Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Kilas Balik


__ADS_3

"Buls*t!" ucap Agna ketus sebelum wanita itu pergi begitu saja membawa dadanya yang terasa begitu sesak. Setelah ia mengetahui semua tentang Dave yang sudah menikah dengan Kara.


"Aku benar-benar tidak menyangka kalau dia laki-laki yang sangat licik, bisa-bisanya dia menyatakan cinta padaku disaat dia sudah menikah!" gerutu Agna di dalam benaknya. "Mana istrinya si Kara sok cantik dan kecentilan, sungguh aku tidak pernah menyangka ini akan terjadi pada diriku, disaat aku sudah memimpikan akan hidup bahagia bersamanya. Memiliki anak yang imut-imut tapi sekarang itu semua hanya sebuah halu yang tidak akan pernah menjadi nyata," sambung Agna membatin, ia sekarang terlihat terus saja mengusap air mata yang tidak bisa berhenti untuk terus mengalir.


"Agna, tunggu aku ... aku bisa jelaskan semuanya lagi." Dave saat ini mengejar Agna, ia juga tidak tahu kalau Agna akan mendengar percakapannya dengan Kara tadi. "Agna ... Na, tunggu aku." Dave terus saja mengejar wanita hamil itu. Akan tetapi detik berikutnya langkah kaki Dave terhenti gara-gara laki-laki itu melihat kalau Agna menarik tangan Darren.


Dave juga mendengar dengan jelas kalau Agna mengajak sang dosen itu untuk pulang. Sehingga membuat Dave bertanya-tanya di dalam benaknya tentang seberapa dekat Agna dan Darren, karena selama ini yang ia tahu bagaimana Agna sangat membenci Darren. Tapi sekarang melihat Agna seperti saat ini membuat Dave merasa kalau Agna pasti memiliki hubungan dengan Darren.


"Apa hubungan mereka? Bukankah selama ini Agna membenci Dosen itu, tapi kenapa sekarang terlihat begitu akrab sekali? Apa ada sesuatu hal yang aku lewatkan?" Dave bertanya di dalam benaknya. Ia juga mendengar Agna yang terus saja mengajak Darren untuk pulang.


"Ayo Pak Darren, kita pulang sekarang!" Agna tidak peduli lagi bagaimana tanggapan Kara juga Dave pada saat dirinya mengajak sang suami pulang. "Ayo kita pulang." Agna mengulangi kalimatnya yang mengajak Darren untuk segera pulang.


"Bayar dulu, setelah itu kita akan langsung pulang. Kasihan Bunda kamu pasti lama menunggu kita, dia juga menunggu rujaknya." Darren harus mengatakan itu supaya Kara yang ada di sebelahnya tidak mencurigai dirinya.


"Aku tunggu di dalam mobil." Setelah mengatakan itu Agna terlihat langsung saja pergi begitu saja membawa hatinya yang terasa semakin dongkol, wanita hamil itu juga merasa sangat muak melihat wajah sok polos Kara. Padahal Agna tahu siapa Kara yang sebenarnya.


"Kunci mobilnya!" seru Darren yang sekarang mengejar sang istri setelah tadi ia membayar rujak tersebut. "Agna, tunggu kunci mobilnya." Darren tanpa berpamitan pada Kara, ia terlihat mengejar sang istri. Darren juga merasa jika saja Kara dan Dave pasti akan curiga padanya. Akan tetapi, Darren untuk saat ini tidak mempedulikan itu semua yang terpenting bagi laki-laki itu adalah ia bisa pergi dari sana tanpa membuat drama apapun itu.


Beberapa saat setelah Agna dan Darren pergi terlihat Dave mengacak rambutnya dengan sangat kasar, laki-laki itu juga terlihat menghela nafas lalu mengeluarkannya dengan sangat kasar.


"Ini semua gara-gara kamu!" Dave menunjuk Kara dengan marah. "Jika saja mulutmu tidak ember maka Agna tidak akan tahu tentang pernikahan kita." Sorot mata Dave menatap Kara dengan tajam.

__ADS_1


"Mas, kamu kenapa sih, malah marah-marah sama aku? Apa salahku padamu? Jika Agna tahu memangnya kenapa?" Kara bertanya tanpa memikirkan apa yang saat in Dave rasakan padahal Dave sudah memberitahunya kalau laki-laki itu berpacaran dengan Agna.


"Ini semua pokoknya gara-gara kamu!" geram Dave yang memang tidak begitu suka dengan Kara. "Jika saja kamu tidak menjebakku pasti aku tidak akan pernah mau menikah denganmu!" ketus Dave yang mengingat empat bulan yang lalu dimana Kara memang sengaja menjebaknya di dalam rumah wanita itu sendiri.


Tepat empat bulan yang lalu, kilas balik.


🍂🍂


"Dave, apa kamu bisa datang ke rumah Ibu sekarang?" Dari seberang telepon terdengar Kara yang menanyakan apakah Dave bisa datang ke rumahnya atau tidak.


"Aduh Bu, maaf saya tidak bisa," jawab Dave yang memang pada malam itu, ia dan teman-temannya sedang mabar di rumahnya.


"Sebentar saja Dave, Ibu tidak tahu harus minta tolong pada siapapun selain kamu," kata Kara. "Mau ya, datang ke rumah Ibu bawakan Ibu buku paket yang kamu pinjam itu, karena ada yang harus Ibu selesaikan menggunakan buku paket itu. Bagaimana Dave apa kamu bisa?"


"Sebagai gantinya nanti nilai kamu Ibu tambahin, masa kamu nggak mau mendengar tawaran yang menggiurkan ini."


Dave yang selalu mendapat nilai rendah pada akhirnya ia mengiyakan Kara, karena Dave tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini mengingat Kara adalah guru yang paling tidak bisa di ajak kerja sama. Membuat Dave merasa kapan lagi ia akan mendapat nilai tinggi secara cuma-cuma. Kalau saja laki-laki itu tidak mengambil kesempatan ini.


"Baiklah, tunggu saya disana saja Bu, saya akan segera kesana," kata Dave yang kemudian memutuskan sambungan telepon itu, Dave juga langsung terlihat bersiap-siap.


🍂🍂

__ADS_1


Dave dengan membawa buku paket yang Kara tadi minta, kini laki-laki itu terlihat sudah berdiri di depan pintu rumah Kara, Dave juga terus saja memencet tombol bel beberapa kali.


"Bu, permisi ini saya Dave." Dave terus saja mengulangi kalimatnya berulang-ulang kali. Ia juga terus saja memencet bel.


"Duh, dimana Bu Kara, ya, padahal tadi dia sendiri yang memintaku untuk datang kesini," gumam Dave pelan. Rupanya Kara tidak mau dipanggil miss jika saja wanita itu tidak ada di area Universitas. Oleh sebab itu, Dave memanggilnya dengan sebutan ibu. "Apa aku pulang saja?" Dave terlihat berbalik ingin pulang, karena laki-laki itu tidak mau jika saja ia menunggu terlalu lama disana. Akan tetapi, tiba-tiba saja pintu rumah Kara terbuka dan terlihatlah Kara yang hanya menggunakan handuk sepertinya wanita itu baru selesai mandi.


"Dave, silahkan masuk dulu," ucap Kara yang mempersilahkan Dave untuk masuk ke dalam rumah itu.


"Tidak usah Bu, saya di sini saja dan ini buku paket yang Ibu minta." Pada saat Dave akan menyerahkan buku paket itu, tiba-tiba saja Kara malah menarik tangan laki-laki itu untuk masuk. "Bu, saya hanya mau mengantar pak–" Kalimat Dave terputus pada saat ia malah melihat Kara membuka handuk mandi yang wanita itu kenakan.


Bukan cuma itu saja Kara malah berteriak meminta tolong, membuat Dave yang tidak tahu apa-apa hanya bisa melongo saja sehingga tidak lama terlihat beberapa warga yang datang.


"Tolong … tolong, dia mau memperkaos saya. Tolong …!" Kara terus saja meminta tolong sampai para warga sudah berkumpul di rumah wanita yang sangat licik itu.


"Bu, apa-apaan ini?" Dengan mimik wajah heran Dave bertanya pada Kara.


"Tolong Bapak-Bapak dia mau memperkaos saya." Kara terus saja mengulangi kalimatnya beruang-ulang kali. Sehingga membuat para warga percaya jika saja Kara memang benar-benar ingin di perkaos oleh Dave.


"Ini salah paham!" Dave terus saja berusaha membela dirinya sendiri. Tapi sayang laki-laki itu malah di seret ke rumah pak kades bersama Kara. Dari sanalah Dave dan Kara resmi menjadi suami istri.


🍂🍂

__ADS_1


(Cukup sampai disini kilas baliknya, supaya nggak ada yang bingung).💜


__ADS_2