Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Salah Paham


__ADS_3

Agna terus saja memalingkan wajahnya, karena saat ini gadis itu tidak mau melihat sang suami yang sedang fokus menyetir.


"Dave dan tiga temanku pasti akan mencariku saat ini, karena aku yang tidak kunjung balik," gumam Agna membatin sambil membayangkan wajah Dave, laki-laki yang pada malam ini sudah resmi menjadi kekasih hatinya. "Tapi semoga saja, Dave percaya dengan pesan singkat yang tadi aku kirim itu, biar dia dan yang lain tidak curiga," sambung Agna yang saat ini sedang berdialog di dalam benaknya.


"Kita pulang ke rumah saja," kata Darren yang tiba-tiba saja memecah keheningan setelah tadi laki-laki itu lama terdiam.


"Saya ini mau menginap di rumah Ayah dan Bunda, tapi kenapa Bapak malah mau membawa saya pulang ke rumah Bapak lagi?" tanya Agna yang sebenarnya tidak mau berbicara dengan sang suami.


Namun, karena mendengar kalimat Darren yang mengatakan mereka akan pulang ke rumah laki-laki itu. Membuat Agna yang bungkam dari tadi langsung saja membuka suara, karena gadis itu juga tidak terima jika Darren tidak mengantarnya ke rumah kedua orang tuanya. Padahal tadi siang gadis itu sudah memberitahu dosen sekaligus suaminya itu tentang dirinya yang akan menginap sebanyak dua malam.


"Pulang saja, jika kau keluyuran malam-malam begini dan malah asik pacaran di restoran seperti tadi," timpal Darren dengan mimik wajah yang begitu datar. "Pokoknya kamu tidak usah menginap," tambah laki-laki itu sambil terus saja menatap lurus ke depan sana.


"Itu bukan urusan Bapak!" kata gadis itu ketus dan langsung saja menoleh menatap Darren dengan kedua matanya yang tajam. "Bapak harus antar saya ke rumah kedua orang tua saya, jika tidak maka saya akan nekat lompat dari dalam mobil ini." Agna sekarang malah terdengar mengancam laki-laki itu.


"Saya menyuruhmu pulang Agna, tapi kenapa kau malah mau melakukan hal yang sangat gila?"


Agna tidak menjawab, gadis itu memilih untuk bungkam karena ia tahu kalau berbicara dengan Darrel hanya akan membuang tenaganya serta hanya akan menguras emosinya saja.


Namun, detik berikutnya saat Darrel lengah Agna malah membuka pintu mobil yang tidak di kunci itu dengan sangat hati-hati, dan tanpa rasa ragu serta takut gadis bar-bar itu malah terlihat langsung saja melompat dari dalam mobil yang masih saja melaju itu.


Buukkk ....


Agna saat itu juga terpental jatuh tapi untung saja tadi Darren membawa mobilnya dengan pelan sehingga membuat gadis itu hanya lecet di bagian lengan, siku, dan lututnya saja. Tidak cidera dan tidak memiliki luka yang cukup serius.

__ADS_1


"Astaga, gadis itu memang sudah bosan hidup." Darren terlihat langsung saja menginjak pedal rem secara mendadak, dan segera turun dari dalam mobil itu hanya untuk melihat keadaan istri bar-barnya yang sama sekali tidak ada rasa takutnya itu.


Sedangkan Agna yang melihat mobil Darren berhenti dengan cepat berdiri dan memperbaiki dress selutut yang gadis itu kenakan saat ini.


"Si me sum itu berhenti, aku harus cepat sembunyi biar dia tidak menemukan aku," gumam Agna pelan yang sekarang dengan cepat berlari ke arah pos ronde yang gadis itu melihat banyak sekali orang di sana. "Sepertinya aku punya ide dan ini kesempatan emas buatku." Sesaat setelah mengatakan itu Agna berusaha berlari dengan kakinya yang pincang.


"Agna, kau mau kemana?!" Suara Darrel terdengar bertanya setengah berteriak karena laki-laki itu melihat sang istri yang saat ini malah berlari. "Agna," panggil Darren yang sekarang terlihat malah ikut-ikutan berlari mengejar gadis itu.


Agna yang dipanggil malah terdengar minta tolong.


"Tolong, tolong ... tolong saya, seseorang tolong saya!" teriak Agna meminta tolong. "Tolong, tolong ...."


Darren yang jaraknya sudah lima meter dari Agna malah menghentikan langkah kakinya, karena saat ini laki-laki itu mulai berpikir kalau istrinya itu pasti sedang memiliki niat jahat pada dirinya.


Namun, terlambat lima orang yang sedang berjaga di pos ronda malah terlihat menyeret Agna ke arah Darren, dan tiba-tiba saja laki-laki itu malah mematung ketika ia melihat pemandangan itu.


"Dia memang selalu saja membawa masalah," batin Darren sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Karena laki-laki itu yakin kalau saat ini Agna dan dirinya sedang dalam maslah.


***


"Harus berapa kali saya katakan kalau kami ini pasangan suami istri, bukan pasangan me sum seperti yang Bapak-Bapak ini maksud," kata Darren menjelaskan untuk yang kesekian kalinya.


Karena rupanya Darren dan Agna malah di tuduh sebagai pasangan yang melakukan kegiatan tidak senonoh di tempat itu setiap malam menjelang. Padahal orang-orang itu cuma salah paham.

__ADS_1


"Kalian berdua ini sudah meresahkan lingkungan desa kami," ucap Asep warga yang tadi ikut menyeret Agna. "Kalian ini setiap malam selalu saja melakukan adegan seperti situs dewasa," sambung Asep dengan mata yang terus saja tertuju pada Darren.


"Pak, Bapak ini sudah salah palam," ucap Agna yang tiba-tiba saja merasa takut. Karena niat gadis itu tadi mau minta tolong tapi malah menjadi apes seperti ini.


"Kalian berdua bisa jelaskan di kantor polisi saja nanti." Pak lurah yang ada di sana akhirnya memutuskan untuk membawa pasangan suami istri itu pergi ke kantor polisi. "Karena saya sudah mendapat banyak sekali laporan dari para warga, kalau kalian ini sudah sering melakukan itu di kebun singkong yang ada di pinggir jalan. Dan dengan bukti beberapa k*ndom di temukan berserakan di sana."


"Astaga, Pak Lurah ini juga malah ikut-ikutan salah paham. Kami ini suami istri dan jika Pak Lurah tidak percaya Bapak bisa lihat cincin kawin kami."


Darren mengangkat telapak tangannya hanya ingin memperlihatkan cincin itu dan juga telapak tangan Agna, tapi sayang gadis si biang kerok itu malah tidak memakai cincin itu. Membuat Darren langsung saja menunduk lesu karena harapannya untuk membuktikan bahwa ia dan Agna memang pasangan suami istri malah pupus sudah.


"Nah, mereka sedang berbohong Pak Lurah," kata Asep dengan raut wajah bahagia. Karena kali ini pria paruh baya itu tidak akan salah lagi dalam menangkap orang.


Darrel mengangkat sedikit wajahanya sambil menggeleng, dan saat ini pasti sang ayah sudah tidur membuat laki-laki itu tidak bisa meminta tolong. Di tambah Hugo rabun sehingga ayah dari Darren itu tidak bisa menyetir malam-malam begini untuk menolong mereka.


"Ini semua gara-gara kau, kita sekarang akan dibawa ke kantor polisi," bisik Darren di indera pendengaran gadis yang terus saja menunduk itu.


"Salah Bapak, siapa suruh tidak bawa buku nikah kita sebagai buktinya," timpal Agna yang sekarang terdengar malah menyalahkan Darren. "Pokoknya ini semua salah Bapak, dan jika kita di penjara maka saya akan melaporkan Bapak sebagai tersangka."


"Tersangka apa?" Darren bertanya sambil mengerutkan dahi.


"Tersangka kang ca bul!" jawab Agna penuh penekanan.


Darren memejamkan mata sambil menghela nafas. "Jangan mengada-ngada kau, Agna."

__ADS_1


__ADS_2