Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Mangga Muda


__ADS_3

Darren terlihat dengan sangat sabar menjelaskan apa saja yang Agna tanyakan pada suaminya itu.


"Sekarang kerjakan lagi nomor dua jika nomor satu sudah selesai." Darren terlihat saat ini berdiri di belakang Agna yang sedang fokus mengerjakan tugas dari Kara.


"Ini itu ada lima soal, tapi kenapa jawaban hanya untuk nomor satu saja kenapa bisa sampai satu lembar seperti ini? Gimana untuk jawaban nomor dua sampai kelima mungkin saja satu buku ini akan habis," celetuk Agna sambil terus saja menulis jawaban yang menurutnya itu benar. "Miss centil itu memang suka sekali ngadi-ngadi. Besok kalau Om suami bertemu dengannya sampaikan saja salamku untuknya, salam permusuhan dariku karena bisa-bisanya dia memberikanku soal seperti ini padahal dia sendiri tidak pernah menjelaskannya. Sehingga soal-soal ini satupun tidak ada yang bisa aku jawab sama sekali."


"Agna, kerjakan saja jangan banyak bicara. Mungkin saja kamu yang tidak pernah memperhatikan Miss Kara waktu dia menjelaskan. Kamu juga pasti tidak mencatat materi-materi penting yang Miss Kara berikan. Sehingga di bukumu sama sekali tidak ada jawaban dari soal-soal ini." Darren berpikir kalau saja Agna tidak mencatat setiap materi yang Kara berikan. Oleh sebab itu, ia mengatakan itu semua pada sang istri.


"Aku akui kalau aku ini pemalas dan suka bolos. Tapi satu yang Pak Darren tidak tahu atau Om suami tidak tahu tentang diriku. Dimana aku ini selalu saja mencatat sesuatu hal yang penting karena jika aku ketinggalan mata pelajaran maka aku akan meminjam buku Saras." Agna memang pemalas juga sering bolos tapi untuk masalah materi wanita itu akan meminjam buku catatan dari Saras untuk ia catat. Menandakan bahwa Agna memang pemalas tapi wanita itu tidak akan pernah lupa dengan catatan yang harus Agna tulis di bukunya.


"Kerjakan Agna, jangan banyak protes. Jika kamu rajin dalam hal mencatat pasti di bukumu akan penuh dengan coretan tinta," ucap Darren yang tidak yakin jika saja yang tadi Agna katakan memang benar apa adanya.


Agna mendesis karena wanita itu pikir kalau saat ini Darren sedang membela Kara.


"Bela terus, namanya juga pasangan kekasih makanya Om suami terus-terusan membelanya. Padahal Miss kegatelan itu tidak pernah menjelaskanku tentang jawaban di soal-soal ini," gerutu Agna.


"Jangan mulai lagi Agna, kerjakan supaya kamu cepat selesai. Supaya kamu juga bisa beristirahat." Darren mengatakan itu supaya Agna akan kembali fokus lagi mengerjakan soal-soal itu. "Ayo Na, kerjakan sekarang jangan hanya dilihatin saja. Kalau terus-terusan diliatin mulu kapan soal-soal ini akan kelar coba?"


"Sudahlah, aku malas!" Agna sekarang malah meletakan pulpennya. "Aku kerjakan besok pagi saja, karena mataku juga terasa sangat ngantuk sekali."


Darren mengambil pulpen itu lalu memberikannya lagi pada Aga sambil berkata, "Satu soal lagi nomor dua, untuk nomor tiga dan seterusnya kamu boleh mengerjakannya besok pagi."


"Besok pagi saja Om suami, aku benar-benar sangat mengantuk. Tidak bisakah kamu membiarkanku beristirahat saja. Lagipula aku akan tetap mengerjakan soal-soal yang pacarmu itu berikan padaku," timpal Agna yang lagi-lagi terlihat meletakkan pulpen itu.


Darren yang merasa kalau memang benar Agna sudah sangat mengantuk, menghela nafas karena menurutnya juga Agna selama ini memang anaknya pintar. Tetapi Darren tidak tahu entah kenapa selama ini Agna terus-terusan menyembunyikan kepintarannya. Membuat Darren terus saja bertanya-tanya di dalam benaknya tentang apa yang membuat istrinya itu malah menjadi pura-pura bodoh.

__ADS_1


Dapat dilihat dari Agna yang mengerjakan soal-soal yang Kara berikan dengan sangat mudah. Padahal Darren hanya memberikan Agna beberapa contoh saja.


"Baiklah kalau kamu sudah mengantuk tidur, karena aku juga tidak akan mungkin bisa memaksa orang yang sudah ngantuk untuk mengerjakan soal. Bisa-bisa nanti jawabanmu malah akan ngelantur." Darren memberikan Agna buku paket yang laki-laki itu kenakan untuk memberikan sang istri contoh soal yang seperti tadi. "Tidur, kalau itu masih sakit beritahu aku supaya aku bisa membelikan-mu salep pereda nyeri." Darren tersenyum kikuk pada saat ia mengatakan itu pada Agna.


Agna yang mendengar itu langsung saja mengingat kalau dirinya sudah bercocok tanam dengan Darren.


"Aku sampai melupakan hal itu tadi, kamu selama ini memang benar-benar sangat mesum! Kamu juga sangatlah licik!" Agna sekarang malah terlihat berwajah masam lagi. "Aku benar-benar tidak menyangka kalau seorang Dosen bisa semesum dirimu. Aku juga tidak habis pikir kalau kamu akan menodai diriku untuk yang kedua kakinya."


Menyesal, itu yang Darren rasakan karena gara-gara mulutnya sendiri kini Agna malah kembali lagi berwajah masam pada dirinya. Padahal tadi wajah wanita hamil itu sudah terlihat biasa-biasa saja.


"Aku keluar dulu, karena mungkin saja Darius masih ada di bawah." Darren memilih lebih baik pergi saja dari sana ketimbang dirinya akan mendengar ocehan sang istri. "Tidur ya, jangan mainin ponsel lagi."


"Mangga muda! Aku mau makan makan mangga muda malam ini juga!" seru Agna yang tiba-tiba saja mau memakan mangga muda malam-malam begini.


"Carikan aku mangga muda. Aku mau mangga muda seperti di dalam gambar ini." Agna memberikan Darren ponselnya. "Pokoknya malam ini aku mau mangga muda yang di cocol pada bon cabe."


Darren mengambil ponsel Agna sehingga laki-laki itu bisa melihat kalau saat ini ada sebuah video di aplikasi tik-tok yang menampilkan bahwa ada seorang youtuber sedang mukbang memakan mangga muda.


"Astaga, tadi dia marah-marah tapi sekarang malah minta mangga muda padaku," gumam Darren membatin. "Sekarang apa yang harus aku lakukan?"


"Ren, belikan aku mangga muda." Sekarang Agna menarik-narik baju Darren.


"Sudah malam, mungkin saja semua pedagang buah sudah pada molor." Darren berusaha memberikan pengertian untuk Agna.


"Tidak mau! Aku maunya sekarang juga tidak mau besok pagi." Agna berdiri sambil menatap Darren. "Mangga muda dicocol bon cabe, mangga muda ... pasti rasanya sangat enak."

__ADS_1


"Huh ...." Darren menghela nafas. "Ayo kita cari mangga muda tapi ganti dulu pakaianmu, karena itu terlalu ketat."


Agna melihat penampilannya sendiri mulai dari atas sampai bawah. "Tidak apa-apa ketat untuk sekarang, besok kalau perutku sudah buncit pasti tidak akan muat lagi nih baju. Makanya sekarang aku menikmati memakai baju ini dulu sebelum masa gendutku datang."


Darren yang kebetulan memakai sweater melepaskan sweater itu, ia juga langsung memakaikan Agna. "Pakai kalau tidak maka kita tidak akan jadi pergi mencari mangga muda."


"Baiklah!" Agna dengan nada suara sedikit lantang menimpali sang suami.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚


"Cari sampai dapat," kata Agna saat wanita itu sekarang terlihat menuruni anak tangga bersama Darren.


"Iya, kamu diam saja di rumah, biar aku sendiri saja yang mencarikanmu mangga muda. Aku juga bisa pergi bersama Darius kebetulan dia terlihat sedang menonton tv." Darren terdengar menyuruh Agna untuk tidak ikut saja, karena cuaca malam ini juga terasa sedikit dingin. "Gimana apa kamu mau diam saja di rumah?"


"Tidak, aku mau ikut saja bersamamu. Nanti kamu malah tidak membelikanku mangga muda gara-gara keasikan ngerayu ciwik-ciwik yang sama gatalnya seperti Miss Kara itu." Semakin kesini Agna sekarang malah merasa membenci setiap wanita mana saja yang ingin menggoda Darren.


"Kalau sudah seperti ini, berarti sudah baikan yak," kata Darius yang terdengar suaranya dari arah ruang tv. "Kira-kira butuh obat itu lagi nggak? Soalnya obat itu sangat manjur sekali menyembuhkan sakit perut dan demanmu, Ren," sambung Darius.


"Diam Dar, daripada nanti kamu salah bicara," sahut Darren. "Dimana nantinya malah berimbas kepadaku." Saat ini Darren tidak mau membuat Agna akan kembali lagi memarahi dirinya.


...****************...


Agna ketika wanita hamil itu memakai sweater milik om suaminya๐Ÿ’œ


__ADS_1


__ADS_2