
Setelah menuntun Agna untuk kembali membaringkan tubuh wanita yang berwajah pucat itu, kini Ranum malah terlihat memberi kode pada sang suami dan yang lain untuk menyuruh mereka keluar dari ruang rawat inap itu, karena saat ini Ranum ingin berbicara dengan
putrinya dulu.
Membuat Al yang mengerti maksud sang istri hanya bisa mengajak besan serta menantunya untuk segera keluar dari sana. Begitu juga dengan Naya dokter itu juga terlihat ikut keluar setelah tadi sempat menjelaskan apa saja yang harus Agna lakukan saat usia kandungan wanita itu baru saja memasuki minggu keempat.
Tidak lama setelah semua orang keluar, Ranum meraih tangan Agna, tangan putrinya yang terasa sangat dingin sekali.
"Agna mau makan apa?" tanya wanita itu membuka percakapan.
Agna hanya merespon dengan cara menggeleng, karena saat ini wanita itu sedang memikirkan bagimana bisa darah daging Darren tumbuh di dalam rahimnya padahal ia dan sang suami hanya melakukan itu cuma sekali saja, membuat Agna saat ini benar-benar sangat kebingungan.
"Mangga muda, asam saja, atau rujak? Kamu tinggal sebutkan saja kamu mau makan apa. Nanti suami kamu yang akan membelikannya untukmu," kata Ranum lembut.
__ADS_1
"Bun, aku tidak mau makan apa-apa untuk saat ini, karena sejujurnya aku belum siap untuk memiliki anak." Sudut mata Agna mulai berair pada saat ia mengatakan itu pada sang ibu. "Aku belum mau hamil, Bunda. Bagimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Agna sekarang terlihat menatap perutnya yang masih datar.
"Sayang, anak itu membawa rezeki. Jadi, untuk apa kamu mengatakan kalau belum siap?" Ranum tiba-tiba saja merasa bahwa saat ini wanita itu sedang melihat dirinya yang dulu pada Agna, dimana dulu ia juga belum siap hamil pada saat dirinya masih duduk di sekolah SMA.
"Bunda, gugurkan saja kandungan ini, karena aku belum siap." Air mata Agna kini malah jatuh membasahi pipinya.
"Ssstt, tidak boleh mengatakan itu. Jika kamu marah dan kesal pada Darren, jangan malah libatkan janin yang saat ini ada di dalam rahimmu, Sayang. Kasihan calon cucu Bunda yang tidak tahu apa-apa malah kamu bawa-bawa." Ranum akan terus berusaha menenangkan Agna, sebab wanita itu tahu kalau mungkin memang benar jika saat ini Agna belum siap.
"Ingat Sayang, kamu saat ini sudah benar-benar di kasih kepercayaan sama Tuhan. Jadi, kamu jangan malah berpikiran yang macam-macam. Tugasmu sekarang hanya fokus pada janin dan suamimu, karena tadi Bunda mendengar Darren yang mengatakan kalau kamu akan kuliah di rumah saja mulai dari besok pagi." Ranum sangat berharap jika saja Agna akan mau kuliah di rumah sesuai dengan apa yang di katakan oleh Darren.
"Agna sayang, cobalah mulai dari sekarang belajar memanggil Darren dengan sebutan khusus seperti Mas, Abang, Kakak, atau nama panggilan sayang lainnya," ujar Ranum yang merasa memang selama ini Agna memanggil Darren selalu dengan kata pak. "Kamu dan Darren sebentar lagi akan memiliki malikat kecil yang hadir di tengah-tengah kalian. Jadi, cobalah untuk mulai belajar memanggil suamimu dengan panggilan sayang."
Ranum si bijak tidak akan pernah membiarkan Agna dan Darren bercerai berai. Sehingga membuat Ranum akan selalu saja terus berusaha untuk membuat hubungan menantu serta putrinya itu malah akan semakin kuat serta kokoh. Walaupun badai, angin ribut akan berusaha menghancurkan rumah tangga Darren dan Agna.
__ADS_1
"Bun, tolong panggilkan saja aku, karena aku dan dia saat ini ingin berbicara empat mata dengannya." Agna saat ini benar-benar ingin berbicara empat mata dengan Darren. "Bunda, tolong panggilkan aku."
"Oke, bunda akan panggilkan aku, tapi Bunda dengan sangat memohon padamu jangan membahas apapun yang membuat hati suamimu sakit, oke, apa kamu setuju?"
Agna langsung saja mengangguk. "Aku tidak akan pernah melukai perasan menantu Bunda itu," jawab Agna.
Ranum lalu berdiri dari duduknya, tetapi sebelum itu ia sempat mengecup pucuk kepala Agna.
"Bunda akan terus berdoa, semoga hubungan kamu dan Darren hanya akan dipisahkan oleh kain putih saja." Ranum tersenyum pada saat melihat putrinya yang malah menatap dirinya. "Kalau begitu Bunda keluar dulu, kamu juga jangan banyak pikiran kasihan calon cucu Bunda nanti."
"Iya, aku tidak akan memikirkan apa-apa Bunda," sahut Agna.
Ranum yang merasa Agna pasti sudah paham dengan apa yang tadi wanita itu katakan kini merasa mulai lega, karena Ranum tahu putrinya itu pasti mendengarkan dirinya.
__ADS_1
"Semoga saja dengan kehamilannya Agna akan berubah. Sehingga membuat putriku itu juga bisa berpikiran dengam dewasa," gumam Ranum pelan.
Sedangkan Agna melihat kepergian Ranum hanya bisa diam saja, sebab wanita itu saat ini akan menunggu sang suami untuk menemui dirinya.