Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Apartemen


__ADS_3

Setelah lima hari berlalu pada akhirnya Darren kini sudah diperbolehkan untuk pulang. Laki-laki itu juga sudah memberitahu Agna kalau saja mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri lagi setelah kalimat rujuk terlontar dari bibir Darren.


"Kita akan tinggal di apartemen," kata Darren pada saat dirinya sedang didorong oleh Agna karena laki-laki itu memakai kursi roda mengingat kedua kakinya entah kapan akan sembuh seperti sedia kala.


"Kenapa tidak di rumah saja?" tanya wanita hamil yang sekarang mulai terlihat menggunakan make up tipis-tipis untuk memikat hati sang suami. Padahal tanpa ada polesan make up di wajahnya Darren akan tetap terpikat olehnya.


"Jauh dari Universitas, sehingga membuatku memutuskan untuk kita tinggal saja di apartemen milik Papa, yang juga kebetulan sangat dekat dengan Universitas sehingga aku tidak akan mengkhawatirkanmu membawa sepeda motor kesana," jawab Darren yang rupanya sudah tahu jika saja Agna masih trauma dengan mobil. "Bagaimana apa kamu setuju? Lagipula Papa akan memberikan apartemen itu untuk calon bayi kita."


Agna mengangguk-mengangguk tanda mengerti, wanita hamil itu juga terlihat senyum-senyum sendiri gara-gara ia merasa bahwa Darren sangat perhatian dengan dirinya.


"Om suami nanti ke apartemen itu sama Ayah saja karena Mami sama Papi sedang ada urusan. Kalau aku akan di bonceng oleh Bunda," kata Agna yang memberitahu Darren.


"Iya tidak apa-apa, nanti kalau aku sembuh. Pasti aku yang akan memboncengmu dan membawamu kemana saja yang akan kamu mau Nona Agna," timpal Darren sambil terkekeh kecil. "Tugasmu hanya berdoa untuk kesembuhanku, dan jangan lupa kamu itu harus belajar yang rajin meskipun aku tidak bisa masuk mengajar lagi."


Agna menghentikan langkah kakinya, sehingga membuat kursi roda yang saat ini wanita hamil itu dorong juga ikut berhenti.


"Aku akan menuruti apapun yang Om suami katakan, aku ini juga akan berusaha menjadi istri yang baik dan penurut. Mohon untuk membimbingku menjadi wanita baik seperti yang Om suami inginkan." Agna menunduk dan langsung saja mendaratkan kecupan pada pucuk kepala sang suami. "Mari kita sama-sama memperbaiki diri, jika aku salah tegurlah aku dengan cara menasehatiku karena aku tahu setiap rumah tangga itu tidak ada yang sempurna. Pasti akan ada saja cekcok di dalamnya."


"Begitupun denganmu Agna, jika aku salah maka segera kasih tahu aku. Jangan sampai itu yang akan malah membuat hubungan kita akan menjadi renggang." Darren mengelus tangan Agna yang saat ini ada di pundaknya. "Jika aku sedang marah, yang itu artinya aku adalah api maka kamu harus berperan sebagai air. Bukan malah sebagai angin. Tentu saja itu juga berlaku untukmu Agna karena kita akan berusaha saling melengkapi satu sama lain.


"Pasti, aku akan mengingat kalimatmu ini Om suami," balas Agna yang sekarang melangkahkan kaki sambil mendorong kursi roda Darren. "Satu lagi yang aku mau Om suami."


"Apa?" tanya Darren yang penasaran dengan apa yang wanita hamil itu inginkan.


"Jika Om suami sibuk katakan, jika Om suami juga tidak ingin aku ganggu terus terang saja, jika kesal denganku maka ungkapkan dan jika Om suami tidak suka segera beritahu aku. Sesimple dan sesederhana itu, karena bicara serta berkomunikasi itu sangatlah penting supaya tidak akan ada kata salah paham antara kita berdua," jawab Agna. "Itu juga akan membuktikan bahwa Om suami akan menghargai perasaanku dan menjaga hubungan kita berdua."


"Good, kata-kata yang sangat luar biasa." Darren sampai bertepuk tangan ketika laki-laki itu mendengar kalimat Agna. "Akan selalu aku ingat kata Ibu dari calon anakku."


Percakapan dan Agna pada akhirnya berakhir pada saat suara Ranum yang ada di parkiran saat ini menanyakan tentang mereka yang sangat lama sekali.


"Lho, kok kalian berdua lama?" tanya Ranum.

__ADS_1


"Biasalah Bun, kita sempat bicara membahas masa depan," jawab Agna. "Iya 'kan, Om suami?"


"Hm … i-iya." Darren sangat gugup pada saat dirinya menjawab pertanyaan Agna. Laki-laki itu juga terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


***


Setiba di apartemen Desta terlihat sangat mengagumi apa saja yang isi apartemen itu.


"Wah sangat indah sekali, aku tidak menyangka ada apartemen seperti ini. Coba tadi Bunda dan Ayah masuk pasti akan sama sepertiku yang saat ini merasa kagum." Mata Agna berbinar-binar bahagia. Menandakan bahwa saat ini dirinya suka dengan apartemen itu. Meskipun sang ayah juga memiliki apartemen seperti itu. Tetapi, wanita hamil itu merasa jika apartemen saat ini tempat kakinya berpijak sangatlah berbeda dengan apartemen milik Al.


"Apa kamu suka?" Darren bertanya karena sebelumnya ia tidak pernah melihat binar bahagia seperti ini yang terpancar sangat jelas dari dua bola mata indah milik sang istri.


"Aku suka ... aku sangat suka." Agna saking senangnya malah berputar-putar. Sehingga membuat wanita itu lupa bahwa saat ini dirinya sedang hamil.


"Agna, senang boleh saja tapi jangan terlalu berlebihan. Ingat saat ini kamu tengah berbadan dua. Jadi, kamu harus berusaha mengontrol diri kamu sendiri. Jangan sampai kejadian di tangga itu terjadi lagi." Terdengar Darren mengingatkan Agna. "Aku mengatakan ini karena aku sayang padamu, aku juga sayang pada calon anak kita. Aku tidak ingin hal buruk akan menimpamu." Darren memperjelas kalimatnya karena ia takut Agna nanti malah akan salah paham dengan kalimatnya yang tadi.


"Heh, aku sampai lupa. Maaf ya, Om suami. Lain kali aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Agna menunjukkan dua jarinya dan terbentuklah huruf V. "Sekali lagi aku minta maaf, Om suami."


"Bantuan apa?" Dahi Agna berkerut dengan mata yang sedikit menyipit.


"Aku mau mandi. Jadi, aku mau kamu membantuku karena aku merasa badanku sudah sangat lengket," jawab Darren yang saat ini merasa jika dirinya ingin mengetes Agna apakah wanita hamil itu akan benar-benar mau merawatnya dengan tulus atau tidak.


"Boleh, mau mandi pakai air apa hangat atau dingin?" Agna tersenyum karena apa yang Ranum katakan tentang dirinya yang akan merawat Darren seperti merawat bayi memang benar apa adanya. Dimana Agna akan memandikan sang suami serta akan benar-benar mengurus Darren mulai dari A sampai Z.


"Air dingin saja karena itu bagus untuk tulang." Darren menjawab karena ia ingin mandi dengan air dingin.


"Baiklah, ayo kita masuk ke kamar mandi. Tapi sebelum itu buka baju dulu." Agna menggigit kecil bibirnya karena sebenarnya ia malah merasa malu sendiri sebab dirinya belum terbiasa membantu Darren untuk mandi. "Om suami jangan menatapku seperti itu, nanti aku malah akan menjadi salah tingkah."


"Aku hanya meragukanmu Agna karena tidak mungkin kamu bisa membantuku untuk membersihkan diri." Darren malah berkata seperti itu pada Agna.


"Jangan ragu dan jangan bimbang, aku ini Agna Yumna Ezza, wanita kuat yang bisa melakukan apa saja. Jika hanya untuk membantu Om suami mandi itu masalah kecil." Agna sebenarnya saat ini sedang berusaha menghibur dirinya sendiri di saat hatinya benar-benar merasa sakit pada saat melihat keadaan Darren yang seperti ini. "Jadi mandi 'kan?"

__ADS_1


"Jadi dong, sekarang ayo jalan ke kamar mandi." Darren terlihat malah mendorong kursi rodanya sendiri ke arah kamar mandi karena dirinya tiba-tiba saja merasa tidak mau merepotkan wanita hamil itu.


πŸ‚πŸ‚


Di kamar mandi terlihat Agna menggosok punggung Darren dengan pelan, dan rupanya di dalam kamar mandi itu terdapat kursi roda juga yang khusus untuk Darren mandi. Ternyata Hugo sudah mempersiapkan semuanya untuk putranya itu sebelum pasangan suami istri itu datang ke apartemen itu.


"Yakin nggak mau dibuka?" tanya Agna pada saat melihat bungkus tongkat sakti Darren.


"Tidak usah, nanti biar aku bersihkan sendiri," jawab Darren yang sejujurnya dirinya juga masih sangat malu.


"Aku ini istrimu bukan orang lain. Jadi, untuk apa kamu harus merasa malu?" Agna sepertinya tahu jika saja Darren saat ini malu. "Aku sih nggak malu, apa perlu kita mandi berdua saat ini juga?" celetuk Agna. Sambil terlihat malah membuka bajunya.


Namun, Darren dengan cepat menarik tangan wanita hamil itu karena Darren merasa ini bukan waktu yang tepat untuk mereka mandi bersama-sama.


"Kenapa? Aku tidak malu seperti Om suami karena kita ini adalah pasangan suami istri." Agna malah melanjutkan membuka bajunya. "Kita mandi sama-sama biar tidak ada kata malu lagi di dalam diri Om Suami, Oke!" Agna juga berusaha membuang rasa malunya saat ini sejauh mungkin karena ia merasa jika Darren dan dirinya masih saja terus-terusan merasa malu satu sama lain maka mereka tidak akan pernah bisa terbuka satu sama lain.


"Agna," panggil Darren pada saat laki-laki itu melihat tubuh berisi sang istri.


"Iya, ayo kita mandi." Agna lalu langsung saja mengguyur tubuhnya sendiri dengan shower. "Wah dingin, sangat-sangat dingin." Meski ini yang pertama kalinya Agna b*gil di depan laki-laki yang sudah bersatatus menjadi suaminya. Wanita itu terlihat biasa-biasa saja.


Darren hanya bisa melihat tubuh Agna yang putih mulus seputih susu itu. Dirinya juga tiba-tiba saja melirik pusakanya yang malah tidak merespon sedikitpun meskipun istrinya saat ini benar-benar sedang bertelnj4ng.


"Bantu aku untuk menggosok punggungku karena tanganku tidak bisa menjangkaunya." Agna memberikan Darren sabun cair yang tadi Agna letakkan pada telapak tangan suaminya itu. "Ayo giliran, tadi aku sudah membantumu Om suami.


Senyum di bibir Darren akhinya terbit. "Baiklah Nona Agna, sini aku bantu," kata Darren penuh semangat.


"Gosok dengan perasaan kasih sayang supaya punggungku tidak lecet." Agna terkekeh sambil meniup gelembung busa. "Nah, begitu jangan malah kasar-kasar itu tidak boleh," sambung Agna sebelum terdengar suara Darren yang ikut terkekeh-kekeh.


"Kita menjadi anak kecil lagi, ternyata begini rasanya menikah dengan orang yang kita cintai," ucap Darren yang terus saja menggosok punggung Agna.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


Jangan senyum-senyum sendiri kalian🀣 kasih like dan komen biar hari ini up dua babπŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2