
Alarm pada ponsel Darren berdering membuat laki-laki itu langsung saja membuka mata, tanpa ada drama harus kembali lagi memejamkan mata. Sebab laki-laki itu sangatlah menghargai yang namanya waktu.
"Sudah pagi rupanya," ucap Darren sambil menggeliat di bawah selimut. Rupanya tadi malam laki-laki itu benar-benar tidur dengan sangat nyenyak dan pulas membuat Darren tidak tahu bahwa Agna tadi malam tidur di sofa yang ada di luar kamar hotel itu.
"Aku harus mandi, karena di pagi ini aku juga harus segera pergi ke rumah sakit lagi. Untuk mengontrol keadaan pasien yang tadi malam aku operasi itu," kata laki-laki itu yang kini terlihat bangun dan segera turun dari ranjang itu. Dan kini tujuan utamanya adalah kamar mandi.
Namun, saat ia hendak melangkahkan kaki. Tiba-tiba saja terdengar suara cempreng Agna yang memanggil dirinya dari arah luar.
__ADS_1
"Pak Darren, buka pintu ini!" teriak Agna beberapa kali. "Saya mau mengambil ponsel saya saja, Pak Darren yang terhormat sungguh Anda sangat-sangat menyebalkan!" gerutunya lagi sambil terus saja berteriak. Bahkan sekarang gadis itu terdengar malah berteriak semakin keras.
"Astaga, aku sampai lupa bahwa gadis bar-bar itu ada di luar." Darren lalu berbalik dan kemudian ia berjalan ke arah pintu kamar itu. Karena laki-laki itu harus membuka pintu untuk sang istri. "Semoga saja dia tidak berubah menjadi macan tutul," tambah Darren yang sudah bisa membayangkan bagimana ekspresi mimik wajah Agna yang pasti sangat masam.
Membuat Darren berusaha untuk tetap terlihat tenang dan laki-laki itu juga merasa kalau ia harus menutup kupingnya supaya gendang telinganya tidak pecah. Ketika ia nanti akan mendengar suara cempreng milik Agna.
"Bagimana tidur Bapak nyenyak?" Agna langsung saja bertanya pada Darren di saat pintu itu sudah terbuka. "Apa sangay nyenyak, Pak?" Agna mengulangi pertanyaannya pada Darren.
__ADS_1
"Agna, saya harus mandi dan tidak ada waktu untuk meladenimu. Lebih baik kamu ambil saja ponselmu dan setelah itu kamu boleh keluar dari kamar ini, karena saya mau mandi," ucap Darren tanpa mau menjawab pertanyaan Agna. "Sekarang Agna keluar, dan tunggu sampai saya sudah selesai mandi baru kamu boleh masuk," sambung laki-laki itu.
"Setelah enak-enakan tidur, sekarang Bapak malah seenaknya saja mengusir saya. Ini tidak bisa di biarkan." Agna berkecak pinggang. "Pokoknya Tante Alea dan Om Hugo harus tahu tentang kelakuan putranya yang bergelar sebagai Dosen dan Dokter ini, ternyata kelakuannya menyimpang sangat jauh sekali." Agna mengangguk-nganggukkan kepalanya sambil memutari tubuh Darren. "Begini rupanya aib seorang Dosen yang sangat galak seperti Anda."
"Sudah Agna, saya mau mandi dulu. Dan kau kalau masih ngantuk tidur saja jangan malah bicara kemana-mana, karena terkesan tidak nyambung di indera pendengaran saya," timpal Darren yang lagi-lagi harus bersifat sabar dalam menghadapi gadis bar-bar itu.
Agna menarik baju Darren sambil berkata, "Siapa yang menyuruh Bapak mengunci pintu ini dari dalam? Apa Bapak tahu saya tidak bisa tidur gara-gara di sofa itu." Agna menunjuk sebuah sofa ke arah luar. "Disana banyak sekali nyamuk membuat saya merasa harus membuat perhitungan dengan Bapak, karena gara-gara Bapak saya jadi di gigit nyamuk dan membuat kulit mulus saya harus merasakan bentol-bentol seperti ini."
__ADS_1
"Di atas nakas ada salep Agna, kau tinggal oles pakai itu saja. Jangan malah marah-marah pada saya, karena saya ini tidak tahu apa-apa." Dengan lugu dan polosnya Darren malah mengatakan itu semua pada Agna.