
"Apa mau berangkat bareng?" tawar Darren pada sang istri.
Agna mengangguk dengan cepat. "Tapi kita harus naik motor, bagimama apa Om suami setuju?"
"Boleh, kira-kira kita pakai motor yang mana?" Darren memaklumi kalau saja Agna sampai detik ini, masih sedikit trauma jika wanita itu harus pergi kuliah menggunakan kendaraan beroda empat. Padahal tepat hari ini putra mereka, Nawa sudah berumur empat bulan.
Namun, Agna sampai sekarang juga belum sepenuhnya berani jika dirinya harus berpergian menggunakan mobil.
__ADS_1
"Terserah Om suami saja, tapi sebelum itu aku mau lihat Nawa dulu yang sedang di mandiin sama Mami," jawab Agna yang memang selama ini Alea dan Ranum secara bergantian menjaga cucu mereka ketika Agna sedang pergi menimba ilmu. Seperti sekarang ini Alea, sang ibu mertua rela datang pagi-pagi buta sekali demi Nawa.
"Nawa sudah Mami mandiin, sekarang lagi Mami gendong di teras depan." Darren yang tadi memang melihat Alea sedang menggendong Nawa di teras depan dengan cepat memberitahu Agna. "Sekarang kita lebih baik kita buatkan adik untuk Nawa, berhubung ini masih pagi juga masih ada lah waktu 1 jam lagi," celetuk Darren yang saat ini memang benar-benar sudah tidak tahan lagi karena laki-laki itu merasa jika empat bulan ini sudah cukup baginya memberikan Agna waktu.
"Om suami, jangan sekarang Mami ada di disini. Jangan sampai Mami melihat kita melakukan hal itu, dan bukankah tadi malam aku sudah memberikan service terbaikku pada Om suami, lalu kenapa sekarang malah mau membuatkan adik untuk Nawa?" Agna mengerutkan keningnya pada saat tangan Darren tiba-tiba saja sudah melingkar sempurna di perut yang kini kembali rata persis ketika wanita itu masih gadis.
"Untuk yang tadi malam itu, itu hanya percobaan saja. Belum masuk kan, tapi Nawa sudah keburu bangun," timpal Darren yang memang tadi malam sudah mulai mencoba untuk menanam benih lagi di rahim Agna. Tapi putra mereka malah bangun lalu menangis sehingga membuat rencana Darren malah gagal total. "Pagi ini, berhubung masih pagi. Kita bisa melakukan itu semua mengulangi yang tadi malam." Darren meletakkan dagunya di pundak sang istri, bukan cuma itu Darren sekarang malah mencium tengkuk leher wanita itu membuat bulu kuduk Agna malah berdiri karena wanita itu malah merasakan sensasi yang berbeda.
__ADS_1
"Aku mau sekarang Sayang," kata Darren yang malah menggigit leher jenjang wanita itu. Sehingga Agna malah terlihat menggigit bibirnya karena hasrat wanita itu juga yang selama ini membara malah bangkit kembali pada saat Darren menggigit kecil leher putih mulus milik Agna. "Aku akan bermain cukup pelan tidak akan kasar, bagaimana apa kamu setuju? Berhubung ini masih pagi." Darren terus saja mengatakan kalimat kalau saat ini masih pagi. "Sekarang waktu yang tepat karena kalau nanti malam Nawa malah bangun lagi. Seperti yang tadi malam membuat kepala atas dan bawahku berdenyut," seloroh Darren yang sekarang tangannya malah terlihat membuka kancing baju milik Agna.
"Om suami." Agna langsung saja menahan tangan Darren. "Please, ini bukan waktu yang tepat."
"Semua akan tepat jika kita berdua sama-sama menginginkannya." Darren kemudian malah mengunci pintu kamar itu karena posisi laki-laki itu saat ini tepat berdiri di dekat pintu, sehingga membuatnya dengan sangat mudah menguncinya tanpa ada drama kesulitan. "Mami juga pasti paham karena Mami mau cucunya bukan cuma Nawa saja." Sesaat setelah mengatakan itu Darren menggendong tubuh Agna, ia ingin membawa wanita itu ke atas ranjang.
"Om Sua–" Kalimat Agna terputus pada saat wanita itu ingin protes karena Darren malah me lu mat bibir ibunya Nawa itu dengan penuh g4irah.
__ADS_1
...****************...
Bagaimana, apa lanjut adegannya? Atau cukup sampai di sini? Tolong di komen pembaca setia Ayuza🤗