Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Metode Kanguru


__ADS_3

"Apa yang harus aku lakukan?" Agna panik pada saat melihat selang infus Darren malah berdarah. Di tambah saat ini laki-laki itu masih saja duduk di lantai karena tadi Darren benar-benar jatuh.


"Angkat saja selang infusnya Agna, supaya darahku tidak keluar semakin banyak," kata Darren.


"Tapi ... tapi ... bagaimana dengan dirimu?" tanya Agna yang ingin membantu Darren untuk berdiri.


"Aku bisa bangun sendiri, kamu cukup angkat saja selang infusku tinggi-tinggi." Darren lalu memberikan Agna selang infus yang juga tadi ikut jatuh ke lantai. "Ambil Agna, terus angkat tinggi-tinggi," ucap Darren mengulangi kalimatnya.


Agna mengangguk sambil mengambil selang infus itu dari tangan sang suami. "Sekarang apa yang harus aku lakukan?"


"Tunggu aku berdiri dulu, setelah itu antar aku ke dalam kamar. Karena aku merasa bahwa badanku sudah terasa sedikit demam." Darren mengatakan itu karena laki-laki itu merasa memang tubuhnya mulai terasa menggigil, dan laki-laki itu bisa merasakan kalau suhu tubuhnya saat ini semakin terasa panas.


"Ayo kalau begitu kita harus cepat naik ke dalam kamarmu, jangan sampai Om suami pingsan disini karena aku tidak akan mungkin bisa menggendongmu." Agna sekarang membantu Darren untuk berdiri sambil terus saja mengangkat selang infus itu tinggi-tinggi. "Ayolah cepat, jangan sampai seperti kataku yang tadi. Jangan pingsan juga disini." Agna yang takut jika Darren akan pingsan terus saja mengatakan itu.


Darren sempat terkekeh pada saat laki-laki itu mendengar kalimat Agna yang berpikiran kalau dirinya mungkin saja akan pingsan. "Agna, aku hanya merasa lemas dan tidak mungkin aku akan pingsan," ucap Darren.


"Tadi Om suami jatuh, apa itu bukan gara-gara Om suami mau pingsan?" Agna bertanya seraya menatap Darren.


"Kakiku tersandung di kaki meja ini Agna, oleh sebab itu aku malah terjatuh seperti yang tadi," jawab Darren memberitahu Agna.


Agna hanya ber oh ria saja sambil membantu Darren untuk segera naik ke anak tangga.


"Aku jadi gagal merajuk," gumam Agna pelan.


"Ingat Agna, kamu sudah dewasa. Tidak selamanya kamu harus terus-terusan merajuk ditambah sebentar lagi kamu ini akan menjadi seorang Ibu, wanita yang berperan sangat penting," kata Darren yang rupanya mendengar kalimat Agna yang bergumam pelan tadi.


Agna tidak menyahut, karena mendadak wanita itu menjadi malas berbicara dengan sang suami. Sebab ia pikir kalau saja laki-laki itu terlalu sok tahu ditambah Agna mengingat kalimat Darren yang tidak mengakui kecebong di dalam perutnya itu adalah darah daging si om suami.


"Na, hati-hati. Jangan berjalan terlalu cepat." Darren memegang telapak tangan sang istri.


"Iya …." Agna membalas kalimat Darren, dan kini wanita itu memperlambat langkah kakinya.


***

__ADS_1


Matahari terlihat sudah berada di tengah-tengah langit yang sangat cerah berwarna biru, menandakan kalau hari ini sudah menjelang siang.


Sekarang Agna terlihat begitu tulus saat merawat Darren, karena om suaminya itu saat ini benar-benar Demam seperti yang dikatakan oleh Darius.


"Na, aku kedinginan," ucap Darren lirih dengan tubuh laki-laki itu yang semakin menggigil.


Agna yang sudah menumpuk tiga selimut yang sangat tebal di tubuh sang suami merasa heran, pada saat Darren masih saja mengatakan kalau laki-laki itu kedinginan.


"Om suami, ini sudah tiga selimut yang tadi aku keluarkan di lemarimu dan sudah aku gunakan untuk menutup tubuhmu. Apakah masih terasa sangat dingin?" Agna bertanya sambil terus saja mengompres dahi Darren.


Darren mengangguk lemah. "Iya, aku malah semakin merasa kedinginan."


"Dari sakit perut, dan sekarang malah menjadi demam. Apa bisa seperti itu? Apa jangan-jangan temanmu itu salah memberikanmu obat? Makanya Om suami malah menjadi demam seperti ini." Kini Agna malah berpikiran buruk pada Darius.


"Aku memang sering seperti ini Agna. Jadi, kamu jangan berburuk sangka pada Darius." Darren meraih tangan Agna yang saat ini sedang memegang handuk kecil untuk mengompres dahinya. dan Darren terlihat meletakkan tangan gadis itu pada pipinya. "Berikan aku kehangatan," kata laki-laki itu.


Agna yang tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Darren segera menarik tangannya.


"Aku harus belajar, jika Om suami mau di berikan kehangatan maka aku akan mengambilkan selimutku lagi di dalam kamarku." Agna ingin pergi. Tapi Darren malah menarik pergelangan tangan wanita hamil itu. "Aku hanya akan mengambil selimut, setelah itu aku akan kembali. Aku juga akan belajar disini."


"Metode kanguru? Bukankah itu metode kanguru merupakan metode perawatan bayi yang melibatkan orang tua. Metode ini dilakukan dengan cara memposisikan atau menggendong bayi di dada, sehingga terjadi kontak langsung antara kulit bayi dengan kulit ibu atau ayah, karena aku dulu sudah pernah melihat Bunda dan Ayah melakukan metode itu pada Adikku." Agna langsung saja terdiam pada saat wanita hamil itu sudah mulai mengerti dengan apa yang dimaksud oleh sang suami.


"Agna, kali ini saja aku benar-benar sangat memohon padaku." Darren berharap supaya Agna akan mau menolongnya untuk saat ini.


Agna menggeleng dengan kuat. "Tidak, aku tidak mau!" Agna kini menyilang kedua tangannya di dadanya.


"Agna …." Lirih Darren.


Agna menggigit kecil bibirnya, karena saat ini wanita hamil itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Menuruti apa yang Darren inginkan atau sebaliknya malah mengahabaikan kalimat sang suami yang saat ini sedang demam sampai-sampai Darren menjadi menggigil.


"Aku benar-benar tidak bisa, Om Suami." Agna mundur beberapa langkah.


Namun, pada saat wanita hamil itu melihat tubuh Darren semakin menggigil tiba-tiba saja hati wanita itu sedikit tersentuh.

__ADS_1


"Agna, Na ...." Darren terdengar terus saja memanggil nama sang istri.


Agna yang berpikir jika Darren seperti ini juga gara-gara dirinya dengan cepat kini malah semakin mendekat ke arah ranjang.


"Pejamkan matamu," kata Agna yang malah menyuruh Darren memejamkan mata.


Darren merespon Agna hanya dengan anggukan kecil, karena laki-laki itu sangat berharap jika dengan metode seperti ini dirinya akan langsug sembuh.


"Jangan bilang siapa-siapa." Agna kini mulai terlihat membuka baju serta b ranya, sebab ia benar-benar ingin memberikan sang suami kehangatan dengan cara seperti itu. "Om suami janji dulu."


"Iya Agna, aku tidak akan memberitahu siapa-siapa. Ayolah cepatlah aku sangat kedinginan," ucap Darren.


Agna sekarang naik ke atas ranjang, ia juga langsung saja memberikan Darren metode kanguru. Seperti yang tadi laki-laki itu katakan.


"Merem, jangan buka mata. Kalau Om buka mata maka aku akan mencoloknya." Agna berbisik di daun telinga sang suami.


Sedangkan Darren benar-benar memejamkan mata, laki-laki itu juga kini bisa merasakan dua boba jumbo yang kenyal milik Agna. Wanginya khas badan wanita hamil itu malah membuat sesuatu berdiri tegak di bawah sana. Sehingga membuat tangan Darren malah meraba-raba dua boba kenyal yang semakin menantang milik Agna.


"Ren!" jerit Agna pada saat tangan laki-laki itu malah meraba dad4nya, karena tangan Darren malah membuat Agna kaget. "Jangan macam-macam, nanti aku malah mengurungkan niatku untuk menolongmu."


Entah setan apa yang merasuki Darren di saat dirinya sedang sakit seperti ini justru laki-laki itu sekarang malah terlihat membenamkan wajahnya pada boba milik Agna. Darren juga malah meng hi sap pu ting ke merah-merahan milik sang istri.


"Sialan, jangan-jangan obat yang tadi aku minum itu salah. Awas saja kamu Darius." Darren membatin pada saat laki-laki itu menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya.


"Darren! Hentikan, jangan macam-macam!" Agna berusaha ingin menjauh dari Darren. Tapi sayang kini laki-laki itu malah menci um tengkuk leher wanita hamil itu.


Bukan cuma itu saja, Darren sekarang juga malah mencabut selang infusnya dengan kasar.


...****************...


AGNA🌹💜💜


__ADS_1


🍂🍂


Cie, jangan tegang dulu kakak² karena di bab selanjutnya akan ada adengan panas🤣🤣 kalau author nggk lupa yak✌ nggak berani janji juga😂


__ADS_2