Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Murka


__ADS_3

"Ren, kok kamu diam saja sih, Sayang," kata Fika yang sekarang menatap Darren. "Di dalam rahimku ada darah daging kita, hasil cinta kita berdua," sambung wanita itu.


Sesak, itu yang saat ini Agna rasakan karena wanita itu mengira bahwa Darren telah berselingkuh di belakangnya. Sehingga ia hanya bisa diam saja sambil menahan rasa sakit di dalam hatinya. Sebab Agna tidak akan mungkin bisa marah-marah di Universitas itu, bisa-bisa semua mahasiswa yang ada di sana akan tahu statusnya dengan Darren nanti ya itu pasangan suami dan istri.


"Kita bicara di rumah." Hanya empat kalimat yang Agna ucapkan sebelum wanita itu setengah berlari menuju parkiran karena air matanya sudah tidak bisa Agna tahan lagi supaya tidak menetes. Supaya dirinya tidak terlihat lemah di depan wanita yang sangat gatal itu.


"Agna, Agna ... Na, tunggu aku." Darren dengan cepat mengejar sang istri, tapi sebelum itu ia sempat menepis tangan Fika yang masih saja bergelayut manja di lengannya. "Na, aku bisa menjelaskan semuanya." Darren terus saja berlari mengejar Agna. Ia juga tadi sempat menarik tangan Fika dengan sangat kasar pada saat wanita itu menarik baju Darren tadi.


"Sayang, kamu jangan tinggalin aku!" seru Fika yang terlihat malah ikut berlari. Bukan cuma itu saja ia juga mengulum senyum simpul dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diartikan. "Sayang, tunggu aku. Jangan tinggalkan aku dan calon anak kita."


"S*alan!" umpat Darren membatin, dimana saat ini rasanya ia sangat ingin sekali memberikan pelajaran pada Fika jika saja wanita itu adalah laki-laki.


"Agna!" panggil Darren tiba-tiba dengan suara setengah berteriak pada saat ia melihat Agna malah mengendarai roda dua itu sendiri tanpa mengajak dirinya. "Agna, jangan seperti ini!" Suara Darren terdengar masih sangat lantang karena Agna bukannya berhenti melainkan wanita itu malah terlihat semakin memutar gas kendaraan beroda dua itu sehingga motor itu malah melaju semakin cepat. Darren juga sangat takut jika saja nanti akan terjadi sesuatu dengan ibunya Nawa itu.


"Ayo kita pulang pakai mobilku saja." Terdengar Fika malah menawarkan Darren pulang menggunakan mobilnya.

__ADS_1


"Wanita murahan!" Wajah Darren merah padam. "Pulang ke Negara asalmu, sebelum kau, aku buat menyesal!" geram Darren yang saat ini ingin sekali menelan Fika secara hidup-hidup.


"Oh, begini caramu berterima kasih padaku? Apa setelah kamu sembuh dan kembali menjadi laki-laki yang normal. Kamu malah ingin mencampakkanku?" Fika terkekeh sambil meraba dada bidang Darren.


"Cukup! Jauhkan tangan murahanmu dari tubuhku, dan aku katakan sekali lagi. Kau kembalilah ke Negara asalmu sebelum semuanya aku beberkan." Darren sepertinya tahu rahasia wanita itu sehingga membuatnya berani mengatakan itu.


"Aku tidak takut Sayang, justru aku ini sudah mengirim rekaman video dengan durasi 27 detik ke nomor ponsel Pak Hugo. Jadi, kamu salah besar telah mengancamku seperti ini." Fika bisa melihat dengan sangat jelas kalau saja mata Darren saat ini merah menyala. "Andai saja kamu mau menikah denganku waktu itu, maka aku pasti tidak akan datang kesini untuk menemuimu. Sekarang nikmatilah permainan ini sampai mana kamu bisa bertahan, Sayang."


"Kau!" Darren menunjuk wajah Fika. "Jika saja istriku sampai kenapa-napa maka, kedua tangan ini akan melenyapkan wanita ular sepertimu. S*alan!" Darren tidak bermaksud untuk berkata-kata kasar.


"Darius, dia yang akan membongkar semuanya. Apa kau pikir aku ini bodoh? Tidak semudah itu, kau datang secara tiba-tiba dan malah mau menghancurkan rumah tanggaku. Jangan pernah mimpi wanita malam!"


"Jika bukan karena wanita malam ini, kamu tidak akan mungkin bisa sembuh, Sayang. Jadi, jangan sombo–" Kalimat wanita itu terputus karena Darren malah pergi begitu saja membiarkan dirinya sendiri di sana.


"Kurang ajar, berani sekali dia mengatakan kalimat itu padaku. Awas saja, pokoknya kamu harus menjadi milikku. Bagaimanapun caranya aku tidak akan memperdulikan itu semua, yang terpenting kamu harus menjadi ayah dari bayiku ini," gumam Fika membatin yang sekarang berjalan ke arah mobilnya karena ia ingin mengikuti Darren pulang ke rumah laki-laki itu. Sebab otak liciknya sudah merencanakan sesuatu hal yang sungguh di luar dugaan Darren. "Apa dia pikir aku ini akan menyerah begitu saja? Dasar laki-laki bodoh. Dia tidak tahu saja kalau saat ini wanita yang dihadapinya bukan wanita sembarangan," sambung Fika membatin yang kini mulai terlihat memutar kunci mobilnya, lalu ia tanpa menunggu waktu yang lama malah menginjak gas.

__ADS_1


***


Plakk!


Garis telapak tangan terukir sangat jelas di pipi Darren pada saat sang ayah malah melayangkan tamparan ketika Darren baru saja masuk ke dalam rumahnya.


"Agna yang merawatmu dan berusaha menjaga darah dagingmu, tapi kenapa kamu malah melakukan ini semua, dimana otakmu, Darren?" Hugo sangat murka pada saat pria paruh baya itu mengingat tentang video yang sempat ia tonton di mana video itu sangat menjijikkan sekali di matanya. "Bisa-bisanya kamu malah melakukan itu semua pada wanita lain dan dengan teganya kamu menghianati Agna di belakang. Bagaimana kalau sampai dia tahu, hah?" Kali ini emosi Hugo tidak bisa ditahan lagi. Dimana lagi-lagi ia terlihat menampar Darren berulang-ulang kali.


"Pi, hentikan!" Terdengar suara Alea yang datang tanpa membawa Nawa karena rupanya cucunya itu sudah diantar ke rumah Ranum. Sebab Agna malah pulang ke rumah kedua orang tuanya bukan ke rumah utama maupun rumah Darren. "Biarkan putra kita menjelaskan semuanya dulu, Papi jangan malah ambil tindakan sendiri karena video itu belum tentu benar apa adanya." Alea mengatakan itu sebab ia juga rupanya sudah menonton video dengan durasi 27 detik itu.


"Jangan terus-terusan bela anakmu ini, Mi." Hugo menunjuk Darren yang masih diam saja tidak berani bersuara sedikitpun karena Darren saat ini tidak memiliki bukti sama sekali. Untuk membuktikan semuanya pada Alea maupun Hugo. "Anak kamu ini lebih baik cacat Mi, daripada harus melakukan hal yang sangat memalukan seperti ini. Sungguh hanya dia seorang laki-laki brengsek yang ada di dalam keluarga besar kita.


"Pi, jangan bicara sembarangan. Ingat, jangan mengatakan apapun yang jelek-jelek karena itu semua termasuk adalah doa." Alea menggeleng kuat karena ia tidak mau jika saja Darren malah akan cacat lagi. "Tolong Pi, biarkan Darren menjelaskan semuanya dulu, baru kita boleh mengambil kesimpulan sendiri."


"Mami tanyakan saja sendiri pada anakmu ini." Hugo memijat pelipisnya karena tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat pusing. Di tambah saat ini pria paruh baya itu sangat murka dengan putranya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2