
Tangan Darren terkepal kuat. "Wanita itu harus membayar semuanya karena dia, semua menjadi begini." Mata Darren memerah sebab laki-laki itu sudah menangis sudah terlalu lama. Menangisi kepergian sang ibu untuk selama-lamanya.
"Ren, jenazah Mami sudah berangkat ke pemakaman karena tidak baik menunda-nunda untuk mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan terakhirnya." Darius berbicara kepada Darren karena ayahnya Nawa itu malah mengurung diri di dalam kamar setelah Alea di bawa pulang ke rumah utama.
"Mami hanya pingsan saja, jangan biarkan orang-orang membawanya keluar dari rumah ini." Seolah tidak menerima kenyataan Darren malah menyuruh Darius untuk jangan membawa jenazah Alea pergi. "Sana pergi, katakan apa yang aku katakan ini pada orang-orang itu."
"Jangan membuat masalah Ren, bisa-bisa Papi nanti yang malah akan memarahiku. Jika saja aku melarang orang-orang itu untuk pergi ke pemakaman." Darius saat ini tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Disisi lain ia sangat takut dengan Hugo, tapi di sisi lain juga Darius merasa sangat kasihan dengan Darren yang sudah terlihat seperti orang yang enggan untuk hidup. "Ikhlaskan Ren, hanya itu jalan satu-satunya supaya Mami tenang di alam sana."
__ADS_1
Mendengar itu Darren langsung saja melotot menatap Darius, dengan kantung mata yang mulai terlihat menghitam. Menandakan bahwa laki-laki itu kurang istirahat.
"Jangan katakan kalimat ikhlas di depanku Darius, jika kau saja dulu nekat merahasiakan kematian ayahmu. Supaya kamu bisa tetap bersamanya walaupun sudah tidak memiliki nyawa." Iya, Darren ingat betul bagaimana dulu Darius menyembunyikan kematian ayahnya supaya tubuh kaku ayahnya Darius itu tidak dimakamkan.
"Supaya apa yang dulu aku lakukan tidak terulang padamu, makanya aku akan berusaha terus untuk mengingatkanmu. Sebagai sahabat yang baik." Sambil tersenyum getir Darius mengingat bahwa betapa egoisnya ia waktu itu. Padahal apa yang ia lakukan waktu itu adalah tindakan yang menyiksa jasad sang ayah. "Ayo Ren, kita pergi saja ke pemakanan. Supaya kamu bisa melihat Mami untuk yang terakhir kalinya. Berhenti mengingat hal bodoh yang pernah aku lakukan waktu itu."
"Mami bangun jangan tinggalkan aku dan Nawa, siapa nanti yang akan membelaku jika saja Om suami memarahiku?" Mata Agna terlihat sudah mulai sembab saking terlalu lamanya wanita itu menangis. "Mami, aku janji akan membuatkan Mami cucu yang banyak asalkan Mami bangun. Aku mohon … Mami bangunlah, Nawa juga mau di gendong sama Mami." Saat ini Agna merasa bahwa ia sedang bermimpi.
__ADS_1
"Agna tenangkan dirimu, Nak." Al terlihat ikut duduk di dekat putri kesayangannya. "Biarkan Mami-mu pergi dengan tenang, jangan sampai kamu yang begini malah membuat perjalannya yang indah menjadi buruk. Cobalah untuk ikhlas karena hanya itu cara untuk menenangkan jiwa dan raga kita. Percayalah pada Ayahmu ini Agna."
"Kata ikhlas memang mudah untuk diucapkan Ayah, tapi untuk di jalankan sangatlah sulit dan itu tidak mudah. Seperti apa yang aku rasakan saat ini." Agna menunjuk dadanya. "Disini Ayah, sakit … sangat sakit sekali. Sehingga untuk sekedar bernafas saja terasa sesak. Membuatku sangat sulit untuk menerapkan kata ikhlas itu."
Al mengangguk sambil membawa Agna ke dalam dekapannya karena ia tahu saat ini suasana duka masih menyelimuti hati sang putri. Membuatnya memilih untuk diam saja, ingin memberikan waktu untuk Agna yang sepertinya sangat larut dalam kesedihan yang teramat dalam.
Sedangkan Hugo terlihat terus saja berdiri sambil menatap nisan yang bertulisan Alea binti Hartono. Air mata pria paruh baya itu juga tidak henti-hentinya mengalir di balik kaca mata hitamnya.
__ADS_1
"Aku sudah ikhlas Alea, pergilah dengan tenang. Maafkan aku yang selama ini tidak tahu tentang penyakitmu ini, aku berjanji akan menjaga anak, menantu serta cucu kita. Seperti apa yang dulu sering kamu katakan padaku. " batin Hugo.