Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Sebuah Solusi


__ADS_3

Setiba di rumah Darren terlihat Agna tidak mau duduk terpisah dengan Ranum sehingga saat ini wanita itu ada di tengah-tengah kedua orang tuanya.


Begitu juga dengan Darren yang saat ini duduk di tengah-tengah Hugo dan Alea, laki-laki itu dari tadi terus saja terlihat menunduk, karena ia tidak tahu entah apa yang akan dibahas oleh kedua belah pihak antara keluarganya serta keluarga istrinya.


"Siapa yang dulu akan membuka percakapan ini?" tanya Hugo yang sekarang menatap Al. Setelah tadi di pria itu sempat terdiam tidak tahu harus membahas masalah ini mulai dari mana.


"Anda saja Pak Hugo, karena saya sangat percaya kalau Anda orangnya bijak," jawab Al dengan wajah yang seperti biasa yaitu begitu tenang. "Saya dan istri saya hanya akan mendengar apa saja yang akan Pak Hugo katakan, karena sejujurnya kami tidak tahu apa sebenarnya yang sudah terjadi pada anak-anak kita ini." Al memang tidak tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi antara Agna dan Darren oleh sebab itu ia hanya bisa mengatakan itu, karena pria paruh baya itu takut jika saja dirinya salah bicara maka keadaan suasana maka semakin akan keruh.


Pada saat dirinya tidak tahu akar permasalahannya, membuatnya hanya bisa akan menyimak apa saja yang akan dibahas oleh Hugo saat ini. Sebab Al sudah sangat percaya dengan besannya itu juga sehingga membuat Al tidak akan mungkin bisa meragukannya lagi.


"Iya Pak Hugo, apa yang dikatakan saat ini oleh suami saya benar. Tentang kami berdua yang hanya akan menyimak saja," sahut Ranum yang juga ikut menimpali. Wanita itu juga saat ini terlihat terus saja memegang tangan Agna. "Silahkan Pak Hugo bisa mulai sekarang," ucap Ranum yang sekarang menyuruh besannya untuk mulai membuka percakapan.


"Baik kalau begitu pertama-tama, saya sebagai orang tua Darren meminta maaf pada Jeng Ranum dan juga Pak Al, karena putra saya ini sudah sangat lancang berpikiran kalau janin yang ada di rahim Agna itu bukan darah dagingnya," kata Hugo yang memohon maaf pada Al juga Ranum. "Kita juga selama ini berpikir kalau hubungan anak-anak kita baik-baik saja, tapi ternyata kita salah besar dimana Agna dan Darren tidak pernah akur apalagi akrab seperti yang kita harapkan. Mereka setiap hari bahkan setiap bertemu akan selalu saja bertengkar," sambung Hugo memberitahu kedua orang tua Agna tentang kebenaran.

__ADS_1


"Mereka juga tidak pernah tidur sekamar," ucap Alea yang juga ikut membuka suara.


Mendengar itu jelas Al dan Ranum sangat kaget, karena rupanya mereka selama ini tahu kalau hubungan putri serta menantunya baik-baik saja tapi nyatanya mereka salah.


"Jadi, solusi dari masalah ini apa, Pak Hugo?" tanya Ranum yang memberanikan diri untuk bertanya, di tengah-tengah rasa kecewanya pada sang putri, karena Ranum menjadi tahu kalau rupanya selama ini Agna tidak pernah benar-benar mendengarkan nasihatnya sebagai orang tuanya.


"Solusinya hanya satu, kita berikan anak-anak kita waktu untuk saling memahami satu sama lain, bukan malah mengambil jalan pintas seperti Agna tadi yang terus saja meminta cerai pada Darren, karena jujur saja saya tidak akan mungkin setuju." Iya, Hugo tidak ingin membuat Darren dan Agna bercerai berai. Apalagi saat ini Agna tengah mengandung cucunya.


"Jeng Ranum, Pak Al, kita biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri setelah saya akan memberikan mereka berdua solusi." Hugo menghela nafas sebelum laki-laki itu melanjutkan kalimatnya. "Pertama-tama saya akan mulai dari Darren dulu putra saya." Pria paruh baya itu terlihat menepuk bahu sang putra.


"Ren, bimbing Agna untuk menjadi istri yang penurut. Dengan cara memberikannya langsung contoh-contoh seperti yang Papi katakan waktu di rumah sakit tadi, kamu juga jangan meragukan darah dagingmu sendiri karena itu memang anak kamu. Jadi, Papi mohon bersikaplah dewasa mulai dari hal-hal kecil seperti tidur bersama di dalam satu kamar, satu ranjang dan satu selimut. Maka Papi yakin lama-lama kamu akan merasakan benih-benih cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Percayalah dengan apa yang Papi katakan ini." Hugo mengatakan itu semua panjang kali lebar berharap supaya putranya mengerti.


"Buat kamu 'Nak, menantu yang Papi dan Mami sayangi." Kini pandangan Hugo beralih pada Agna. "Papi mohon jangan ada niat untuk menggugurkan kandunganmu itu, karena itu sama saja dengan artinya kamu melakukan perbuatan yang sangat keji. Nak Agna, Papi juga mau kamu mulai sekarang mendengarkan apa saja yang Darren katakan, cobalah untuk memulai semuanya dengan hal-hal kecil. Seperti bangun pagi menyiapkan suami kamu sarapan juga menyiapkan keperluan suamimu seperti baju yang sering dipakai pergi mengajar bahkan sering Darren kenakan untuk pergi ke rumah sakit. Percayalah dengan cara begitu hubungan kalian akan semakin membaik."

__ADS_1


"Bagaimana jika hubunganku dengannya tidak bisa diperbaiki sama sekali?" tanya Agna dengan suara seraknya.


"Kalian boleh berpisah, dan biarkan Papi dan Mami yang akan mengambil cucu kami ketika dia lahir nanti, jika dalam enam bulan ke depan kamu dan Darren sama-sama tidak kunjung memiliki rasa satu sama lain, bagaimana apa kamu setuju?" Hero mengatakan ini hanya sebagai kalimat jebakan saja. Mana mungkin pria itu akan membiarkan perceraian akan terjadi.


Namun, untuk saat ini hanya kalimat itu yang dapat Hugo katakan untuk membuat Agna dan Darren merasa tenang.


"Agna, Ren, apa kalian berdua setuju?" Hugo bertanya sekali lagi pada menantu serta putrinya.


"Aku setuju," jawab Darren yang tadi kesenggol tangannya oleh Alea.


Agna meremas ujung bajunya sambil menjawab, "I-iya, a-aku juga se-setuju." Agna gugup pada saat wanita itu menjawab, karena tadi Ranum sudah membisikkan beberapa kalimat sehingga membuatnya setuju begitu saja tanpa banyak bicara.


"Syukurlah kalau kalian berdua setuju, dengan begitu kami selaku orang tua tidak akan ikut campur selama enam bulan ke depan ini, semoga dengan cara seperti itu kalian berdua akan bisa memahami satu sama lain," ucap Hugo yang bisa bernafas dengan lega, karena rupanya Agna dan Darren setuju. "Jika sudah begini masalah ini Papi anggap sudah selesai karena tadi Papi sudah memberikan sebuah solusi," sambung pria paruh baya itu.

__ADS_1


__ADS_2