
"Jangan marah-marah mulu Agna, sini kamu cerita saja saja aku tentang apa yang sudah terjadi sehingga membuatmu menjadi seperti ini." Darren mengatakan itu karena laki-laki itu tidak mau jika saja Agna terus saja marah-marah dari tadi.
Sehingga membuat Darren menjadi ingin tahu kenapa tiba-tiba saja Agna malah menjadi seperti saat ini padahal tadi saat ia dan wanita hamil itu akan membeli rujak Agna begitu senang. Tapi sekarang raut wajah wanita itu selalu saja masam.
"Dave ...." Agna menjeda kalimatnya, karena wanita itu tiba-tiba saja menjadi mengingat kalau kekasihnya itu sudah mempunyai istri.
"Iya ada apa dengan Dave, apa dia memutuskanmu secara sepihak sehingga membuatmu menjadi seperti ini?" tanya Darren sambil terlihat duduk di sebelah Agna, karena saat ini pasangan suami istri itu sudah ada di dalam kamar mereka.
"Dia sudah menikah dengan Miss Kara." Agna lagi-lagi tidak bisa menahan air matanya lagi sehingga butiran bening mulai jatuh membasahi pipi mulus wanita itu. "Dadaku sakit, rasanya seperti orang yang sesak nafas." Agna menyentuh dadanya sendiri. "Disini, terasa sangat sakit sekali sangat-sangat sakit."
"Apa Miss Kara dan Dave adalah pasangan suami istri?" tanya Darren untuk sekedar memastikan. Bahwa saat ini dirinya tidak salah dengar. "Agna, apa begitu maksud kamu?"
Agna mengangguk dengan lemah. "Iya, mereka adalah pasangan suami istri, dan ternyata selama ini aku sudah mencintai suami orang," sambung Agna lirih.
"Putuskan hubunganmu dengannya, jika kamu tahu kalau Dave adalah suami Miss Kara," kata Darren yang sama sekali tidak terkejut dengan kabar yang laki-laki itu dengar dari bibir sang istri.
__ADS_1
"Apa kamu tidak terkejut sama sekali setelah mengetahui semua ini?" Agna sekarang menatap Darren, karena wanita itu merasa sedikit heran tentang Darren yang terlihat biasa saja. Tidak seperti dirinya yang begitu shock setelah tahu apa status Kara dan Dave.
"Tidak, dan untuk apa aku harus terkejut? Bukankah ini kabar yang sangat luar biasa sehingga kamu tidak akan menuduh aku lagi menjadi kekasih pujaan hati Miss Kara." Darren menjawab seperti itu karena ia sudah sangat bosan mendengar Agna yang menuduhnya menjadi kekasih Kara. Sehingga membuat Darren yang tahu tentang kabar ini merasa benar-benar sangat senang sekali, bukan merasa kecewa ataupun sebagainya. "Lagipula jodoh tidak ada yang tahu 'kan, jadi aku sangat berharap kamu menerima kenyataan yang mungkin saja membuatmu merasa sangat kecewa ini."
"Aku ngantuk, jangan membahas mereka lagi karena kupingku terasa panas," ucap Agna yang sekarang terlihat menghapus air matanya. "Mau mereka sudah menikah, punya anak banyak. Aku tetap tidak akan peduli." Agna mengatakan itu hanya sebagai kalimat penenang hatinya. Tetapi Agna salah rupanya hatinya tidak semudah itu untuk ditenangkan. Justru sekarang ia malah membayangkan kalau saja Kara dan Dave sedang bercocok tanam.
"Tidak, tidak ... kenapa otakku menjadi mendadak mesum seperti ini?" Agna bertanya di dalam benaknya. "Apa jangan-jangan aku ini sudah ketularan virus si mesum ini?" sambung Agna membatin, ia juga terlihat menatap sang suami.
"Kita tidur saja, jangan pikirkan mereka lagi. Kasihan dedek bayi yang ada di dalam perutmu pasti sudah sangat ngantuk juga." Darren membantu Agna untuk menaikan kaki wanita hamil itu ke atas kasur. "Tidur ya, jangan pikirkan apapun karena saat ini yang terpenting kamu sehat. Untuk masalah Dave maupun Miss Kara anggap saja itu hanya angin lalu." Darren juga terlihat memakaikan Agna kaos kaki. Sebab ia tahu jika saja istrinya itu tidak bisa tidur tanpa kaos kaki. Hal-hal kecil seperti ini Darren tahu karena ia sering melihat Agna tidak bisa tidur jika wanita hamil itu tidak memakai kaus kaki.
"Jangan sok baik." Agna ingin merebut kaos kaki itu dari Darren. Akan tetapi, laki-laki itu tidak membiarkan Agna mengambilnya. "Sini, biar aku pakai sendiri."
"Eleh, ratu apaan? Jika kamu saja masih sering membuat dadaku sesak dan sakit. Itu bukan disebut sebagai laki-laki yang akan meratukan sang istri." Agna lalu terlihat berbayang, membiarkan Darren memasangkan dirinya kaos karena jujur saja saat ini hati wanita itu sedikit merasa senang saat Darren memperlakukannya seperti saat ini. "Jangan lupa matikan lampu kamar ini, cukup kita pakai penerangan lampu tidur saja yang ada di atas nakas," kata Agna.
Darren yang mendengar itu hanya mengiyakan apa yang sang istri katakan.
__ADS_1
"Apa semua wanita hamil seperti Agna ini? Kadang baik, kadang galak dan dia juga jutek," batin Darren.
"Om suami juga harus tidur, besok pagi harus bekerja mencari cuan," celetuk Agna yang sudah memejamkan matanya.
***
Menjelang pagi, Darren merasa jika lengannya terasa kebas karena rupanya Agna malah menjadikan lengan laki-laki itu sebagai bantal.
"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa juga Agna malah menjadikan lenganku bantal," gumam Darren pelan sambil berusaha memindahkan kepala Agna dari lengannya dengan sangat hati-hati sekali, karena Darren takut jika saja nanti wanita hamil itu malah akan bangun, Agna juga nanti pati akan marah-marah pada Darren. "Bangunin nanti dia akan mar–" Kalimat Darren menggantung di udara hanya karena laki-laki itu melihat mata Agna yang mengerjap beberapa kali, laki-laki itu juga langsung saja memejamkan mata supaya Agna tidak tahu kalau dirinya sudah terbangun.
"Oham ... aku masih sangatlah ngantuk sekali, tapi aku baru mengingat kalau aku ini harus terbiasa bangun pagi-pagi sekali." Agna masih saja memejamkan mata meskipun ia berkata seperti itu. Ia juga tidak menyadari kalau dirinya saat ini tidur di legan sang suami. "Ayo Agna kamu harus bangun," ucap Agna yang menyuruh dirinya untuk bangun. Akan tetapi, pada saat ia membuka mata alangkah terkejutnya wanita itu pada saat dirinya melihat bahwa saat ini dirinya malah menjadikan lengan Darren bantal.
"Astaga ... astaga, apa ini?" Agna benar-benar sangat kaget saat ini. Ia juga langsung saja bangun dengan gerakan sangat cepat. "Kenapa aku bisa tidur di lengannya?" Agna lalu terlihat dengan sangat hati-hati sekali turun dari atas ranjang. "Syukurlah dia belum bangun, kalau dia bangun pasti aku akan sangat malu sekali, karena aku tidur di lengannya semalaman." Agna lalu sekarang terlihat melihat wajah Darren. "Dia tampan juga, tapi sayang ... dia sangat mesum," kata Agna yang benar-benar tidak tahu jika saja Darren sudah bangun terlebih dahulu dari tadi.
"Aku harus cuci muka dulu, sebelum laki-laki ini bangun," gumam Agna membatin sambil berjalan ke arah kamar mandi setelah tadi ia sempat mengagumi sang suami. Agna juga saat ini tidak mau jika saja Darren akan bangun. "Kenapa aku mendadak melihatnya menjadi tampan, selama ini kemana saja aku?" sambung wanita itu membatin. Agna juga senyum-senyum sendiri pada saat ia mengingat kalau dirinya tadi malam tidur di lengan sang suami.
__ADS_1
Beda halnya dengan Darren yang saat ini terlihat membuka mata, laki-laki itu juga merasa kalau tangannya tidak bisa berhenti kesemutan gara-gara Agna.
"Kalau aku marah, pasti dia akan marah balik padaku," gumam laki-laki itu pelan pada saat ia melihat Agna sudah menutup pintu kamar mandi itu. Darren juga saat ini terlihat memegang lengannya lalu ia mengibas-ngibaskannya. Berhaeap supaya rasa kebasnya menjadi menghilang. Tapi bukannya rasa kebas itu menghilang melainkan rasa kesemutan pada lengannya malah semakin bertambah. "Akhh, ini semua gara-gara Agna, tapi tidak mungkin aku bisa marah padanya. Mengingat dia adalah singa yang berbulu domba," celetuk Darren yang malah menyamakan sang istri dengan singa.