Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Mengadu


__ADS_3

"Sar, maafin aku." Darius meminta maaf pada Saras ketika ia tidak sengaja bertemu dengan gadis itu di sebuah pusat perbelanjaan.


"Tidak perlu meminta maaf karena aku sudah memaafkanmu." Saras tampak cuek saat ia mengatakan itu. Tapi siapa yang tahu saat ini hati gadis itu telah hancur lebur menjadi potongan kecil-kecil. Saras sangat tidak tega melihat wajah Darius seperti saat ini, wajah laki-laki itu tampak letih dan lesu.


"Maaf untuk tadi malam karena aku sudah membuat keributan, aku juga sudah lancang melawan Om Bagas. Padahal niatku datang ke rumahmu hanya untuk mengembalikan barang-barang yang sudah kamu berikan padaku." Darius mengakui kesalahannya yang tadi malam. Padahal tadi malam Saras tidak melihat kejadian itu secara langsung. Dimana gadis itu cuma mendengar suara Bagas yang memarahi Darius habis-habisan. 


"Seharusnya tidak usah dikembalikan karena barang-barang itu tidak penting bagiku. Mengingat Roy juga tidak akan mungkin mau menggunakan barang bekas dirimu. Jadi, aku nanti akan mengembalikannya lagi padamu. Anggap saja itu barang sebagai kenangan dariku." Saras saat ini berusaha keras untuk menahan air matanya yang akan tumpah. "Jika hanya seputar ini saja pembahasan kita, aku sebenarnya juga tidak memiliki banyak waktu. Nanti Mamaku bisa saja mencariku karena sudah lima belas menit aku meninggalkannya memilih-milih baju sendiri." Saras beralasan padahal ia datang ke tempat itu bersama Roy.


"Aku tahu Saras, kalau kamu datang ke sini bersama laki-laki itu. Tapi kenapa kamu harus membohongiku? Apa kamu takut hatiku ini akan merasa sakit bahkan hancur?" Tentu saja Darius mengatakan itu semua di dalam benaknya karena laki-laki itu tidak akan mungkin mengatakannya secara langsung mengingat ia dan Saras sekarang sudah benar-benar seperti orang asing tidak seperti yang sudah-sudah.


"Aku pamit Dar, jangan seperti ini lagi karena aku benar-benar sudah tidak ingin berurusan denganmu lagi. Di tambah Papaku bisa saja mempermasalahkan hal ini. Mengingat Papaku benar-benar tidak menyukaimu aku takut nantinya malah akan menjadi masalah." Tanpa menunggu respon dari Darius, Saras pergi begitu saja karena ia sudah tidak tahan menahan air matanya yang lolos begitu saja.


"Hampir saja Darius melihat air mataku," gumam Saras di dalam benaknya. Hatinya perih seperti disayat oleh belati karena sejujurnya ia masih sangat mencintai Darius tapi di sisi lain Saras juga tidak mungkin akan membatalkan perjodohan itu. Mengingat kata-kata Sonia yang mengatakan bahwa jika Saras membatalkan semuanya maka Bagas akan langsung mendekam di penjara karena ayahnya itu tidak mampu membayar hutang.


Sedangkan Darius hanya membiarkan Saras pergi begitu saja, ia juga menjadi berpikir kalau saja Saras benar-benar sudah tidak memiliki rasa lagi pada dirinya.


"Kamu benar-benar sudah melupakanku Saras, melupakan laki-laki pengecut ini." Darius juga terlihat melangkahkan kakinya ingin pergi dari sana. Tapi, langkah kaki laki-laki itu malah terhenti gara-gara ia mendengar suara Saras yang sedang berbicara dengan Roy.


"Darimana saja? Aku menunggumu sudah terlalu lama," kata Roy pada saat ia melihat calon istrinya itu.


"A-aku, A-aku … tadi bertemu dengan Agna. Mungkin dia sedang membeli keperluan Nawa." Saras dengan cepat mengusap air matanya supaya laki-laki itu tidak curiga dengan dirinya. 


"Dimana?" Roy celingak-celinguk. "Kata Om Bagas, ayahnya Agna kecelakaan masa iya, Agna malah sibuk kesini untuk berbelanja." Rupanya Roy tahu kalau saka Al mengalami kecelakaan. "Apa ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan dariku?"

__ADS_1


Saras terdiam karena ia tidak tahu harus menjawab apa di tambah ia sangat terkejut sebab gadis itu benar-benar tidak tahu kalau saja Al mengalami kecelakaan.


"Sar, apa jangan-jangan kamu bertemu dengan mantanmu itu? Sehingga membuat kamu menangis seperti ini." Roy juga ternyata tahu kalau saja Saras habis menangis.


"Hah, nggak-nggak ada. Aku tadi mau benerin rambut eh malah kuku-ku yang nakal ini malah mencolok mataku." Saras langsung saja mengucek-ngucek matanya supaya Roy percaya padanya. "Udah ah, antar aku pulang saja karena aku harus pergi ke rumah sakit menjenguk Om Al. Kebetulan tadi Papa ngechat aku buat suruh kita pulang secepatnya."


"Tadi itu Agna atau Darius?" Roy menatap Saras dengan sorot mata yang begitu tajam.


"Apaan sih, Roy. Kita pulang jangan bahas itu lagi karena aku mau ketemu dengan siapa saja bukan urusanmu. Selama itu tidak membuat hubungan kita berantakan." 


"What! Kamu itu calon istriku Saras. Jadi, aku berhak tau semuanya!" Roy mencengkram lengan Saras dengan sangat kuat. "Hanya hari ini saja, untuk hari yang selanjutnya jangan pernah berharap kamu bisa bertemu dengan laki-laki itu. Aku tidak suka calon istriku diganggu-ganggu!" Roy lalu menarik pergelangan tangan Saras. "Kita pulang sekarang."


Saras terdiam karena ia baru menyadari suatu hal kalau saja selain bersikap dingin Roy juga sedikit kasar. Sangat jauh bedanya dengan Darius yang sama sekali tidak pernah kasar dengannya selama ini.


"Diam Sar, kita akan pulang. Jangan banyak protes." Roy tidak peduli meski Saras terus saja menyuruhnya untuk melepaskan pergelangan tangan gadis itu yang ia cengkram erat.


Saras baru kali ini pasrah begitu saja karena ia tidak mau kalau sampai orang-orang akan menjadikannya nanti bahan tontonan mengingat di negara konoha. ini sedikit-sedikit menjadi viral. 


Darius yang memang belum pergi melihat itu dari kejauhan ia merasa bahwa dirinya harus menyelidiki siapa Roy sebelum Saras menikah dengan laki-laki itu.


"Aku harus menyelidikinya terlebih dahulu, jangan sampai Saras menikah dengan laki-laki yang salah yang nantinya malah akan berujung menjadi penyesalan," gumam Darius pelan. "Jika si Roy itu laki-laki yang baik-baik maka aku akan melepaskan Saras dengan ikhlas dengan hati yang lapang. Tapi kalau dia itu jahat maka aku ini tidak akan  bisa tinggal diam saja."


***

__ADS_1


Setelah melihat Roy pulang dari rumahnya Saras langsung saja membicarakan masalah yang tadi pada saat ia sedang ada di pusat perbelanjaan.


"Dia kasar padaku, bagaimana nanti ketika dia sudah sah menjadi suamiku? Sekarang saja dia membuat pergelangan tanganku sampai merah begini." Saras mengadu sambil memperlihatkan pergelangan tangannya yang memerah pada kedua orang tuanya. 


"Wajar saja karena Roy cemburu, Papa saja jika Mamamu dekat-dekat dengan mantannya maka Papa akan melakukan hal yang serupa." Sambil memakan kue yang Roy tadi sempat belikan untuk dirinya Bagas terdengar sangat jelas sekali membela calon menantunya itu. Bagas juga tidak menghiraukan pergelangan tangan putrinya. "Sudahlah Saras, jangan mencari alasan. Roy jauh lebih baik daripada laki-laki itu karena Papamu ini tahu mana laki-laki yang tulus menyayangimu dan laki-laki yang sekedar memanfaatkanmu."


"Papa lebih membela dia daripada aku, aku ini putri Papa. Bukan anak tiri." Hati Saras terasa panas setelah mendengar kalimat sang ayah. 


"Berhenti bersikap begini Saras, kamu sudah sangat dewasa. Jadi, Papa minta tolong jangan sampai berpikiran seperti ini." Bagas yang tidak mau berdebat dengan putrinya memilih untuk segera pergi dari ruang tamu menuju kamarnya.


"Ayah, Ayah memang tidak pernah memperdulikan perasaanku!" Saras berteriak sehingga Sonia yang diam saja dari tadi dengan segera memeluk tubuh Saras.


"Saras, jangan pernah meninggikan nada suaramu pada Papa itu tidak baik 'Nak." Sonia berkata lemah lembut. "Roy memang laki-laki baik seperti apa yang tadi Papa katakan. Maka dari itu kamu adalah wanita yang paling beruntung Saras."


"Mama sama saja!" Saras mendorong tubuh ibunya sampai pelukan Sonia terlepas. "Sama-sama mementingkan diri kalian sendiri tanpa tahu bagaimana perasaanku." 


"Jangan membuat masalah Saras, Papa kamu bisa murka. Tolong bersikaplah sewajarnya saja jangan sampai suaramu yang keras itu membuat Papa malah akan mengurungmu di kamar sampai hari pernikahanmu itu tiba."


"Kurang saja aku seperti hewan peliharaan, aku sudah tidak peduli!"


Sonia yang merasa kesal karena baru kali ini sang putri meninggikan suaranya padanya malah mengangkat tangannya, lalu ia tanpa aba-aba malah menampar pipi mulus Saras.


Plakk ….

__ADS_1


"Cukup Saras! Jangan melewati batasmu. Mama dan Papa adalah orang tua kamu, sehingga kami tahu mana yang terbaik untukmu." Tangan Sonia terasa panas bekas dirinya menampar pipi putri yang sangat ia sayangi.


__ADS_2