
Agna tersungkur lemas pada saat dirinya melihat sosok tubuh yang sudah ditutupi dengan kain berwarna putih. Wanita hamil itu juga merasa jantungnya berhenti berdetak sejenak karena apa yang saat ini ia lihat benar-benar membuatnya kehilangan separuh jiwa serta raganya.
"Darren, tidak mungkin!" Agna terdengar langsung saja menangis histeris bahkan ia juga berteriak. "Tidak, jangan tinggalkan aku." Agna berusaha menyeret lututnya yang terasa sangat lemas. Hanya untuk mendekat ke arah bed yang saat ini sedang di kerumuni oleh beberapa dokter. Agna terlihat merangkak sebisa mungkin sebelum Ranum datang dan membantu putrinya itu untuk berdiri.
"Agna," panggil Ranum yang juga sudah berlinang air mata. "Kamu harus menerima kenyataan ini karena mungkin ini yang terbaik untuk Darren."
Mendengar itu Agna malah menepis tangan sang ibu. "Tidak! Aku tidak akan mungkin akan menerima kenyataan ini!" Agna merasa bahwa dunianya kali ini benar-benar sudah sangat hancur lebur. "Darren tidak boleh meninggalkan aku, di saat aku ini sedang mengandung darah dagingnya!" teriak Agna yang sekarang mencoba untuk berdiri meskipun lututnya benar-benar terasa sangat lemas. "Darren, jangan tinggalkan aku brengsek! Apa kamu mau anak kita lahir tanpa memiliki Ayah?" Agna meraung terus saja berteriak hingga pada akhirnya dirinya bisa berdiri sendiri karena ia benar-benar tidak mau di bantu oleh Ranum.
"Agna, Bunda mohon ... kamu jangan seperti ini." Ranum memegang lengan Agna tapi lagi-lagi wanita hamil itu menepis tangan sang ibu. "Ingat kamu sedang hamil, jangan sampai kamu yang begini malah berpengaruh buruk pada bayi-mu."
"Suamiku jantungnya sudah tidak berdetak lagi, bisa-bisanya Bunda malah mengatakan itu padaku!" Agna malah terdengar meninggikan suaranya. Wanita itu juga malah memanggil Darren dengan kata suamiku. Entah karena dirinya lupa atau Agna memang sengaja memanggil Darren dengan sebutan itu.
"Siapa bilang itu Darren?" Terdengar suara Hugo yang baru saja datang.
__ADS_1
Agna dengan cepat menoleh ke arah sumber suara. "Papa Hugo." Lirih Agna dengan bibir bergetar. "Darren ... Darren, saat ini dia sudah meninggalkanku dan juga bayiku," kata Agna dengan suara serak. "Dia sudah benar-benar meninggalkan aku, Pa ...."
"Agna, tolong kamu dengarkan apa yang Bunda katakan ini." Ranum berbicara setengah berbisik pada putrinya.
Agna malah terlihat memeluk sosok tubuh yang sudah terbujur kaku di atas bed pada saat dirinya sudah mendekat ke arah tubuh yang sudah diselimuti oleh kain berwarna putih. Agna tidak peduli meskipun Ranum menyuruhnya untuk tenang, begitupun kalimat Hugo yang tadi bertanya Agna malah mengabaikannya begitu saja.
"Ren, ayo bangun buka matamu aku sudah ada disini. Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi." Agna menggoyang-goyangkan tubuh kaku laki-laki yang belum sama sekali Agna lihat wajahnya di balik kain putih itu. "Aku mohon ... aku dan bayi kita tidak akan bisa hidup tanpamu." Wanita hamil itu terus saja menangis meskipun beberapa dokter yang ada disana terus saja melihatnya. "Darren, jangan seperti ini aku mohon." Agna terlihat seperti orang gila, dimana dirinya terus saja menyuruh laki-laki yang sudah tidak bernyawa itu lagi untuk bangun. Meskipun dirinya tahu sangat mustahil itu semua akan terjadi.
"Agna, coba buka kain putih itu dan lihat apakah itu Darren atau bukan." Hugo yang takut terjadi sesuatu dengan Agna malah mengatakan itu. "Ayo Agna, buka sekarang dan lihat dengan jelas-jelas."
"Dimana Darren? Kenapa malah berubah menjadi pria paruh baya begini? Kalian apakan Om suamiku!" Agna sekarang malah melihat beberapa dokter yang ada di sana secara bergantian. "Katakan dimana Om suamiku?!" Suara Agna yang serak masih saja terdengar sangat melengking saat ini. Ia juga terlihat langsung saja mengusap air matanya dengan gerakan kasar.
"Kalian semua jangan mempermainkanku!" Agna yang tadi sangat sedih tiba-tiba saja wanita itu malah berubah menjadi marah. Dimana ia saat ini menarik kerah baju dokter yang kebetulan sedang berdiri di dekatnya. "Dokter penipu, dimana Darren, dimana Om suamiku?"
__ADS_1
"Nona, siapa yang bilang kalau ini adalah Dokter Darren, mungkin Anda saja yang salah orang." Setelah cukup lama terdiam akhirnya dokter yang bajunya sedang di tarik-tarik oleh Agna pada akhirnya membuka suara. "Ini adalah jasad Pak Retno, pria paruh baya yang mengalami serangan jantung lalu beliau langsung saja menghembuskan nafas terakhir ketika baru saja datang kesini." Dokter itu berusaha menjelaskan semua pada Agna, supaya wanita hamil itu tidak menjadi salah paham.
"Apa!" Mata Agna yang sembab terlihat hampir saja melotot keluar karena mendengar apa yang dokter itu katakan. "Lalu, dimana Om suamiku? Hm ... maksudku Dokter Darren."
"Dokter Darren sudah dipindahkan ke ruangan sebelah karena beliau sudah sadar dari komanya tepat beberapa menit yang lalu," jawab dokter itu yang terlihat malah kembali menutup jasad pria paruh baya itu lagi. "Silahkan Nona bisa langsung ke ruangan sebelah, supaya Anda bisa melihat Dokter Darren atau om suami Anda." Dokter itu malah mengulum senyum pada saat ia mengatakan om suami karena ia merasa lucu sendiri dengan nama panggilan Agna pada Darren.
Ranum dan Hugo yang hanya diam saja langsung saja membawa Agna untuk segera pergi dari sana menuju ke ruangan sebelah dimana saat ini Darren berada seperti apa yang tadi dokter itu katakan pada Agna.
"Ayo kita pergi ke ruangan sebelah, Sayang." Ranum mengajak Agna dengan cara menuntun wanita hamil itu supaya cepat keluar dari sana. "Itu bukan Darren. Jadi, kamu jangan menangis lagi."
Agna mengangguk dengan perasaan yang sedikit mulai lega karena ia juga tadi mendengar kalau saja Darren sudah sadar dari komanya.
"Tuhan, terima kasih karena itu bukan Darren," gumam Agna membatin.
__ADS_1
🍂🍂
Hai² para pembaca bagaimana tadi sempat kagetkah? Atau biasa saja, saat Agna malah menangisi orang yang salah. Jika kaget komen yak💜 dan tetap pantengin terus cerita selanjutnya🌹