Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Disuruh Membuat Dedek Bayi


__ADS_3

Agna yang takut jika Dave akan mendengar suara laki-laki yang ternyata adalah Darren langsung saja memilih untuk memutuskan sambungan telepon itu, dan bukan cuma itu saja Agna juga memadam ponselnya.


"Bapak ngapain kesini, Hah?" tanya Agna saat melihat Darren mendekat.


"Saya mau mengambil kunci rumah di tasmu," jawab Darren santai.


"Kunci ditas, kapan Bapak menaruhnya?" Agna mengerutkan dahi karena gadis itu sangat heran dengan jawaban Darren.


"Waktu di kontor polisi saya sengaja menaruh kunci rumah ditasmu, karena saya pikir kau mau pulang." Darren tanpa ada rasa berdosa malah mengatakan itu pada Agna. "Sekarang mana tasmu? Siniin biar saya bisa ambil kunci itu."


Agna langsung saja melongo di buat Darren. "Bapak sudah gila, sejak kapan?" tanya Agna tiba-tiba karena mendengar Darren yang mengatakan bahwa suaminya itu sengaja menaruh kunci ditasnya. "Bisa-bisanya menaruh kunci didalam tas saya!" geram Agna yang merasa kesal.


"Agna, saya tidak mau berdebat denganmu malam-malam begini. Jadi, dimana tasmu itu?"


Agna menunjuk tas yang ia taruh di atas menja belajarnya, yang ternyata meja belajarnya itu tidak di pindahkan meskipun sang pemilik sudah menikah.


"Bapak ambil saja sendiri, setelah itu Bapak langsung pergi, biar saya bisa istirahat," kata Agna sambil membenarkan posisi tidurnya. "Ambil Pak, setelah itu Bapak langsung pergi dari kamar ini," sambung gadis itu mengulangi kalimatnya.

__ADS_1


"Tadi itu siapa?" Darrel tiba-tiba saja menanyakan tentang siapa yang tadi menelepon gadis itu.


"Itu Saras!" jawab Agna ketus. "Jika bukan karena Bapak, pasti malam ini ketiga teman-teman saya sedang tidur di sini bersama saya."


"Suaranya cowok, apa itu teman kamu juga?" Darren memilih untuk mengabaikan kalimat Agna, saking penasrannya laki-laki itu tentang orang yang tadi berbicara dengan sang istri.


Agna mendengkus. "Itu suara Saras, dia suaranya memang mirip seperti cowok." Gadis itu berbohong karena ia tidak mau jika saja Darren akan memberitahu Al dan Ranum, sehingga membuat Agna terpaksa berbohong dan jika saja gadis itu berada di rumah Darren maka ia pasti akan berkata jujur karena di sana tidak ada yang perlu gadis itu takutkan.


"Dave."


Agna langsung saja menggeleng. "Bukan Pak, mana ada, dia berani menelepon saga di saat larut malam begini." Agna menyangkal saat Darren menyebut nama Dave.


"Apa?!" Agna sangat kaget karena setahu gadis itu ia libur sebanyak dua hari. Tapi tiba-tiba saja Darren malah menyuruhnya masuk kuliah besok pagi membuat Agna begitu shock.


"Hanya untuk praktek Agna karena saya mau jika kamu lebih sering-sering praktek, maka saya dapat memastikan gadis termalas seperti kau akan lulus dengan nilai tinggi bukan karena ada orang dalam," ucap Darren menjeskan semuanya pada Agna. "Jadi, saya harap besok pagi kau harus masuk kuliah tanpa ada drama apapun itu."


"Bapak memang kurang kerjaan, masa yang lain libur saya malah masuk kuliah. Pokoknya ini sangat-sangat tidak adil." Agna mere mas batal guling yang gadis itu pegang saking kesalnya dengan apa yang Darrel ucapkan.

__ADS_1


"Semua yang mengambil jurusan kedokteran Agna bukan cuma kau saja. Jadi, saya harap kau mengerti dengan semua ini dan seharusnya kau berterima kasih pada saya." Darren lalu melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar Agna.


"Pokoknya saya tidak mau masuk kuliah besok pagi titik!" seru Agna yang tiba-tiba saja meringis kesakitan karena lututnya yang terluka gara-gara ia melompat dari mobil tiba-tiba terasa sakit.


Darren yang mendengar itu menghentikan langkah kakinya dan berkata, "Ambil kotak P3K dan obati lukamu segera Agna, jangan lupa jugs minum amoxilin sebagai obat pereda nyeri."


"Sok perhatian!" desis Agna. "Saya begini juga gara-gara Bapak!" gerutu gadis itu yang baru mengingat kalau sang ayah sempat membawakannya kotak obat P3K.


Darren yang tidak mau berdebat dengan Agna karena ini rumah mertunya, lebih memilih untuk segera keluar dari kamar gadis itu.


"Aku harus membuat drama sakit biar tidak masuk kuliah, maka dengan cara begitu aku akan terbebas dari praktek Dosen me sum itu," gumam Agna membatin, dan kini gadis itu melihat Darren malah masuk lagi ke kamarnya. Bersamaan dengan itu juga suara Ranum terdengar.


"Agna, kenapa kamu malah menyuruh suamimu pulang? Ini sudah hampir larut malam lho, tidak baik mengendarai mobil."


Darren hanya bisa nyengir kuda sambil menggaruk tengguknya yang tidak gatal karena laki-laki itu yang niatnya mau pulang malah bertemu dengan Ranum. Ibu mertua yang tadi habis mengambil air minum di dapur.


"Tidur gih, Nak Darren besok pagi saja pulangnya," kata Ranum sambil menatap anak serta menantunya itu secara bergantian. "Agna, ajak suamimu untuk tidur." Ranum tersenyum simpul dan wanita itu terlihat menyenggol lengan Darren. "Sana Rel, jangan lupa buatkan cucu untuk bunda yang banyak biar rumah ini nanti ramai lagi," seloroh Ranum.

__ADS_1


Sedangkan Darren langsung saja menatap Agna yang saat ini juga sedang menatap dirinya dan mungkin saja, pikiran kedua suami istri itu saling koneksi satu sama lain.


"Buat dedek bayi yang imut-imut untuk Bunda." Setelah mengatakan itu Ranum terlihat menutup pintu itu. Membiarkan pasangan suami istri itu berdua di dalam kamar tersebut berharap supaya Darrel dan Agna segera memberikannya cucu.


__ADS_2