Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Terpeleset


__ADS_3

Perlahan terlihat Ranum membuka matanya, cahaya lampu neon yang ada di dalam ruangan itu membuat wanita itu malah menjadi silau. Sehingga ia beberapa kali mengerjapkan mata. Ranum juga tiba-tiba saja mendengar suara cucunya yang saat ini terdengar sedang menangis di sebelahnya sambil memegang jari-jarinya.


"Ne … Nek." Nawa terus saja memanggil Ranum.


Agna yang belum tahu kalau saja Ranum sudah membuka mata terus saja menenagkan putranya.


"Nawa, putra Mama yang sangat Mama sayangi. Nenek masih tidur kita tunggu Nenek bangun dulu baru bisa gendong Nawa." Agna yang sedang memangku sang putra berusaha terus untuk menenangkan Nawa supaya balita itu tidak terus-terusan merengek karena ingin di gendong oleh neneknya. "Apa Nawa mau digendong sama Papa?" Agna menawarkan pada putranya untuk di gendong oleh sang Ayah. Tapi Nawa malah menggeleng kuat.


"Ne … Nek, Ne, Ne … Nek." Nawa menunjuk lengan Ranum.


"Bi Mar saja ya, sayang. Kebetulan Bi Mar ada di luar." Agna menunjuk ke arah pintu.


Namun, lagi-lagi Nawa malah menggeleng semakin kuat, menandakan bahwa balita itu hanya ingin digendong oleh Ranum saja.


"Kalau Nawa rewel terus, Mama akan ajak Nawa keluar dari sini." Agna terdengar mengancam putranya karena terus saja rewel. 


"Agna …." Lirih Ranum memanggil nama putrinya.


Agna langsung saja menatap sang ibu, pada saat ia mendengar suara wanita yang sudah melahirkannya itu. Agna juga jadi tahu kalau saja Ranum sudah sadar dari pingsannya.

__ADS_1


"Bunda." Agna dengan mata berbinar memanggil Ranum. "Ayah, operasinya berjalan dengan lancar kita hanya perlu menunggunya membuka mata. Bunda jangan memikirkan hal buruk lagi." Agna sepertinya tahu kalau saja Ranum pasti akan menanyakan tentang Al dapat di lihat dari raut wajah Ranum yang masih saja terlihat sendu.


"Apa itu semua benar, kalau saja operasi Ayahmu berjalan dengan lancar?" tanya Ranum sambil mencoba untuk bangun.


"Aku benar Bunda, tapi sebaiknya Bunda istirahat saja dulu. Nanti kalau Ayah sudah sadar dan kita sudah diperbolehkan untuk masuk ke ruangannya baru Bunda boleh bangun." Agna benar-benar mengkhawatirkan keadaan Ranum membuatnya harus menyuruh sang ibu untuk beristirahat saja. 


"Tidak Agna, Bunda harus melihat Ayahmu walau hanya lewat jendela. Supaya hati Bunda ini menjadi tenang." Ranum sudah berhasil bangun, tapi Agna malah terlihat menahan tubuh Ranum yang ingin turun dari atas bed. "Agna, Bunda mohon jangan tahan Bunda seperti ini."


"Bunda, tekanan darah Bunda saat ini cuma 90. Jangan sampai Bunda jatuh sakit karena kekurangan darah. Aku tidak mau kalau sampai Bunda nantinya malah di rawat di sini, yang membuatku tidak tahu harus mengurus siapa jika saja Bunda sakit dan Ayah juga. Padahal Bunda juga tahu kalau aku saat ini sedang mengandung cucu Bunda."


Mendengar itu Ranum kembali lagi membaringkan dirinya di atas bed karena kepalanya terasa sangat pusing, mungkin karena tekanan darahnya yang hanya 90 saja. "Berikan Bunda penambah darah biar darah Bunda kembali normal karena Bunda tidak boleh sakit." Ranum memang sering meminum obat penambah darah jika saja tekanan darah wanita itu menurun atau tidak normal seperti saat ini.


Agna mengangguk. "Baik, aku akan menyuruh Om suami untuk membelikan Bunda obat di apotek. Bunda harus tetap di sini jangan kemana-mana." Agna lalu menggendong Nawa untuk keluar dari ruangan itu. "Aku akan segera kembali Bunda."


Bunda, Agna pergi dulu membawa Nawa," timpal Agna lalu pergi begitu saja. Sepertinya Agna juga tahu saat ini kondisi sang ibu tidak memungkinkan untuk menjaga cucunya yang super aktif itu.


***


Brak ....

__ADS_1


Agna yang tidak hati-hati malah terpeleset sehingga mapan yang berisi makanan yang akan ia bawa untuk Ranum malah berserakan di lantai rumah sakit itu.


"Aw, perutku kenapa sakit sekali?" Agna langsung saja memegang perutnya sambil meringis kesakitan. Wanita itu tidak sadar kalau saja di pangkal pahanya keluar darah. "Sakit sekali, Tuhan tolong aku." Agna berusaha terlihat untuk bangun tapi lagi-lagi ia terjatuh karena perutnya memang benar-benar sangat sakit sekali. "Tolong aku, apa ada orang?" Kebetulan lorong yang Agna lalui saat ini terlihat sepi sehingga tidak mungkin ada yang menolong wanita hamil itu.


Namun, siapa sangka Darren yang memang sengaja mencari istrinya karena tidak kunjung datang padahal cuma mengambil makanan saja begitu terkejut pada saat ia melihat Agna yang meringkuk di atas lantai sambil memeluk perut.


"Agna, kamu kenapa Sayang?" Darren dengan cepat menghampiri Agna.


"Om suami, perutku sangat sakit tolong aku." Agna menggigit bibir bawahnya supaya suara ringisannya tidak terlalu terdengar jelas. "Tolong aku, dan jangan biarkan suatu hal yang buruk terjadi pada calon anak kita."


Pada saat itu juga mata Darren langsung saja melihat darah yang merembes keluar dari pangkal paha sang istri.


"Darah, Agna kamu berdarah." Pikiran Darren langsung saja merasa kacau dan tidak karuan pada saat ia melihat darah itu. "Kita harus segera ke ruang ibu bidannya, jangan sampai bayi kita …." Aruna, nama bayi pertamanya itu yang Darren ingat sehingga laki-laki itu menjeda kalimatnya karena ia tidak mau bayi yang masih menjadi embrio di dalam rahim Agna itu nantinya malah akan bernasib sama seperti Aruna-sang kakak.


"Darah." Agna ikut menyebut kata darah pada saat netranya tertuju pada pahanya karena kebetulan wanita itu saat ini sedang menggunakan dress sampai lutut saja. "Anak kita Om suami, jangan biarkan dia pergi dari dalam rahimku."


"Tidak akan Sayang." Darren lalu menggendong Agna dengan perasaan yang tidak karuan mengingat kata dokter kandungan itu yang mengatakan kalau trimester pertama ini masih sangat rawan keguguran. "Sayang, yang kuat kita akan segera sampai di ruangan ibu bidannya."


"Perutku kenapa sangat sakit sekali? Padahal tadi aku cuma terpeleset saja." Agna mengalungkan tangannya di leher sang suami supaya ia tidak jaruh karena saat ini Darren menggendongnya sambil terus saja berlari.

__ADS_1


"Tuhan apa lagi ini? Apa ini semua adalah garis takdir yang juga Engkau tulis untukku?" Darren membatin sambil terus saja berdoa untuk keselamatan bayi yang masih berbentuk embrio itu.


"Om suami, sakit sekali." Saking sakitnya sudut mata Agna berair.


__ADS_2