Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Obat Perang sang


__ADS_3

Terlihat Darren langsung saja keluar dari ruangan operasi dengan langkah terburu-buru, rupanya laki-laki itu memilih untuk tidak ikut kali ini dalam melakuan operasi pada pasiennya padahal tadi laki-laki itu sudah bersiap-siap. Namun, ketika ia masuk ke dalam ruangan itu tiba-tiba saja pikirannya mulai tertuju pada Agna sehingga membuatnya menjadi tidak fokus dan lebih memilih untuk mencari gadis bar-bar itu serta meninggalkan ruangan operasi.


"Dok, apa Anda benar-benar mau pergi?" tanya Lestari yang mengikuti Darren dari belakang.


"Iya Les, sepertinya kali ini aku tidak bisa ikut karena adikku sepertinya tidak pulang ke rumah," jawab Darren yang memberitahu Lestari kalau Agna itu adalah adiknya.


"Adik, bukankah Anda hanya anak satu-satunya?"


Darren mengangguk sambil terus saja berjalan dengan langkah lebar. "Kamu benar Les, aku ini anak satu-satunya. Tapi yang aku maksud itu adalah adik sepupuku. Aku kasihan padanya karena ibu dan bapaknya berpesan kepadaku supaya aku menjaga anak mereka. Sehingga membuatku menjadi panik begini karena tidak biasanya anak itu pergi sampai tidak pulang begini." Darren menjelaskan supaya Lestari tidak curiga, karena laki-laki itu belum siap diketahui status aslinya yang sudah menikah. Apalagi istrinya itu adalah muridnya sendiri membuat Darren merasa harus bisa merahasiakan pernikahannya dengan Agna.


"Oh, pantesan Dokter tadi di ruang operasi terlihat gelisah terus, rupanya ini penyebabnya," kata Lestari yang percaya dengan kalimat Darren. "Ya sudah, semoga adik sepupu Dokter segera ketemu saya hanya bisa membantu do'a." Lestari lalu menghentikan langkah kakinya dan membiarkan Darren pergi.

__ADS_1


"Terima kasih atas doanya Les, sekarang kamu masuk lagi gih. Biar semuanya cepat selesai kasihan Dokter yang lain kalau tidak ada kamu di sana."


"Baik Dok, saya akan masuk lagi ke dalam ruang operasi, tapi sebelum itu saya ingatkan Anda harus hati-hati jangan ngebut-ngebut ini sudah malam." Lestari tersenyum sambil melambaikan tangan pada Darren saat ia mengatakan itu.


Darren hanya merespon Lestari dengan anggukan kecil karena saat ini laki-laki itu memang benar-benar terburu-buru. Disaat dirinya memikirkan dimana keberadaan sang istri saat ini yang belum pulang ke rumahnya, karena selama ini Agna akan selalu memberikannya kabar kalau gadis itu sedang ada di rumah Darren. Namun, kali ini Agna sama sekali tidak mengirimi laki-laki itu pesan sehingga membuat Darren merasa kalau ini semua ada yang tidak beres.


***


Tepat di tengah hutan terlihat sebuah rumah minimalis, disana tempat Agna disekap oleh Lian tidak cuma gadis bar-bar itu saja, rupanya Saras juga dibawa ke sana oleh anak buah Lian.


"Sudah Tuan, Anda mau yang mana berbentuk kapsul atau cairan yang di suntikan pada tubuh?" Anak buah Lian itu terdengar bertanya pada Lian.

__ADS_1


"Kira-kira yang mana lebih akurat dan sudah terbukti?" Lian yang sedang bersandar di tembok terus saja melihat ke arah gadis bar-bar yang saat ini masih saja tidak sadarkan diri. "Katakan Bram, yang mana lebih bagus."


"Kalau menurut saya sih, yang cairan ini Tuan karena saya sendiri sudah membuktikannya." Anak buah Lian yang bernama Bram itu langsung saja memberikan tuannya cairan lengkap dengan jarum suntik.


"Sekarang atau nanti?" tanya Lian hanya untuk sekedar memastikan kapan obat perang sang itu akan baik digunakan.


"Kalau Anda mau sekarang boleh, tapi efek obatnya akan bekerja setelah Anda menyuntikkannya 10 menit," ujar Bram memberitahu Lian.


"Kalau begitu kita tunggu dulu kekasihku bangun, setelah itu baru kita akan menjalankan misi ini." Lian sekarang terlihat mengambil sebotol minuman keras dan meneguknya langsung dari dalam botolnya.


Bram hanya bisa mengangguk, tanda laki-laki itu mengiyakan tuannya. "Kalau begitu apa boleh saya dulu yang bersenang-senang dengan gadis yang satunya lagi, Tuan?"

__ADS_1


Lian mengangguk. "Silahkan kalau dia sudah sadar, tapi kalau masih pingsan masa iya kamu mau meng gauli wanita yang masih tidak sadarkan diri, karena pasti tidak ada sensasinya," kata Lian terkekeh-kekeh. "Tapi itu sih, terserah kamu saja Bram, kalau mau sekarang gas lah." Lian menepuk pundak anak buahnya itu. "Aku kasih tahu kamu juga, kalau dia itu masih perawan belum pernah disentuh oleh pria manapun."


Air liur Bram seketika mau menetes saat laki-laki itu mendengar kalimat Lian. "Baiklah, saya akan menunggu dia sadar di sana saja." Bram lalu terlihat meninggalkan Lian dan segera menuju kamar sebelah, tempat Saras yang juga di sekap.


__ADS_2