya.
"Jangan aneh-aneh, masa iya aku harus langsung mencium wangi parfum itu dari tubuh Darren. Jangan ngadi-ngadi kamu kecebong," gumam Agna membantin sambil menunjuk-nunjuk perutnya. "Apa kamu jangan-jangan kamu ingin aku dan laki-laki itu terus bersama?" sambung wanita itu membatin.
Tidak lama pada saat Agna terus saja membatin tiba-tiba saja Darren masuk membawa segelas air.
"Jasku, kenapa malah kamu cium?" Suara Darren langsung saja membuat Agna melempar jas laki-laki itu. "Apa jasku bau?"
Agna yang tidak mau kalau Darren sampai tahu dengan cepat menjawab, "Iya, jasmu sangat bau, maka dari itu aku membuangnya karena aroma baunya benar-benar sangat menyengat. Sampai-sampai aromanya berkumpul di kamarku ini."
"Benarkah? Padahal itu jas hanya aku gunakan waktu pergi ke rumah sakit saja. Setelah itu aku membukanya tadi, dan aku taruh di sana karena aku merasa sangat ger–"
"Sudahlah, kita tidur saja lagipula itu tidak penting," potong Agna cepat. "Kita kan, akan tidur sekamar mulai malam ini. Jadi, usahakan jangan banyak b*cot!"
Darren tidak merespon, ia memilih untuk diam saja karena laki-laki itu tahu kalau mood ibu hamil cepat berubah-ubah.
"Sini air itu, aku mau minum." Agna meminta segelas air minum yang Darren bawa. "Ren, sini air minumnya aku haus."
"Sangat tidak sopan memanggil nama suami sendiri dengan sebutan nama," kata Darren sambil memberikan Agna segelas air.
"Om Darren, apa seperti itu?" tanya Agna.
__ADS_1
Darren menghela nafas karena mendengar Agna malah memanggilnya om. "Terserah kamu saja Agna, yang penting kamu jangan memanggil namaku, itu sangat-sangat tidak sopan sekali."
"Oke, Om suami," celetuk Agna.