
Hening ....
Dua detik, empat detik hingga enam detik pada akhirnya Darren terlebih dahulu membuka suara. Saat Agna hanya diam saja karena menahan rasa sakit pada kening gadis itu.
"Saya antar kamu pulang ya?" Darren membuka suara dan menawarkan diri untuk mengantar gadis itu pulang karena Darren merasa, jika Agna pasti tidak akan bisa ikut belajar lagi di saat keadaan gadis itu tidak memungkinkan.
"Saya bisa pulang sendiri, Bapak lanjutkan saja mengajarnya." Agna menolak untuk diantar pulang oleh laki-laki itu. "Minggir, saya mau turun." Agna bangun dari tidurnya terlebih dahulu dan ia segera turun dari bed itu. "Bapak jangan sok perhatian deh sama saya karena ini semua gara-gara Bapak juga."
"Lho, kok jadi kamu nyalahin saya? Padahal saya tidak pernah melakukan apa-apa." Darren tidak terima ketika Agna malah mengira dirinya yang bersalah atas kejadian ini.
"Memang yang salah itu Bapak karena Pak Darren memang memiliki niat mempermalukan saya tadi di depan teman-teman yang lain, dengan cara menyuruh saya maju dan menjelaskan materi yang Bapak sampaikan. Padahal Pak Darren sudah tahu sendiri kalau otak saya ini mana bisa menampung itu semua." Setelah mengatakan itu Agna memegang benjolan yang ada di pelipisnya. Dan lagi-lagi suara ringisan keluar dari bibir tipis gadis cantik itu. "Akkh, sangat sakit. Pokoknya si cunguk itu harus merasakan apa yang aku rasakan." Agna dengan wajah yang memerah berniat ingin membalas perbuatan Ratih.
"Pulang Agna jangan buat keributan, biar saya nanti yang akan mengurus semuanya," ucap Darren yang tidak mau kalau Agna sampai membuat onar di kelas seperti yang tadi.
"Eleh, palingan Bapak akan memaafkan si Cunguk yang tadi karena dia itu salah satu gadis, yang sangat mengidolakan Bapak."
"Agna, kamu harus percaya sama saya. Kalau saya ini akan menghukumnya karena saya ini adalah seorang Dosen yang adil. Tidak pernah membeda-bedakan anak didik saya karena kalian semua sama di mata saya, sama-sama murid yang harus saya bimbing sampai kalian berhasil menyelesaikan kuliah dengan nilai yang tinggi."
"Omong kosong!" desis Agna sebelum gadis itu berlari keluar dan entah kemana tujuan gadis itu sekarang.
"Astaga, anak itu kapan dia bisa berubah? Jika begini terus dia pasti akan lebih lama lagi menimba ilmu disini," gumam Darren pelan sambil memijat kepalanya yang kini malah menjadi berdenyut nyeri. "Sepertinya aku harus mulai mengatur waktu, supaya aku ini bisa mengajar dia di rumah." Darren malah berinisiatif untuk mengajar Agna di rumah juga. Sebab laki-laki itu merasa jika tidak seperti itu maka Agna tidak akan bisa menyelesaikan sidang skripsi jika waktu itu tiba nanti.
***
__ADS_1
Sore menjelang Darren terlihat mengusap wajahnya dengan kasar karena di saat hari ini ia sangat sibuk begini, ayah mertuanya malah menanyakan tentang keberadaan Agna pada dirinya.
"Ren, Agna ada di rumah kamu 'kan?" tanya Al sekali lagi di seberang telepon. Hanya untuk sekedar memastikan kalau putrinya itu baik-baik saja. Sebab ia mendapat laporan kalau gadis itu malah membuat rusuh lagi di lingkungan kampus. Sehingga membuat Al merasa khawatir dengan keadaan Agna.
"Ayah tenang saja, tadi aku sudah menghubungi Agna dan katanya, dia saat ini sedang ada di rumah," jawab Darren yang terpaksa berbohong untuk kali ini saja demi kebaikan.
"Tapi nomor ponselnya tidak aktif, bagaimana bisa kamu menghubunginya?"
"Yah, tadi Agna katanya mau fokus belajar. Mungkin saja karena itu dia malah memadamkan ponselnya. Takut ada yang mengganggunya di saat dia lagi bersungguh-sungguh dalam hal belajar." Lagi-lagi Darren harus terpaksa berbohong meski dalam kamus hidupnya, laki-laki itu sangat benci dengan kebohongan.
"Ya sudah, nanti kalau kamu pulang langsung hubungi Ayah karena Ayah mau bicara dengan anak itu."
"Baik Yah, kalau begitu aku harus masuk lagi ke ruang operasi. Nanti aku hubungi Ayah lagi." Setelah mengatakan itu Darren langsung saja memutuskan panggilan telepon itu. Sebab suster Lestari sudah memanggilnya dari tadi.
Darren yang mendengar itu hanya bisa mengangguk. "Siapkan kantong darah lebih banyak lagi Les, karena mungkin saja kita akan membutuhkannya nanti."
"Siap Dok, Anda tinggal masuk saja biar saya nanti yang akan membawa kantong darah seperti yang Dokter minta." Lestari lalu melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana, karena ia ingin menuju ruangan tempat penyimpanan darah.
Sedangkan Darren terlihat masuk ke ruang ganti dengan perasaan yang tidak menentu. Disaat sang istri saat ini entah sedang ada di mana.
***
Di sebuah klub Agna terlihat begitu santai menikmati setiap irama musik yang menggema disana. Gadis itu sama sekali tidak memikirkan apapun karena yang terpenting baginya hanyalah kesenangan setelah hari ini ia merasa bahwa dunianya sedang sedikit bermasalah.
__ADS_1
"Ayo kita pulang saja," ajak Saras ketika ia melihat Agna masih saja asik dengan dunianya.
"Duduk saja Sar, aku masih mau menikmati malam ini setelah satu bulan terkurung. Akhirnya malam ini aku bisa kembali menikmati suara musik yang bisa membuatku menjadi merasa sangat nyaman dan tenang seperti ini." Sesaat setelah mengatakan itu Agna terlihat kembali menggoyangkan badannya kekiri dan kekanan. "Sini jika kamu mau gabung, aku yakin kamu akan ketagihan Sar."
"Kamu saja, aku lebih baik duduk di sini saja." Saras menggeleng kuat sambil melambaikan tangannya saat melihat Agna malah masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang saat ini sama seperti Agna, sedang menikmati musik dengan bass yang full power.
Namun, pada saat Saras sedang memperhatikan Agna tiba-tiba saja seseorang malah menepuk pundak gadis itu. Sehingga membuat Saras langsung saja terlonjak kaget.
"Agna mana?"
Saras sempat terdiam sebelum gadis itu menjawab pertanyaan laki-laki yang saat ini sedang mencari Agna itu.
"Hei, Agna mana?" tanya laki-laki itu sekali lagi.
Saras menunjuk kerumunan orang-orang yang saat ini sedang berjoget seperti cacing kepanasan.
"Dia ada di sana, kita tunggu saja dia disi–" Kalimat Saras menggantung karena tiba-tiba saja laki-laki itu malah menyuntikkan obat tidur pada gadis itu. Sehingga membuat Saras langsung saja memejamkan mata dan tidak sadarkan diri.
"Cepat bawa gadis ini pergi dan bawa dia ke rumah yang ada di tengah hutan," ucap laki-laki itu tersenyum licik. "Kalau gadis yang satu itu biar aku yang akan membawanya.
"Baik Tuan, saya akan membawa gadis ini pergi dan saya akan menunggu Anda di dalam mobil saja." Laki-laki berpakaian serba hitam itu mengangkat tubuh ramping Saras.
"Jangan lupa tutup mulut serta matanya, sehingga bila nanti dia bangun dari tidurnya karena efek obatnya sudah habis. Dia tidak akan bisa mengenali kita." Laki-laki itu terlihat senyum puas. Sebab malam ini Agna akan benar-benar jatuh ke tangannya, hingga beberapa saat laki-laki yang berparas tampan itu terlihat berjalan ke kerumunan orang-orang. Dimana ia saat ini harus memcari Agna karena tujuan utamanya adalah ia harus bisa membawa gadis itu pergi diam-diam dari sana.
__ADS_1
"Pokoknya malam ini Agna harus benar-benar menjadi milikku, karena aku yang sudah lama menaruh hati padanya tapi malah si Dave s*alan itu yang dia pilih menjadi pacarnya." Laki-laki itu membatin.