Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Tidak Bisa Tidur


__ADS_3

Saat Agna akan turun dari dalam mobil tiba-tiba saja Al malah memberikan putrinya itu gawainya.


"Ini Saras mencarimu," kata Al yang sudah terlebih dahulu turun dari dalam mobil. "Katanya nomor kamu tidak aktif, makanya dia menghubungi Ayah," sambung Al memberitahu putrinya.


"Baterai ponselku lowbat Yah, makanya nomorku tidak aktif," ucap Agna sambil terlihat mengambil ponsel sang ayah. "Ayah bisa masuk duluan, karena aku mau berbicara dulu dengan Saras."


"Ya sudah, jangan lama-lama Ayah masuk dulu." Al lalu terlihat pergi karena saat ini laki-laki itu harus segera menemui Ranum.


Beberapa saat kemudian setelah Al benar-benar masuk ke dalam rumah terdengar Agna mulai berbicara dengan Saras.


"Sorry, aku bawa Erlin dan Vita ke rumahku nggak apa-apa 'kan, Na?" tanya Saras dari seberang telepon. Saat gadis itu baru saja membuka suara.


"Nggak apa-apa justru aku senang kamu membawa mereka ke sana karena kalau kamu bawa ke sini, pasti mereka akan bertanya panjang kali lebar," jawab Agna yang tidak mempermasalahkan kalau Saras mengajak kedua temannya itu ke rumah gadis itu.


"Aku pikir kamu bakal marah, soalnya kita janjian akan menginap di rumah kamu. Eh, tau-tau ada drama Pak Dosen yang bawa kamu pulang dengan paksa membuat semuanya hampir saja ketahuan. Jika aku tidak pintar-pintar membuat alasan." Saras menceritakan semua pada Agna. "Untung saja Dave juga percaya padaku, dan


Laki-laki itu tidak banyak protes," tambah Saras.


"Ini semua gara-gara Dosen galak itu!" ketus Agna yang malah membayangkan wajah Darren yang sangat menyebalkan di matanya. "Jika saja dia tidak datang ke restoran itu, maka dapat aku pastikan hal seperti ini tidak akan pernah terjadi."

__ADS_1


"Salahmu juga sih, kenapa kamu malah mengajak kita makan malam di sana? Padahal masih banyak restoran bintang lima di kota Jakarta ini."


"Kamu menyalahkan aku, Sar?" tanya Agna sambil menebak-nebak ekspresi wajah teman yang sudah gadis itu anggap saudaranya.


"Bukan, tapi kalau ki–"


"Salahmu, apa kamu lupa kalau dirimu lah yang mengajakku ke restoran itu?" tanya Agna memotong kalimat Saras.


"Vita dan Erlin sudah kembali dari kamar mandi, itu artinya aku harus memutuskan panggilan ini," kata Saras yang tidak mau berdebat dengan Agna karena gadis itu tahu kalau saat ini mood Agna sedang tidak baik. Sehingga membuat Saras lebih memilih mencari aman dengan cara memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak. "Dadah Agna cantik, sampai bertemu besok pagi. Jangan lupa berdoa dulu sebelum tidur supaya bayang-bayang timun Pak Dosen tidak menjadi mimpi buruk bagimu," celetuk Saras terkekeh-kekeh.


"Hey, dasar kamu sudah ketularan virus me–"


Tutt, tutt … tutt ....


"Awas Saras, besok pagi akan aku buat perhitungan denganmu!" gerutu Agna sambil turun dari dalam mobil karena gadis itu merasa cuaca malam ini sangatlah dingin. Sehingga membuatnya merasa ia harus cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya.


***


Agna terus saja merubah posisi tidurnya karena gadis itu sedang mencari posisi yang tepat supaya dirinya bisa tidur dengan nyaman, seperti yang sering ia lakukan di rumah Darren.

__ADS_1


Namun, kali ini Agna sama sekali tidak bisa mencari posisi nyaman itu padahal saat ini, gadis itu berada di kamar yang sudah tidak ia tepati selama satu bulan dan kamarnya itu adalah tempat favoritnya dulu. Tapi sekarang Agna merasa ada yang sedikit berbeda.


"Sangat aneh sekali, kamar ini sangat aku rindukan di rumah Dosen itu. Tapi sekarang kenapa aku merasa ada yang berbeda dengan kamar ini?" Agna yang sudah merasa capek membolak-balikkan badannya pada akhirnya gadis itu memutuskan untuk bangun saja dari tidurnya.


"Mungkin aku harus sekrol sosmed dulu biar mata ini bisa ngantuk karena sejauh ini yang aku tahu, kalau aku main sosmed pasti mata ini akan langsung terasa ngantuk dan kalau sudah ngantuk. Pasti tidur tengkurap maupun terlentang akan oke-oke saja," kata Agna sambil meraih ponselnya di atas nakas.


Namun, pada saat dirinya akan menghidupkan data. Tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya.


"Dave ...." Agna langsung saja tersenyum karena gadis itu sangat senang. Ketika ia di hubungi oleh laki-laki yang sudah menjadi kekasih pujaan hatinya itu, dan tanpa berlama-lama ia menggeser layar ponselnya.


"Malam Agna, apa kamu belum tidur?" tanya Dave.


"A-aku ba-baru saja mau ti-tidur," jawab Agna yang tiba-tiba saja malah menjadi terbata-bata.


"Wah, kalau begitu aku tutup dulu ya, aku takut mengganggu jam istirahatmu."


"Tidak menggangguku kok, Da–"


"Siapa?" tanya laki-laki yang tiba-tiba saja nyelonong masuk ke kamar gadis itu.

__ADS_1


"Kau!" Agna langsung saja menatap laki-laki itu sinis. Sambil terlihat menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Saya tanya itu siapa?" tanya laki-laki itu sekali lagi.


__ADS_2