
"Kita pulang saja, tidak usah pergi ke rumah sakit karena aku cuma masuk angin. Om suami jangan mengkhawatirkan aku terlalu berlebihan seperti ini." Saat sudah di dalam mobil Agna mengatakan itu pada Darren. "Puter balik saja, kasihan Saras dan Darius sudah menunggu kita di rumah karena aku tadi sebelum berangkat ke makam sempat menghubungi mereka untuk ikut serta dalam menyiapkan acara untuk Nawa. mengingat kita berdua tidak akan mungkin bisa mengurus semuanya tanpa bantuan dari mereka."
"Sayang, kita harus pergi ke rumah sakit. Bagaimana nanti kalau sakitmu ini serius? Bukan sekedar masuk angin biasa." Rupanya Darren tidak ingin putar balik, laki-laki itu tetap memilih untuk membawa Agna ke rumah sakit. "Darius dan Saras pasti akan mengerti, mereka tidak akan protes karena kita pulangnya terlambat. Percayalah padaku karena bagaimanapun mereka akan tetap mau membantu kita."
"Aku hanya kecapekan saja Om suami, tolong mengertilah. Jangan sedikit-sedikit malah mau membawaku ke rumah sakit saja padahal aku cuma mual biasa tidak sampai muntah darah," celetuk Agna yang kini terlihat memejamkan mata tapi mulut ibunya Nawa itu terus saja berbicara panjang kali lebar karena dirinya benar-benar tidak mau di bawa ke rumah sakit. "Ayo putar balik saja, nanti Bi Mar yang akan membuatkanku jamu supaya rasa mualku karena masuk angin ini menjadi berkurang. " Agna terus saja membujuk sang suami untuk putar balik meskipun Darren terlihat semakin kencang mengemudikan mobil itu. "Aku sangat yakin Saras dan Darius akan marah pada kita karena telah membuat mereka menunggu terlalu lama."
"Sayang, bagaimana kalau itu mual karena sosok bayi mungil yang ada di dalam rahimmu. Apa kamu tidak berniat ingin tahu akan hal itu?" Entah mengapa Darren tiba-tiba saja malah berpikiran sampai ke sana. "Selama ini kamu tidak pernah memakai KB apapun itu. Jadi, aku bisa simpulkan bahwa saat ini ada adiknya Nawa di dalam rahimmu." Wajah Darren yang tadi sempat panik kini secepat kilat malah berubah menjadi begitu ceria karena laki-laki itu sangat yakin kalau Agna saat ini sedang mengandung.
Mengingat kalau saja ibunya Nawa itu belakangan ini sering sekali minta makanan yang aneh-aneh di saat malam menjelang, membuat Darren kali ini bisa tahu bahwa Agna pasti sedang hamil anak ke 3. Darren juga tidak memikirkan tentang Saras dan Darius lagi yang mungkin saja akan marah padanya.
"Aku memang tidak memakai KB apapun itu Om suami, tapi bukankah setiap bulan tamu bulananku selalu datang? Lalu hamil darimana aku? Padahal aku selalu PMS tepat ketika akhir bulan begitu terus satu bulan sekali." Agna menjelaskan karena ia tidak mau jika nanti Darren malah akan menjadi kecewa jika saja di dalam rahimnya tidak ada calon buah hati mereka. "Sudahlah, jangan memberikan harapan palsu dalam diri Om suami, aku takut Om Suami nanti malah akan menjadi kecewa."
"Kita harus pergi ke rumah sakit untuk memastikan apa yang aku katakan ini benar apa adanya Sayang." Darren memang yakin 100% membuat laki-laki itu harus membawa Agna untuk memeriksa semuanya supaya menjadi jelas.
"Huh, baiklah. Terserah Om suami saja, tapi nanti jangan kecewa jika saja hasilnya tidak sesuai dengan apa yang Om suami harapkan. Aku hanya sekedar mengingatkan." Pada akhirnya Agna mengalah dan mau di bawa ke rumah sakit. Toh, tidak ada gunanya Agna menyuruh Darren untuk memutar balik di saat laki-laki itu terus saja melajukan mobilnya. "Nanti kalau kita sampai bangunkan aku karena mataku terasa sangat berat. Om suami juga harus tetap mengawasi Nawa yang sedang terlelap."
"Iya sayangku, cintaku. Kamu sekarang tidur saja." Darren mengelus lembut paha sang istri karena Agna pada akhirnya mau pergi ke rumah sakit tanpa ada drama kata tidak mau.
***
"Selamat Dok, istri Anda memang benar-benar tengah mengandung," kata dokter kandungan yang sudah memeriksa Agna. "Kandungan istri Anda baru saja berusia empat minggu, dimana usia seperti ini masih sangat rawan. Jadi, saya sangat berharap Dokter mengerti dengan apa yang saya katakan ini."
__ADS_1
Mendengar itu Agna langsung saja menatap sang suami karena wanita itu masih saja belum percaya dengan apa yang ia dengar saat ini.
Beda halnya dengan Darren yang ekspresi wajahnya dari tadi full senyum karena dugaannya kali ini tidak meleset. Laki-laki itu juga merasa sangat bahagia dengan kabar Agna yang hamil.
"Ini hasil labnya, dan ini vitamin serta penambah darahnya. Anda jangan lupa minum keduanya Nyonya, perbanyak istirahat jangan lakukan aktivitas yang terlalu berat." Kalimat dokter kandungan itu membuat Agna dan Darren saling tatap satu sama lain. "Satu lagi, Nyonya harus tetap kontrol satu bulan sekali supaya kita tahu perkembangan janinnya."
"Baik Dok, kalau begitu saya pamit dulu." Setelah tahu kabar bahagia ini Darren langsung saja mengajak Agna untuk segera pulang. "Terima kasih Dokter Liana karena Anda sudah menyampaikan kabar baik ini."
"Ini sudah tugas saya Dok. Jadi, Anda tidak perlu berterima kasih pada saya." Dokter kandungan yang bernama Liana itu tersenyum ramah sambil mengantar Agna dan Darren sampai di ambang pintu.
Sedangkan Agna terus saja diam saja dari tadi, setelah tahu bahwa dirinya memang benar-benar hamil. Entah apa yang saat ini wanita itu pikirkan.
"Tidak apa-apa Om suami, aku hanya takut."
"Takut, apa yang kamu takutkan Sayang?" Dahi Darren berkerut karena mendengar kata takut dari bibir sang istri.
"Nawa masih terlalu kecil untuk memiliki adik, sehingga aku takut jika kita tidak akan bisa menjaga keduanya." Rupanya Agna memikirkan hal itu, membuat wanita itu malah diam saja dari tadi.
"1 tahun 9 bulan 10 hari, di sana Nawa sudah besar Sayang. Sehingga kamu tidak usah memikirkan akan hal itu. Apa kamu paham?"
Agna mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Nah begitu dong, sekarang kita harus memberitahu orang-orang di rumah kalau kita akan memiliki anak lagi. Pasti mereka akan sama seperti kita, sama-sama akan bahagia mendengar kabar gembira ini." Darren lalu meraih telapak tangan Agna sehingga mereka terlihat bergandengan.
"Nawa, kamu akan memiliki adik, semoga kamu kelak akur-akur dengan adikmu." Agna membatin pada saat ia melihat putranya terlihat terus saja berceloteh ria dari tadi. "Semoga bayi yang ada di dalam rahimku ini tidak bernasip sama dengan Aruna. Semoga Tuhan melindungimu 'Nak, sampai hari H."
***
Setelah sampai di rumah utama Darren langsung saja mengumumkan kabar bahagia itu.
"Hari ini Nawa genap satu tahun, hari ini juga ada kabar bahagia." Darren menatap Darius dan Saras.
"Kabar bahagia apa? Jangan coba-coba alihkan pembicaraan karena sudah membuat kita berdua menunggu lama." Darius mengatakan itu sambil mencomot buah di depannya untuk laki-laki itu makan. "Kita sudah menunggu 3 jam lamanya, lalu datang-datang kamu tanpa wajah tidak berdosa sedikitpun menatapku dan Saras."
"Agna hamil, itu kabar bahagia yang ingin aku sampaikan." Darren tetap memberitahu Darius meskipun sahabatnya itu dari tadi terus saja protes karena ia dan Agna terlambat pulang. "Jadi simpulkan saja, kami terlambat pulang karena sudah pergi ke rumah sakit."
Pada saat itu juga Darius terlihat menatap Saras karena ia tahu sebentar lagi kekasihnya itu pasti akan mengajaknya untuk menikah. Sebab Darius sudah berjanji kalau saja Agna hamil anak ke 3 maka ia akan melamar Saras langsung.
"Tepati janjimu sekarang juga, jangan biarkan aku menunggu terlalu lama lagi." Saras tersenyum karena kali ini ia merasa bahwa Darius tidak bisa memberikan alasan apapun lagi sesuai dengan janji laki-laki itu.
"Janji apa?" Agna dan Darren bertanya secara bersamaan.
"Dia akan menikahiku jika kamu hamil lagi Agna, sekarang kamu hamil. Itu artinya dia harus melamarku tanpa ada alasan seperti yang sudah-sudah." Wajah bahagia Saras terpancar sangat jelas saat ini.
__ADS_1