
"Jauhkan tanganmu dari tubuhku!" Suara Agna terdengar meninggi. Wanita itu juga terlihat memberontak berharap pelukan erat Darren di tubuhnya bisa terlepas.
"Sayang, mana panggilan sayangmu padaku?" Darren sama sekali terlihat tidak marah sama sekali meskipun suara Agna tadi sempat meninggi dengan wajah wanita itu yang merah padam. "Sayang, jangan marah lagi. Nanti Darius akan membawa barang bukti sehingga semuanya akan menjadi jelas. Supaya kamu tidak salah paham lagi pada suamimu ini."
"Pergi! Aku tidak terima penjelasan bahkan barang bukti seperti apapun darimu. Aku tidak butuh itu semua!" Bukannya mereda. Amarah Agna malah semakin meledak-ledak tatkala wanita itu mengingat wajah Fika. Wanita gatal yang mengaku-ngaku sedang mengandung benih Darren itu. "Nawa juga tidak butuh Ayah sepertimu, kami berdua bisa hidup tanpamu!" Agna mendorong dada Darren dengan kasar. Nafas wanita itu naik turun dengan air mata yang lagi-lagi lolos begitu saja.
"Sayang, aku yang tidak bisa hidup tanpamu dan Nawa, putra kita yang kelak akan menjadi sang pewaris." Hembusan nafas kasar Darren terdengar begitu berat. "Maafkan aku yang sedari awal tidak menceritakan semua ini padamu yang pada akhirnya malah berujung seperti ini, maafkan aku … maafkan suamimu ini."
Agna tersenyum getir. "Menceritakan semua kalau kamu itu telah berhasil menanam benih di rahim wanita itu, begitu maksudmu?"
__ADS_1
"Sayang, harus berapa kali aku katakan kalau suamimu ini tidak pernah menghamili wanita itu?" Darren mencoba lagi untuk meraih tangan Agna.
Namun, sebelum tangan laki-laki itu meraihnya Agna malah terlihat berlari menuju kamar tempat Nawa sedang tertidur pulas.
"Agna sayang, percaya pada suamimu ini." Darren terlihat akan mengejar sang istri. Tapi tiba-tiba saja ponselnya malah berdering. Membuat langkah kakinya malah terhenti. "Papi," gumamnya pelan seraya menggeser tombol hijau.
"Bawa Agna dan Nawa ke rumah sakit." Terdengar suara Hugo begitu panik, pada saat pria paruh baya itu menyuruh sang putra untuk membawa menantu serta cucunya ke rumah sakit. "Jangan pakai lama, cepatlah!"
"Bawa saja istri beserta anakmu ke sini Darren. Jangan malah banyak tanya."
__ADS_1
"Aku hanya ingin tahu Mami kenapa, Pi? Sebab aku merasa kalau saja Papi sedang menyembunyikan suatu hal dariku." Semakin Darren bertanya seperti saat ini, maka semakin besar juga rasa keingintahuan laki-laki itu.
"Sekali lagi Papi katakan bawa Agna dan Nawa ke sini sekarang juga. Jangan malah bertanya di balik telepon saja karena itu percuma. Sebab Papi tidak akan menjawabmu." Hugo langsung saja terdengar mematikan telepon itu secara sepihak.
"Akhhh! PAPI!" Darren mengacak rambutnya dengan kasar. Suaranya juga membuat Agna yang sedang menggendong Nawa di dalam kamar Al dan Ranum langsung saja kaget.
"Papi kenapa? Apa jangan-jangan … ah, tidak mungkin." Agna berusaha menebak-nebak sendiri di dalam kamar orang tuanya. Sebelum ibunya Nawa itu mendengar suara ketukan pintu bersamaan dengan suara Darren.
"Sayang, Papi memintaku untuk membawamu dan Nawa ke rumah sakit," kata Darren lembut. "Ayo Sayang, buka pintunya."
__ADS_1
Hening, tidak ada sahutan dari Agna. mungkin saja wanita itu sengaja tidak ingin merespon sang suami.